Minggu, 20 Maret 2005.
Jawa Madura
Sragen Ingin Jadi Sentra Produksi Beras Organik
Minggu, 20 Maret 2005 | 20:25 WIB
TEMPO Interaktif, Sragen:Pemerintah Kabupaten Sragen mentargetkan daerahnya menjadi sentra produksi beras organik terbesar di Indonesia pada 2010. Daerah ini telah mengembangkan lahan padi organik seluas 1.973 hektare pada akhir 2004. Areal ini merupakan perluasan dari 232 hektare pada 2001, saat pencanangan padi organik di Sragen sebaga menjadi.
Jumlah kelompok tani dan petani organik juga melejit: dari 29 kelompok dengan 639 petani saat program dimulai (2001), menjadi 247 kelompok dengan 1.721 petani pada 2004. Alhasil, jumlah produksi padi organik pun ikut melonjak tajam. Jika pada 2001 dihasilkan 1.187 ton gabah kering giling, tiga tahun kemudian sudah hampir 11 ribu ton gabah kering giling.
Bupati Sragen Untung Wiyono mengaku punya tiga alasan memilih padi organik sebagai kebijakan unggulan. Pertama, untuk melestarikan lingkungan hidup (back to nature), karena padi organik hanya memakai pupuk dan pestisida organik.
Kedua, alasan kesehatan (back to healthy): beras organik lebih sehat karena tak memakai pestisida kimia. Terakhir, alasan pasar (market oriented). Segmen beras organik jelas: kalangan menengah ke atas. Harga jualnya pun di atas beras nonorganik.
Beras organik menthik wangi, misalnya, di PD PAL dijual Rp 4.000 per kg dan di Padi Mulya Rp 5.000. Harga ini sudah terhitung murah. Sebab, harga beras organik impor dari Thailand Rp 19 ribu dan dari Jepang lebih gila lagi: Rp 70 ribu per kg. Harga gabah kering panen organik juga lebih tinggi Rp 100-200 per kg dibanding nonorganik.
Di sisi lain, menurut Kepala Bidang Agrobisnis Dinas Pertanian Sragen, Erwin Sutimin, biaya produksi padi organik juga lebih irit. Sebab, petani bisa memanfaatkan kotoran hewan, jerami padi, dan bahan alami lain, untuk bahan pupuk organik. Pestisida organic pun cukup dibuat dari daun mimba (Azadirachta indica) yang direndam air 24 jam. Air rendaman ini untuk menyemprot hama.
Dari situ, Untung lalu menghitung keuntungan bertani organik. "Dengan biaya Rp 2,2-2,4 juta per ha, bisa dihasilkan Rp 10 juta per ha dalam empat bulan (sekali masa panen)," ucapnya. Perhitungan tadi memakai asumsi tiap hektare sawah menghasilkan padi gabah kering panen 7 ton dengan harga Rp 1.450 per kg (jenis menthik). (Jarot Doso Purwanto)
No comments:
Post a Comment