Cari Berita berita lama

Republika - Penderita Parkinson Butuh Dukungan

Senin, 14 Mei 2007.

Penderita Parkinson Butuh Dukungan












Pria berusia 60 tahun ini didiagnosis menderita penyakit parkison saat memasuki masa pensiun, sekitar enam tahun lalu. Ketika memulai terapi, ia patuh mengkonsumsi obat dari dokter. Semangat ingin cepat sembuh membuat ia melangkah 'lebih jauh'. Atas inisiatif sendiri, ia padukan pengobatan dokter dengan beberapa pengobatan alternatif. Dan salah satu pengobat alternatif memintanya menghentikan minum obat. Ia menuruti permintaan itu. Apa yang terjadi kemudian? Bukannya cepat sembuh, penyakitnya malah lebih parah. Pria itupun lumpuh. Tak ada pilihan lain, dia mesti kembali lagi berobat ke dokter. Proses pengobatan terpaksa dimulai lagi dari awal. Kini, alhamdulillah, kondisinya membaik seperti saat-saat awal didiagnosis parkinson. Lain lagi dengan kondisi penderita parkinson lainnya yakni wanita setengah baya berusia sekitar 50 tahun. Wanita ini tampak gagah, tanpa keluhan yang berarti. Namun sekali waktu, ia mengeluh sering merasa tubuhnya tidak nyaman. Tangan kadang-k!
adang terasa kaku. Setiap kali merasa tubuhnya tidak enak, dia memeriksakan diri ke dokter. Anehnya, dokter yang memeriksa tidak menemukan penyakit yang mengganggu. Sampai suatu kali, suaminya berkomentar,''Itu hanya perasaanmu saja, terlalu manja.'' Komentar sang suami tak membuatnya tenteram. Sebaliknya, ia tetap bersemangat mendatangi dokter ahli syaraf. Oleh salah seorang dokter syaraf, ia divonis menderita gangguan syaraf dan diminta menjalani operasi syaraf vertebra (bagian belakang leher). Dokter itu bilang, jika tidak dioperasi, penyakitnya akan semakin parah. Tak puas dengan pemeriksaan itu, ia terbang ke Singapura untuk memeriksakan diri di sebuah rumah sakit di negeri singa itu. Nah, oleh dokter di Singapura inilah, ia dinyatakan terkena parkinson. Pengalaman dua penderita parkinson ini terungkap dalam seminar dan edukasi bagi penyandang parkinson serta keluarga di Jakarta, April lalu. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Peduli Parkinson Indonesia (YPPI) b!
ekerja sama dengan Novartis Indonesia dalam rangka memperingat!
i hari p
enyakit parkinson se-dunia. Selain seminar, digelar pula serangkaian kegiatan berupa senam parkinson, sambung rasa dari penyandang penyakit parkinson dan care givers atau keluarga, serta pembagian selebaran di jalan tentang penyakit parkinson. Ketua YPPI, dr Banon Sukoandari SpS menuturkan, tema peringatan tahun ini adalah 'Beri Kesempatan'. Ini bertujuan mendorong para care givers dan keluarga penyandang penyakit parkinson untuk memberi dukungan kepada para penderita parkinson agar mereka tetap dapat meningkatkan kualitas hidup dan tidak menjadi putus asa. Neurologik kronik Parkinson adalah penyakit neurologik kronik progresif yang telah diderita oleh 1,5 juta orang Amerika. Walau penyebabnya belum diketahui, namun gejala penyakit ini merupakan akibat dari degenerasi sel dopaminergik atau sel syaraf pada substansia nigra, sebuah bagian dari otak yang mengontrol dan mengatur gerakan tubuh. Gejala-gejala parkinson antara lain: otot bergetar (tremor), gerakan yang melambat (!
bradikinesia), kekakuan otot (rigiditas) anggota gerak, dan gangguan berjalan atau masalah keseimbangan. Sejalan dengan perjalanan penyakit, gejala-gejala ini biasanya meningkat dan memengaruhi kemampuan pasien untuk bekerja dan menjalankan fungsinya. Banon menuturkan, kurangnya pengetahuan mengenai penyakit ini kerapkali membuat para pasien merasa tidak berdaya. ''Kami berharap, kegiatan semacam ini bisa meningkatkan pemahaman di kalangan penyandang penyakit parkinson dan keluarganya mengenai penyakit ini dan pengobatan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup mereka,'' katanya. Penyandang penyakit parkinson, tutur dokter spesialis syaraf ini, juga perlu memahami mengenai kemungkinan munculnya kembali gejala penyakit parkinson setelah beberapa lama menggunakan suatu jenis pengobatan. Hal ini terjadi karena durasi dari manfaat yang diperoleh dengan dosis pengobatan yang digunakan secara perlahan-lahan akan berakhir. Dalam hal ini, kontrol terhadap gejala penyakit park!
inson tidak akan berlangsung sampai tiba waktunya penggunaan d!
osis ber
ikut, atau tidak sampai pada saat dosis yang baru mulai bekerja. Banon mengatakan, pada pasien yang mengalami kembali gejala motorik penyakit parkinson, maka terapi kombinasi yaitu Levodopa, Carbidopa, dan Entacapone dapat membantu efektivitas terapi Levodopa secara signifikan. Terapi ini juga dapat meningkatkan kemampuan penyandang parkinson untuk mengontrol gerakan-gerakan tubuh dan kemampuan melakukan fungsi dasar seperti berjalan dan berpakaian untuk waktu yang lebih lama dibandingkan jika hanya mengkonsumsi jenis pengobatan Levodopa. Selain itu, dianjurkan bagi para keluarga dan care givers untuk terus-menerus mendukung dan memotivasi para penyandang parkinson agar mau melakukan beberapa jenis terapi, antara lain: terapi wicara, terapi berjalan, juga terapi okupasi dan bekerja. ''Dengan sudah diperkenalkannya senam parkinson di Indonesia, kami berharap para keluarga dan care givers juga dapat mempelajarinya dan membantu para penyandang parkinson untuk berlatih dengan b!
enar secara teratur,'' demikian Banon.
(bur )

No comments:

Post a Comment