Cari Berita berita lama

Republika - Keajaiban Dunia Tanpa Borobudur

Rabu, 11 Juli 2007.

Keajaiban Dunia Tanpa Borobudur






... Borobudur candi yang paling megah, salah satu Tujuh Keajaiban Dunia





Bait lagu berjudul 'Borobudur' itu sangat melekat dalam ingatan anak-anak era 1980-an. Kita pun meyakininya hingga kini. Betulkah candi yang terletak di Magelang, Yogyakarta, masuk dalam Tujuh Keajaiban Dunia? Bahwa arsitektur Borobudur membuat kita terpesona, seperti halnya kuil Angkor Wat di Kamboja, memang tak perlu diragukan. Namun, jutaan penduduk bumi ternyata punya pendapat sendiri soal Tujuh Keajaiban Dunia yang 'sesungguhnya'.
Semuanya bermula pada Januari 2007. Inilah ketika sebuah lembaga privat berbasis di Swiss, New7wonder, menghelat sebuah jajak pendapat via internet dan telepon untuk menetapkan The New Seven Wonders of the World atau Tujuh Keajaiban Dunia yang Baru. Jajak pendapat ini melibatkan sedikitnya 100 juta orang dari lima benua.
Senin (9/7) hasil jajak pendapat tersebut dibeberkan lewat sebuah acara gede-gedean di Lisabon, Portugal, yang dihadiri para selebritis dunia termasuk astronot Neil Armstrong. Pengumuman bersejarah digelar di Lisbon Stadium of Light, Portugal, pada acara yang disiarkan ke 170 negara, disaksikan 1,6 miliar orang, dan dipresenteri oleh aktor Inggris, Ben Kingsley, dan aktris AS peraih Piala Oscar, Hillary Swank.
Tak ada Borobudur. Tak ada Angkor Wat. Tujuh Keajaiban Dunia yang Baru itu adalah: Tembok Besar di Cina, Taj Mahal di India, Colosseum di Roma, reruntuhan Kerajaan Petra di Yordania, patung Yesus di Brasil, reruntuhan kota bangsa Inka di Peru, dan Piramid Chichen Itza bangsa Mayan di Meksiko. Ke mana Patung Giza atau Piramid Mesir? Bagaimana dengan Menara Pisa? Sah-sah saja tidak setuju. ''Namun, inilah kali pertama seluruh masyarakat dunia dapat memilih dan memutuskan (Tujuh Keajaiban Dunia),'' kata ketua organisasi yang menggelar polling tersebut, Diogo Freitas do Amaral.
Ide menyusun ulang Tujuh Keajaiban Dunia dilontarkan pada 1999 oleh seorang petualang Swiss, Bernard Weber, yang kemudian menjelma menjadi sebuah kampanye global. Tak kurang dari 200 nama muncul saat itu. Nama-nama ini merupakan kandidat yang diusulkan para juri yang terdiri atas arsitek terkemuka termasuk mantan pimpinan UNESCO, Federico Mayor. Jumlah ini lantas diciutkan menjadi hanya 21 lewat sebuah pemungutan suara global sepanjang tahun 2006. Rangking 21 besar inilah yang kemudian diadu lewat pemungutan suara final yang digelar sejak Januari.
Ke-14 kandidat yang tersisih antara lain: Mesjid Hagia Sophia di Turki, Mesjid Alhambra di Spanyol, Kuil Angkor Wat di Kamboja, Patung Liberty di AS, Gedung Opera Sydney di Australia, Kuil Kiyomizu di Jepang, Katedral Basil dan Gedung Kremlin di Rusia, Kapel Neuschwanstein di Jerman, Timbuktu di Mali, serta Stonehenge di Inggris.
Begitu pengumuman disiarkan, kritik pun mencuat. Sulit, misalnya, untuk tidak berprasangka bahwa seorang voter memilih lebih dari satu kali untuk sebuah nama. Daftar nama yang disodorkan para juri pun dinilai tak lepas dari unsur subjektivitas. UNESCO sebetulnya memiliki daftar 850 monumen yang disebut situs peninggalan dunia. Namun, UNESCO tak dilibatkan dalam projek new7wonder-nya Weber dan kawan-kawan.
''Tujuh Keajaiban Dunia yang baru itu hanyalah hasil dari sebuah inisiatif privat. Ini takkan memberi kontribusi signifikan terhadap pemeliharaan situs tersebut,'' demikian pernyataan resmi UNESCO bulan lalu. Secara tradisional Tujuh Keajaiban Dunia terhampar di wilayah Mediterania dan Timur Tengah. Manuskrip Tujuh Keajaiban Dunia pertama kali ditulis pada abad ke-2 sebelum masehi oleh petualang Yunani kuno, Antipater dari Sidon. Ke-7 keajaiban dunia itu meliputi Taman Gantung Babilonia, Patung Zeus di Olimpia, Kuil Artemis di Ephesus, Makam Halicarnassus, Colossus dari Rhodes, dan Rumah Cahaya Pharos di Alexandria.
Pemerintah Indonesia juga termasuk pihak yang keberatan pada hasil jajak pendapat tersebut. Keberatan itu diungkapkan oleh pemerintah melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) dalam rapat dengar pendapat (RDP) Panitia Ad Hoc III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta, Senin (09/7). Dalam rapat tersebut Menbudpar diwakili oleh Dirjen Sejarah dan Purbakala Depbudpar, Hari Untoro Drajat.
Kata Hari, kriteria yang digunakan dalam penentuan daftar Tujuh Keajaiban Dunia yang baru itu tidak jelas. Karena itu, dia pun tetap meyakini bahwa Borobudur masih masuk dalam warisan penting di dunia. ''Jadi, soal hasil polling itu hanyalah persepsi internasional mengenai keajaiban dunia. Keajaiban dunia itu tidak sama dengan warisan dunia,'' ujar dia.
Meski begitu, menurut Hari, hasil dari jajak pendapat tersebut perlu menjadi pelajaran bagi pemerintah untuk mengembangkan strategi baru dalam politik kebudayaan. Dengan adanya strategi yang bagus, dia berharap kebudayaan yang ada di negeri ini tetap dapat terpelihara dan dikenal secara luas. Larangan berkunjung yang banyak dikeluarkan oleh negara seperti AS, Inggris, dan Australia, kata dia, perlu menjadi bahan introspeksi.
Tujuh Keajaiban Dunia keluaran organisasi Swiss ini hanyalah salah satu dari sekian banyak versi Tujuh Keajaiban Dunia. Koran Amerika USA Today, misalnya, pada November 2006 juga punya versi sendiri daftar Tujuh Keajaiban Dunia. Mereka yang masuk dalam Tujuh Keajaiban Dunia versi USA Today ini adalah Potala Palace (Tibet), kota tua Jerusalem, kubah es (kutub), Monumen Nasional Kelautan Papahanaumokuakea (Hawai), reruntuhan Mayan (Mesoamerica), Great Migration of Serengeti and Masai Mara (Tanzania dan Kenya), serta internet.
Selain Tujuh Keajaiban Dunia juga terdapat Tujuh Kebodohan Dunia yang disusun oleh Mahatma Gandhi untuk cucunya, Arun Gandhi. Tujuh Kebodohan Dunia itu adalah kesejahteraan tanpa bekerja, kebahagiaan tanpa hati nurani, pengetahuan tanpa karakter, perdagangan tanpa moral, ilmu tanpa rasa kemanusiaan, peribadatan tanpa pengorbanan, dan politik tanpa prinsip. Mana yang lebih penting dipikirkan, Tujuh Keajaiban Dunia ataukah Tujuh Kebodohan Dunia? imy/ap/afp/wed
( )

No comments:

Post a Comment