Cari Berita berita lama

KoranTempo - Sepenggal Kisah Dibalik Pembebasan Sandera

Rabu, 19 Mei 2004.
Sepenggal Kisah Dibalik Pembebasan SanderaProses pelepasan ratusan sandera Gerakan Aceh Merdeka di Langsa, Aceh Timur, dua hari lalu, rupanya menyimpan sepenggal kisah menarik. Seperti yang diceritakan Nezar Patria, wartawan Tempo, yang juga ikut sebagai anggota tim negosiator. Proses pelepasan Ferry awalnya berlangsung cukup lancar. Setelah diundur dua hari dari jadwal semula, Kamis (13/5), pada Sabtu (15/5), 22 sandera sipil menjadi rombongan pertama sandera yang diijinkan GAM meninggalkan wilayah mereka. Keesokan harinya, suasana sedikit tegang ketika Ishak Daud meminta perpanjangan satu hari waktu gencatan senjata dari yang seharusnya berakhir Minggu (16/5) pukul 18.00 wib.

Permintaan perpanjangan itu awalnya ditolak pihak TNI. Negosiasi berlangsung alot. Masing-masing pihak bersikeras dengan pendiriannya. Gotzon Onandia Zarrade, relawan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) akhirnya meminta Ishak mengijinkan Ferry "dipinjam" untuk ditunjukkan pada Penguasa Darurat Militer Daerah Mayjen TNI Endang Suwarya.

Ketika itulah, tim negosiator jurnalis, selain Nezar, Sholahuddin (AJI), Imam Wahyudi (Wapemred RCTI), Munir (RCTI), Nani Afrida (The Jakarta Post), dan Husni Arifin (Republika) menawarkan tetap tinggal di gunung bersama GAM, sebagai jaminan ICRC dan Ferry untuk kembali keesokan harinya. Inisiatif itu, kata Nezar, diambil karena negosiasi ketika itu nyaris deadlock. Ishak pun setuju.

Minggu sore, Ferry kembali ke Langsa, Aceh Timur. Situasi di markas GAM pun tetap tenang sampai menjelang tengah malam, terjadi perkembangan yang luar biasa. "Ada isu yang sampai ke telinga Ishak Daud, bahwa tidak kembalinya tim jurnalis dianggap TNI sebagai barter sandera," kata Nezar. Di Langsa, memang beredar kabar bahwa Endang Suwarya hanya menyetujui perpanjangan deadline sampai Senin (17/5) pukul 05.00 pagi. "Ishak marah besar," kata Nezar. Beberapa kali, Ishak berkonsultasi dengan pimpinan GAM di lokasi lain

"Kami langsung disuruh bersiap-siap pindah lokasi," tutur Nezar. Keenam jurnalis yang sukarela menginap di markas GAM, dipisahkan dan dikawal masing-masing sepuluh tentara GAM. Mereka diminta naik ke kawasan pegunungan yang lebih tinggi. "Sebelumnya, kami diberi briefing, apa yang harus kami lakukan kalau terjadi kontak tembak," kata Nezar. Suasana tegang. "Di kepala yang terbayang kami sudah jadi Ferry kedua, ketiga, keempat sampai keenam," katanya pelan.

Pada saat bersamaan, puluhan wartawan di Langsa ternyata juga bergerilya. Mendengar kabar TNI menolak perpanjangan gencatan senjata, mereka beramai-ramai mendatang Kodim Aceh Timur, menemui Endang Suwarya. Ada yang mendekati Ketua Palang Merah Indonesia Mari'e Muhamad, Panglima Komando Operasi Militer di Aceh Brigjen George Toissuta dan simpul-simpul pengambil keputusan lainnya. Terjadi perdebatan sengit di antara tim negosiator pemerintah, TNI, PMI dan ICRC sampai akhirnya Endang Suwarya mengambil keputusan drastis. Endang setuju deadline gencatan senjata diundur sampai Senin pukul 24.00," kata Nezar.

Begitu kabar itu sampai ke telinga Ishak Daud, pada pukul 04.00 keenam jurnalis tim negosiator dikembalikan ke titik pelepasan sandera di Desa Lhok Jok, Peudawa. Pukul 09.00 seperti rencana, Gotzon dan Ferry sudah tiba di tempat yang dijanjikan. Secara bertahap, 133 sandera sipil lain yang dikumpulkan dari tiga titik penjemputan. Pukul 14.00 diadakan upacara peusijuk untuk melepaskan semua sandera. wahyu d

No comments:

Post a Comment