Sabtu, 20 September 2003.
Racikan Khusus Memelihara AsetAWALNYA cuma bintik kecil di tangan. Mirip bekas gigitan nyamuk yang masih anyar. Tak dinyana, tiga bulan berselang, tahu-tahu bintik tadi menjalar ke seluruh tubuh. Cuma wajah yang luput. Bintik kecil itu sudah melebar, bergelembung, dan memerah. Rasanya pun perih. Itulah pengalaman pahit Tia Ivanka, empat tahun silam. Ternyata, artis sinetron dan bintang iklan ini terserang psoriasis, penyakit kulit tergolong langka.
Syukurlah, penderitaannya itu ''cuma'' setahun. Kini, Tia sembuh total. Kulitnya kembali putih mulus bercahaya. Senyum riang selalu tersungging di bibirnya yang, kata orang, sensual. Tentu Tia plong dan sangat mensyukuri kesembuhan itu. Maklum, perempuan mana --apalagi artis-- yang tak kebat-kebit kulitnya terancam meranggas di usia muda? ''Semoga nggak kambuh lagi. Doain, ya...,'' ujar perempuan 26 tahun itu kepada Rini Anggraini dari GATRA.
Ketika gejala penyakit itu muncul, Tia tak terlalu memperhatikannya. Baru setelah kian parah, ia ke dokter kulit. Sang dokter tak bisa langsung memastikan penyakit yang diderita Tia. Tapi, Tia sempat menjalani pengobatan intensif selama enam bulan. Atas anjuran teman, ia kemudian bolak-balik berobat ke Singapura, menghabiskan ratusan juta rupiah. Ketahuan Tia terkena psoriasis. Pergantian sel kulit yang normalnya tiga-empat pekan menjadi tiga-empat hari dengan jumlah banyak. Kala sel kulit belum matang, keluar sel baru sehingga tampak merah dan bersisik.
Pemicu penyakit itu, antara lain, stres dan keletihan, serta pemakaian obat pengurus badan tanpa diiringi diet sehat. Tubuh kekurangan cairan sehingga kekebalan menurun. Tia sejak SMU memang kerap menenggak obat diet. Oleh dokter Singapura, ia diberi obat Montana Green, Immonocal, OMX --untuk meningkatkan kekebalan tubuh-- dan antibiotika. Si penderita juga mesti sering berjemur matahari pagi, menghindari rokok dan minuman keras. Sinar matahari yang mengandung ultraviolet-B bagus untuk pencegahan psoriasis. Tia pun rajin berjemur. Tapi, untuk berhenti merokok, baginya masih berat. Ia masih sulit dipisahkan dengan rokok Marlboro kegemarannya.
Karena penyakit ini lebih disebabkan gangguan sistem kekebalan tubuh, Tia pun dianjurkan mengonsumsi vitamin tambahan dan makan yang banyak. Dasar doyan makan, ia happy banget. Segala macam makanan dilahapnya. ''Dari yang mahal sampai yang murah. Paling kebersihannya yang harus diperhatikan,'' tuturnya. Menariknya, tubuh dara yang suka senam ini tak menggembung. Masih ideal: tinggi 160 sentimeter, berat 44 kilogram. Ujarnya, cuma ada selulit sedikit di paha.
Nah, setelah segala penderitaannya itu berlalu, Tia ekstra hati-hati menjaga kemulusan kulit tubuh dan wajahnya. Ia rajin mandi, lalu pakai lotion. Wajahnya dipulas produk kosmetika racikan khusus dokter kulit dan kosmetika. Untuk perawatan wajah, ia merogoh kocek Rp 300.000-Rp 400.000 sebulan. Luluran? Dua pekan sekali, dan menghabiskan Rp 500.000 untuk sekali lulur komplet.
Problema kulit, di wajah, sempat pula membebani pembawa acara Peggy Melati Sukma. Itu gara-gara keseringan menggunakan make-up. Kulit mukanya yang sensitif sempat bermasalah. Meradang dipenuhi komedo dan timbunan lemak. Setidaknya saban bulan, gadis asal Cirebon, Jawa Barat, berusia 27 tahun ini mesti konsultasi ke dokter kulit. Seringkali komedo, atau jerawat yang membatu, terpaksa disedot dengan suntikan. ''Kulit saya sensitif banget, tidak bisa lepas dari treatment dokter, terutama lima tahun ini,'' kata artis sinetron yang populer dengan celotehan ''pusing...!'' itu. Sebulan setidaknya ia merogoh Rp 2,5 juta untuk perawatan wajah.
Hampir semua dokter kulit top di Jakarta didatangi Peggy, sebelum menemukan seorang dokter yang dianggapnya cocok. Peggy pun kerap menjalani terapi akupunktur wajah. Ia merasa hasilnya cukup memuaskan. Wajahnya tampak lebih segar bersinar, sampai-sampai pernah diisukan menjalani operasi plastik. Untuk menjaga wajahnya dari pengaruh make-up, ia rajin membersihkan pulasan wajahnya. Jangan heran, lajang dengan tinggi 166 sentimeter dan berat 48 kilogram ini menggunakan tisu khusus yang dipesan tiap tiga bulan dari Amerika Serikat.
Taufik Alwie
[Medela, GATRA, Edisi 45 Beredar Jumat 19 September 2003]
No comments:
Post a Comment