Cari Berita berita lama

Tempointeraktif.com - Munim Idris: Racun Arsen Jarang Ditemukan Dalam Kasus Forensik

Sabtu, 13 November 2004.


Munim Idris: Racun Arsen Jarang Ditemukan Dalam Kasus Forensik
Sabtu, 13 November 2004 | 13:29 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Racun arsen sebagai upaya pembunuhan jarang digunakan. Selain karena tidak bisa hilang dalam rentang waktu tahunan, juga mudah teridentifikasi. "Pelakunya cerdik, sebab kasus arsen jarang terjadi," ujar ahli forensik dari RS Cipto Mangunkusumo, Munim Idris, kepada Tempo, Sabtu (13/11).

Dalam pengalamannya sebagai dokter forensik selama 30 tahun, Munir adalah kasus kedua orang Indonesia yang diketahui dalam tubuhnya mengandung arsenik yang melebihi ambang batas. Kasus pertama terjadi tahun 1990. Korbannya saat itu adalah bos dari perusahaan elektronik Belanda. Saat itu, ujarnya kasusnya sudah sampai di pengadilan sebagai percobaan pembunuhan, tapi terdakwanya dibebaskan. "Malah saya yang dituntut pencemaran nama baik," ujarnya. Dia yang melakukan visum atas korban tersebut.

Korban sendiri selamat setelah dirawat di Singapura selama empat bulan. "Dalam waktu empat bulan itu kami baru menemukan arsenik di kuku korban," ujar Munim. Koleganya di Singapura yang ikut merawat bos perusahaan elektronik itu pun baru menemukan arsenik selama 20 tahun karirnya di forensik.

Zat arsenik, ujar Munim, mudah ditemukan dalam rambut dan kuku korban yang terkena keracunan zat tersebut. Karena tidak ada dalam tubuh itulah, zat tersebut bisa relatif lebih lama diidentifikasi dalam proses otopsi. "Biasanya penyelidikan adanya arsenik dilakukan terakhir, setelah sianida, narkotika, dan obat tidur," ujar Munim. Mungkin, ujarnya, pemeriksaan terhadap jenazah Munir relatif lama karena prosedur pemeriksaan tersebut.

Bahkan, ujar Munim, Napoleon Bonaparte baru dicurigai meninggal karena zat arsenik ratusan tahun kemudian. Tahun 2000, setelah kaisar Perancis itu meninggal 5 Mei 1821 di Pulau Helena, Atlantik Selatan, ahli patologi kriminal Prancis menemukan unsur arsenik tertempel di rambut Napoleon. Level arsenik yang ditemukan 7-38 kali lebih tinggi dari jumlah yang normal. "Itu kronis. Pelan-pelan menumpuk dalam tubuh Napoleon," ujar Munim.

Karena itu, ujar Munim, untuk kasus Munir harus diketahui apakah zat arsen itu kronis atau akut. Bila akut, ujar Munim, kejadiannya cepat dengan dosis yang tinggi. Sementara bila kronis, arsen masuk dengan dosis rendah namun dengan waktu yang lama. Hal ini, ujar Munim, penting untuk mengetahui dimana tempat kejadian arsen masuk ke tubuh Munir. "Kalau akut berarti cepat, bisa di sekitar bandara dan pesawat," ujarnya. Kalau kronis, tambahnya, maka harus dilihat lagi beberapa gejala ke belakang selama Munir masih hidup. Biasanya, penentuan kronis atau akut bisa dilihat dalam laporan hasil otopsi berupa cara meninggalnya Munir.

"Tapi kalau dilihat gejala sebelum meninggal, akut, sebab tiba-tiba," ujarnya. Dia melihat gejala itu datang mendadak dengan muntah, mual dan gangguan pencernaan lain. "Itu khas," ujarnya.

Namun, kata dia, keluarganya dan orang dekat juga harus membantu mengenali apakah dalam beberapa waktu sebelumnya terdapat kelainan kulit pada Munir atau rambut rontok serta gejala gangguan pencernaan yang tiba-tiba. Gejala ini merupakan gejala masuknya arsen secara perlahan-lahan atau dalam situasi kronis. Arsen sendiri, katanya mudah didapat di toko bahan kimia, sebab menjadi bahan dasar untuk membuat racun seperti racun tikus.

Yophiandi?Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :

No comments:

Post a Comment