Cari Berita berita lama

Republika - Industri Gula Butuh Tambahan Investasi Rp 8,171 T

Kamis, 28 Juni 2007.

Industri Gula Butuh Tambahan Investasi Rp 8,171 T












JAKARTA -- Industri gula nasional membutuhkan tambahan investasi Rp 8,171 triliun hingga tahun 2009. Tambahan investasi ini antara lain diperuntukkan bagi penambahan luas areal tanam tebu, peningkatan kapasitas produksi serta rehabilitasi pabrik gula (PG), dan pendirian 4 PG baru. Deputi bidang usaha agroindustri, kehutanan, kertas, percetakan, dan penerbitan Kementerian Negara BUMN, Agus Pakpahan, menuturkan untuk mencapai swasembada gula pada tahun 2009, industri gula di dalam negeri perlu menambah kapasitas produksi 1 juta ton dalam tiga tahun ke depan. ''Selain dari pabrik yang sudah ada saat ini, kita masih perlu mendirikan pabrik gula baru yang berkapasitas 15 ribu ton tebu per hari (TCD),'' jelas Agus di Jakarta, Selasa (26/6). Agus menerangkan, untuk tahun 2007 jumlah investasi yang dibutuhkan untuk perluasan lahan perkebunan tebu dan rehabilitasi serta peningkatan kapasitas produksi PG mencapai Rp 532,17 miliar. Sementara untuk tahun 2008 sebesar Rp 2,14 tril!
iun dan di 2009 sebesar Rp 1,21 triliun. Sedangkan untuk pendirian 4 PG baru hingga tahun 2009 dibutuhkan investasi sebesar Rp 4,2 triliun. Keempat PG baru tersebut terdiri dari PG Benculuk (kapasitas 8.000 TCD), PG IGN (2.500 TCD), PG Kabupaten Belu, NTT (10.000 TCD), dan PG Jabar Selatan (5.000 TCD). Dengan tambahan investasi tersebut diharapkan produksi gula nasional pada tahun 2009 akan mencapai 3,52 juta ton. Produksi tersebut antara lain sebesar 2,6 juta ton dari produksi gula milik BUMN, 778 ribu ton dari produksi pabrik gula swasta, dan 135 ribu ton dari pabrik gula baru yang didirikan. Namun demikian peningkatan produksi gula nasional dari 2,31 juta ton di 2006 menjadi 3,52 juta ton pada 2009, diakui Agus, belum bisa memenuhi kebutuhan konsumsi domestik yang mencapai 4 juta ton per tahun. ''Upaya ini perlu mendapat dukungan kebijakan investasi, jaminan areal dan deregulasi perundangan, termasuk pembatasan pabrik gula rafinasi yang berbahan baku gula mentah impor,'!
' tandasnya. Sementara itu sejumlah industri gula nasional ber!
encana m
enambah investasi mereka, baik di hulu (perkebunan tebu) maupun di hilir (pabrik pengolahan gula). Mereka antara lain PTPG Rajawali I sebesar Rp 88 miliar, PTPG Rajawali II sebesar Rp 165 miliar, dan PTPN X sebesar Rp 950 miliar. Dirut PTPG Rajawali I, Agus Purnomo, menuturkan tambahan investasi Rp 88 miliar tersebut ditujukan untuk peningkatan kapasitas produksi dari saat ini sebesar 17.500 TCD menjadi 19.000 TCD. ''Ini akan kita bagi dalam dua tahap, masing-masing Rp 60 miliar di 2007 dan Rp 28 miliar di 2008,'' ujarnya. Sedangkan Direktur Produksi PTPN X, Suryo Handoko, menuturkan dari total tambahan investasi Rp 950 miliar, sebesar Rp 550 miliar dialokasikan untuk tahun ini dan sisanya Rp 400 miliar untuk 2008. Kebutuhan investasi ini, tambah dia, sekitar Rp 150 miliar akan didanai oleh perseroan, sedangkan sisanya diperoleh dari menghimpun dana perbankan. ''Dengan harapan pada 2009 kita sudah bisa meningkatkan kapasitas giling menjadi 45 ribu TCD dari tahun lalu sebesar!
33 ribu TCD,'' paparnya. Dalam kesempatan sama, Senior Vice President Bank Mandiri Sunarso, mengungkapkan sampai dengan akhir April 2007, pihaknya telah menyalurkan kredit ke sektor perkebunan (on farm) sebesar Rp 13,8 triliun. Sementara untuk industri turunan perkebunan dan perdagangan (off farm) sebesar Rp 8,1 triliun. Dari seluruh portfolio perkebunan Bank Mandiri, kata Sunarso, industri tebu dan industri/perdagangan turunannya memiliki pangsa 2,4 persen atau sebesar Rp 520 miliar. ''Hingga akhir 2007 kita targetkan bisa menyalurkan kredit ke perkebunan dan industri tebu mencapai Rp 1 triliun,'' tandasnya. dia Fakta Angka 2,31 Juta Ton Produksi gula nasional di tahun 2006. 3,52 Juta Ton Target produksi gula nasional di tahun 2009.
( )

No comments:

Post a Comment