Cari Berita berita lama

Republika - Merias Pengantin Sesuai Syariat Islam

Minggu, 1 Oktober 2006.

Merias Pengantin Sesuai Syariat Islam






Belum banyak perias pengantin yang memahami bagaimana memperlakukan pengantin secara Islami.





Perias pengantin memang bukan profesi yang langka. Bagaimana dengan perias pengantin khusus muslim? Harus diakui, belum banyak orang yang mengkhususkan diri menjadi perias pengantin khusus muslim. Sebaliknya, yang kerap kita jumpai adalah perias pengantin konvensional namun menerima order merias pengantin muslim. Jika diperhatikan, terkadang mereka belum memahami bagaimana memperlakukan pengantin secara Islami. Mereka masih memasang sanggul, mengerok alis mata, atau memasang bulu mata palsu. Melihat kenyataan ini, Sri Repsa Khanifati, merasa terpanggil untuk terus menekuni bidang rias pengantin muslim. ''Kasihan juga jika pengantin muslimah tapi dipegang oleh orang yang bukan ahlinya, apalagi jika periasnya pria, itu kan bukan muhrim,'' tutur wanita yang akrab disapa Aniefa ini. Pilihan profesi ibu enam anak ini bukanlah dadakan. Aniefa memiliki latar belakang pendidikan yang sangat mendukung prosefinya kini. Ia adalah lulusan Akademi Kesejahteraan Keluarga (AKK) Yog!
yakarta Jurusan Tata Rias. Ia menamatkan kuliahnya pada tahun 1991, namun ide untuk menjadi perias pengantin muslim baru muncul lima tahun kemudian, atau tepatnya pada 1996. Ide itu pun muncul secara tak sengaja. Kala itu, perempuan asal Kota Gede, Yogyakarta, ini mendapat tugas sebagai penanggungjawab pernikahan kakaknya yang sehari-hari mengenakan busana muslimah. Saat itu, Aniefa teringat pada busana pengantin yang ia kenakan saat menikah pada tahun 1991. Aniefa ingat benar, ia sendiri yang memodifikasi kerudung pengantin yang ia kenakan saat itu. Maka, hal serupa ia lakukan pada busana pengantin sang kakak. Ide rancangan itu kemudian ia sampaikan kepada pembuat busana pengantin. ''Hasilnya cukup memuaskan dan sesuai dengan selera saya,'' ujarnya. Dari situlah, Aniefa yang setelah menikah diboyong suaminya ke Jakarta, merasa mantap untuk menekuni profesi perias pengantin muslim. Pada masa-masa awal menekuni profesi ini, wanita yang hobi berenang ini mengaku cukup bingun!
g. Sebab, tidak ada referensi ataupun panduan tentang bagaiman!
a sesung
guhnya merias pengantin muslim. Keadaan ini mengharuskannya untuk berkreasi sendiri membuat busana pengantin berikut tata riasnya. ''Alhamdulillah, kreasi saya itu bisa diterima sampai sekarang.'' Takut dilaknat Allah Salah satu kreasi Aniefa adalah menyulap hiasan dari pandan dan melati menjadi mirip sanggul untuk menutup kerudung. Trik-trik ini harus dilakukan, karena istri dari Fajri Gumay ini pantang memasang sanggul, rambut palsu, bulu mata, dan mengerok alis. ''Saya tidak mau kalau setiap merias dilaknat Allah. Makanya, saya tidak mau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat Islam,'' papar pemilik usaha 'Aniefa Salon' ini. Selain merias pengantin, Aniefa yang kini memiliki dua salon muslimah, menyediakan pula busana pengantin muslimah. Pilihannya beragam, mulai dari busana pengantin muslim bernuansa adat, modifikasi, sampai modern. Sepuluh tahun menekuni dunia rias pengantin, Aniefa mengaku hampir tidak menemui kendala berarti. ''Enak lho merias pengantin m!
uslim, nggak ribet. Simple, nggak ada acara aneh-aneh, yang penting akad dan perayaan,'' tambah anak keempat dari enam bersaudara ini. Aniefa berpendapat, profesi ini jarang peminat karena harus kerja ekstra. Beberapa rekannya yang berminat menekuni profesi ini, akhirnya mundur karena tidak bisa meninggalkan anak-anak dan keluarga. Maklum saja, kata Aniefa, para perias pengantin biasanya bekerja saat orang sedang libur. Berangkat sebelum Subuh, baru pulang malam hari. ''Malah, kalau besoknya juga ada order, sejak Subuh sudah harus berangkat lagi.'' Tahapan ini dilalui Aniefa dengan mulus. Boleh jadi, hal ini karena ia mendapat dukungan penuh dari keluarga, terutama suami dan ibundanya. Malah, sang suami sering ikut turun tangan membantu pekerjaannya. ''Biasanya bagi-bagi tugas, saya pegang pengantin perempuan, suami pegang pengantin pria. Suami saya mahir lho memakaikan jarik (kain batik panjang),'' katanya bangga. Di tengah kesibukannya, Aniefa masih memiliki waktu berm!
ain dengan anak-anak. Bahkan, seringkali ia mengajak anak-anak!
nya ke '
tempat tugasnya'. ''Sekalian mengajak liburan, apalagi kalau perayaannya di hotel, anak-anak bisa berenang.'' Walaupun sangat menikmati profesinya, masih ada satu obsesi Aniefa yang hingga saat ini belum terwujud. Ia ingin membentuk wadah khusus perias pengantin muslim. Wadah ini sangat dibutuhkan dan tentu banyak manfaatnya. Hanya saja, menurutnya, wadah ini masih sulit terwujud mengingat jumlah perias pengantin muslim yang masih sangat sedikit. Selain merias pengantin, Aniefa mengembangkan jaringan bisnisnya dengan membuka salon khusus muslimah. Sudah dua salon muslimah ia miliki, masing-masing berlokasi di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dan di Jalan Margonda Raya, Depok. Untuk mengelola dua tempat usaha ini, Aniefa mempekerjakan 16 karyawati, beberapa di antaranya ia percaya sebagai asisten khusus merias pengantin. Nah, Anda berminat mengikuti jejak Aniefa? Nama pemilik : Sri Repsa Khanifati Tempat tanggal lahir : Yogyakarta, 25 Januari 1968 Status : Menikah S!
uami : Fajri Gumay Pendidikan : Lulusan Jurusan Tata Rias AKK Yogyakarta Nama Usaha : Aniefa Salon
(vie )

No comments:

Post a Comment