Cari Berita berita lama

KoranTempo - Dirgantara Indonesia Dan Malaysia Bentuk Konsorsium Pembuatan Pesawat

Senin, 2 Pebruari 2004.
Dirgantara Indonesia Dan Malaysia Bentuk Konsorsium Pembuatan PesawatBANDUNG - PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Malaysia sepakat menjajaki pasar potensial pesawat baling-baling (propeler) N-219 hasil ciptaan Konsorsium ASEAN di masing-masing negara. Konsorsium akan memulai program pengembangan pesawat berpenumpang 19 orang.

Direktur Niaga dan Pengembangan Usaha DI Iwan W. Soemekto mengatakan, kesepakatan penjajakan itu dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangi oleh keduabelah pihak, Kamis (29/1) pekan lalu. Malaysia diwakili oleh General Manager Composite Technology Research Malaysia (CTRM) Aviation Anuar Ghazali.

Menurut dia, kerjasama itu, yang kemudian disebut dengan Joint Working Group Indonesia - Malaysia , akan memulai kegiatan survei pasar pesawat commuter regional dunia yang dioperasikan, baik sebagai pesawat penumpang maupun misi-misi khusus, seperti militer, kargo, evakuasi medis.

"Survei pasar ini akan dilakukan oleh salah satu market research house yang sudah memiliki reputasi internasional untuk pelaksanaan survei semacam itu," kata dia kepada Koran Tempo di Bandung, akhir pekan lalu, "penunjukannya dilakukan oleh kedua pihak dan pertengahan Februari sudah mulai bekerja".

Iwan menjelaskan, kerjasama dengan pemerintah Malayasia itu merupakan bagian dari pembentukan konsorsium ASEAN. Dalam konsursium yang akan membuat pesawat baling-baling ini juga nantinya bergabung Thailand dan Brunei Darussalam. Investasi membangun pesawat N-219 hanya membutuhkan dana US$ 50-80 juta (sekitar Rp 425-680 miliar). Dirgantara dan CRTM akan menjadi tim pelaksana pembentukan konsorsium.

Pesawat bermesin ganda itu akan dikembangkan sebagai pesawat pengangkut perintis atau melayani daerah-daerah yang baru memiliki bandar udara kecil. Pasalnya, ke depan pasar pesawat untuk jenis ini di kawasan Asia Tenggara cukup bagus. Pesawat akan dijual dengan harga US$ 2,5-3 juta (sekitar Rp 21,25-25,5 miliar). "Harga pesawat juga cukup kompetitif, sehingga pasti punya pasar yang bagus," ujarnya.

Iwan menjelaskan, untuk mempertajam hasil dari survei itu, Dirgantara dan Malaysia juga akan melakukan survei langsung ke perusahaan penerbangan di masing-masing negara. Tujuannya, untuk mengetahui secara langsung prospek pemasaran pesawat itu. Kerja sama ini juga akan diperlebar hingga ke Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam dan Philipina.

Kegiatan survei pasar, diperkirakan akan memakan waktu antara dua hingga tiga bulan. Sehingga akhir pada April atau pertengahan Juni mendatang sudah dapat diperoleh rekomendasi untuk memulai pelaksanaan program pengembangan pesawat N-219. "Survei juga untuk melihat pasar potensial untuk pesawat penumpang dengan penumpang hingga 70 orang," kata Iwan.

Iwan menambahkan, penandatanganan MoU untuk pelaksanaan ASEAN Aircraft Project itu merupakan salah satu landasan penting untuk memulai pembentukan Konsorsium ASEAN. Pembentukan konsorsium ini sendiri didasari oleh pemikiran strategis untuk mensinergikan semua sumber daya di Asia Tenggara.

"Dalam jangka panjang Konsorsium ASEAN ini dapat menjadi salah satu kekuatan baru dalam industri pesawat terbang global yang selama ini hanya dikuasai produsen-produsen pesawat terbang Eropa dan Amerika Serikat," katanya, "sekaligus untuk memproteksi pasar ASEAN yang sangat potensial".

Baik Dirgantara dan Malaysia melihat bahwa Konsorsium ASEAN ini dapat menjadi wahana kerjasama ekonomi yang berbasis komersial antar perusahaan-perusahaan di kawasan Asia Tenggara, baik pembuat pesawat maupun komponennya. "Kita mengusulkan kepada Sekretariat Jenderal ASEAN agar proyek pesawat terbang ini bisa dipromosikan menjadi salah satu inisiatif dalam menggalang kerjasama ekonomi regional," ujar Iwan.

PT Merpati Nusantara Airlines merupakan salah satu maskapai penerbangan nasional yang mulai melirik pesawat N-219 itu. Menurut Presiden Direktur Merpati Hotasi Nababan, pesawat jenis itu sangat cocok dengan rencana Merpati untuk memperkuat penerbangan perintis di Indonesia. "Kita akan kerjasama dengan pemerintah daerah untuk membuka rute-rute perintis baru," katanya beberapa waktu lalu. rinny srihartini/ss kurniawan

No comments:

Post a Comment