Selasa, 29 April 2003.
"Bersaksi Di Tengah Badai" Bukan Buku Putih WirantoJakarta, 29 April 2003 00:08Mantan Menhankam/Pangab Jenderal (purn) Wiranto menegaskan buku ketiganya berjudul "Bersaksi Di Tengah Badai", bukan merupakan buku putih atas beberapa peristiwa nasional penting yang melibatkan dirinya selama periode 1997 hingga 2001.
"Bukan. Saya hanya menyampaikan hal-hal yang saya pikir, saya lihat, saya rasakan, dan saya ikuti selama periode tersebut," katanya, dalam jumpa pers berkaitan dengan peluncuran buku setebal 348 halaman itu di Jakarta, Senin.
Ia mengatakan, jika terdapat perbedaan dengan informasi yang pernah ada maka itu sah-sah saja karena ada perbedaan sudut pandang. "Tetapi pendapat dan pandangan saya juga harus dihormati, meski berbeda dengan pendapat atau informasi yang lain," ujarnya.
Buku "Bersaksi di Tengah Badai" lanjut Wiranto, tidak saja berisi peristiwa nasional penting yang hanya menyangkut pribadi mantan Menko Polkam tersebut, tetapi juga bertutur tentang berbagai hal yang menyangkut masalah kenegaraan, kebangsaan, sosial dan politik.
Jadi tidak benar jika buku tersebut merupakan buku putih Wiranto dalam menjalankan perannya selama periode 1997 sampai 2001.
Wiranto mengemukakan, buku ketiganya itu merupakan `pengingat` baik bagi pemerintah maupun masyarakat Indonesia untuk kembali kepada semangat saat angin reformasi dihembuskan, dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan bangsa yang kini tengah melanda Indonesia.
Buku ini bukan sekedar untuk mencari popularitas, tetapi lebih sebagai `pengingat` baik bagi pemerintah atau masyarakat untuk dapat mewujudkan Indonesia yang lebih demokratis, adil dan aman.
"Kalau ada perbedaan, bukan berarti penulis bermaksud untuk menyeret, melecehkan atau merendahkan pihak lain, karena tidak ada kebenaran yang absolut. Benar menurut saya, belum tentu benar menurut orang lain," katanya.
Sebagaimana dituturkan tim penulis, buku "Besaksi di Tengah Badai" bermaksud memberikan kesaksian melalui penyampaian pikiran, tindakan dan pemahaman Wiranto semasa pemerintahan Soeharto, Habiebie dan Abdurahman Wahid (Gus Dur).
Semua peristiwa politik nasional seperti peranan Wiranto pada pergantian pemerintahan pada 1998 dan rivalitas kepemimpinan nasional di era pemerintahan Habibie, diuraikan apa adanya berdasarkan fakta, data dan kesaksian yang menyakinkan.
Secara keseluruhan buku ini dibagi ke dalam tiga bagian.
Bagian pertama, mengangkat peristiwa-peristiwa seputar pergantian kekuasaan menjelang berakhirnya rezim Orde Baru. Bagian kedua, berisi tentang catatan-catatan politik di masa pemerintahan Habibie, dan bagian ketiga menggambarkan tentang pengalaman politik dalam pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Buku ini juga memuat sketsa sisi kehidupan, sosok pribadi Wiranto serta penggalan-penggalan komentar dari sejumlah kalangan baik dalam maupun luar negeri. [Edo, Ant]
No comments:
Post a Comment