Cari Berita berita lama

Nasir Tamara: Global TV Alami Perubahan Visi dan Misi

Jumat, 3 Maret 2006.
Nasir Tamara: Global TV Alami Perubahan Visi dan MisiJakarta, 3 Maret 2006 02:06Pendiri Global TV, Nasir Tamara mengakui visi dan misi Global TV telah mengalami perubahan dari semula untuk pendidikan, teknologi dan riset menjadi komersial.

"Perubahan itu sendiri terjadi ketika Dirut Bimantara Yosep Darmasubrata digantikan oleh Harry Tanu (Tanoesoedibyo --Red) yang juga menjadi pemilik saham yang baru," katanya, di Jakarta, Kamis (2/3).

Sebelumnya dilaporkan kantor berita Antara, PT Global Informasi Bermutu (Global TV) menegaskan bahwa pihaknya telah memiliki Izin Prinsip Pendirian Lembaga Penyiaran Televisi Swasta maupun Izin Telekomunikasi Khusus.

Pihak PT Global membantah pernah melanggar ketentuan izin prinsip mengenai isi materi dan sifat siarannya dari awal berdirinya sampai sekarang, kata Siaran Pers dari Manajemen Global TV.

Izin Prinsip Pendirian Lembaga Penyiaran Televisi Swasta itu bernomor 801/MP/PM/1999 pada 25 Oktober 1999 dari Menteri Penerangan saat itu sedangkan Izin Telekomunikasi Khusus No KP 296/2002 tertanggal 23 Oktober 2002 dari Menteri Perhubungan.

Menurut dia, cita-cita semula pendirian Global TV sendiri untuk membuat televisi nasional dan berita yang bermutu setelah adanya pengaruh kuat dari televisi luar seperti CNN dan BBC.

Kemudian, ia mengatakan diciptakanlah nama Global Televisi dengan nama PT-nya, yakni, Global Televisi Bermutu yang artinya bersifat global dan informasi bermutu.

"Pendirian televisi itu sendiri oleh sebuah organisasi yang namanya IIFTIHAR atau `The International Islamic Forum for Science, Technology and Human Resources Development` atau organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan, teknologi dan riset," katanya.

Kemudian ketika memasuki masa transisi (krisis moneter) dengan nilai rupiah yang jeblog mencapai Rp 17 ribu per satu dolar Amerika Serikat, Bimantara menawarkan bantuan teknis dengan mengontak Global Informasi Bermutu.

"Kita saat itu punya modal tapi modal televisi itu harus dibayar dalam bentuk dolar untuk membeli pemancar dan kamera yang harus diimpor," ujarnya.

Ia mengatakan, saat terjadi masa transisi itu, semua perhitungan meleset atau force major hingga menerima tawaran bantuan Bimantara.

"Dia (Bimantara --Red) mengontak kami bagaimana kami juga memiliki cita-cita yang sama dengan anda, kami sudah berpengalaman dalam mengelola RCTI. Lalu kami membuat sebuah perjanjian kerjasama dimana disebutkan keduabelah pihak sepakat untuk menjaga visi dan misi," paparnya.

Hingga, lanjut dia, terjadi perubahan visi dan misi ketika terjadi pergantian direktur utama, dari Dirut Bimantara Yosep Darmasubrata ke Heri Tanoe.

"Sedangkan untuk membicarakan jalur hukum mengenai perubahan visi dan misi itu, maka lebih baik ditanyakan kepada IIFTIHAR," katanya. [EL, Ant]

No comments:

Post a Comment