Cari Berita berita lama

KoranTempo - WorldCom Bangkrut, Industri Telekomunikasi Kian Terseret ke Ketidakpastian

Rabu, 24 Juli 2002.
WorldCom Bangkrut, Industri Telekomunikasi Kian Terseret ke KetidakpastianKekhawatiran para analis bahwa kebangkrutan WorldCom Inc. akan makin menyeret industri telekomunikasi ke ketidakpastian, mulai terbukti. Paling tidak hal itu terlihat dari kinerja perusahaan, yang langsung mempengaruhi harga-harga saham beberapa perusahaan telekomunikasi.

Harga saham BellSouth Corp. misalnya, awal pekan ini anjlok sebesar 18 persen, setelah perusahaan mengumumkan kinerja keuangannya pada kuartal II. Penurunan yang dialami BellSouth merupakan penurunan yang terbesar yang pernah dialami perusahaan. Bagaimana BellSouth tidak terpengaruh pernyataan bangkrut WorldCom? WorldCom berutang ratusan juta dolar ke operator telepon lokal itu.

Penurunan ini juga menyeret turun harga-harga saham perusahaan lainnya, seperti Verizon Communications Inc. dan SBC Communications Inc., yang merupakan mitra BellSouth dalam perusahaan gabungan Cingular Wireless.

Imvestor tampaknya sudah putus asa dengan kondisi yang kian bertambah buruk ini. Seperti yang diungkapkan analis dari Guzman & Co. Patrick Comack, para investor banyak yang sudah menyerah di sektor industri telekomunikasi dan tidak mau terlibat didalamnya lagi. Para investor merasa putus asa, karena terus-terusan meleset dari target perolehan labanya. Kasus WorldCom, kinerja BellSouth yang buruk, dan akan diikuti oleh perusahaan lainnya, membuat investor kehilangan miliaran dolar.

Bahkan, para analis lebih skeptis lagi. Menurut salah seorang analis independen telekomunikasi Jeff Kagan, jika dalam enam bulan ke depan tidak ada peristiwa apa-apa seperti serangan teroris atau skandal keuangan, berarti pemulihan bisa dimulai.

Sementara analis lain mengatakan, skandal manipulasi akutansi yang dilakukan WorldCom akan seperti bola salju yang menggelinding dan menyeret perusahaan-perusahaan lain dalam keterpurukan yang makin dalam. Apalagi, WorldCom sampai saat ini tercatat sebagai perusahaan yang mengalami kebangkrutan terbesar dalam sejarah industri Amerika Serikat. Hal ini sudah terindikasi dengan pengumuman kebangkrutan, harga-harga saham beberapa perusahaan telekomunikasi, ramai-ramai terjun bebas.

Sebelum skandal manipulasi keuangan yang dilakukan WorldCom, sebenarnya sektor industri telekomunikasi sudah memasuki masa-masa suramnya, terutama karena melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Hal ini diperparah lagi dengan serangan 11 September 2001, sehingga pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat kian suram.

Kinerja perusahaan-perusahaan telekomunikasi rata-rata turun. Akibatnya, banyak perusahaan yang melakukan pemecatan. Sepanjang tahun lalu saja, berdasarkan data FT.com, total karyawan yang dipecat mencapai 502.529 orang. Tahun ini, perusahaan-perusahaan tampaknya juga kembali aku melakukan serangkaian pemecatan, setelah melihat belum pulihnya pasar. Pemecatan itu diharapkan akan dapat menghemat biaya perusahaan. WorldCom misalnya, Juni lalu mengumumkan akan melakukan pemecatan sebanyak 17 ribu orang.

Perlindungan pailit

Beberapa perusahaan yang kinerjanya benar-benar buruk, bahkan terpaksa harus meminta perlindungan pailit ke Pengadilan Kebangkrutan agar terhindar dari kejaran dan tuntutan para kreditornya. Berdasarkan Undang-undang Kebangkrutan Federal (Federal Bankruptcy Code) Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan di negara itu diperkenankan meminta perlindungan pailit.

Perusahaan biasanya menggunakan Bab 11 yang menyangkut reorganisasi. Artinya, di samping menyatakan perusahaannya pailit, perusahaan masih diperkenankan merstrukturisasi organisasi dan menjalankan perusahaannya seperti biasa selama jangka waktu tertentu. WorldCom misalnya, menargetkan dalam 12 bulan ke depan bisa terlepas dari perlindungan kebangkrutan ini. Selama dalam masa perlindungan kebangkrutan, perusahaan bisa terhindar dari tuntutan para kreditor maupun investornya. Melalui penggunaan Bab 11 ini pula, WorldCom yang memiliki total utang senilai US$ 30 miliar, berharap utangnya bisa dikurangi lebih dari 75 persen.

Atau kalau kondisi keuangannya sudah benar-benar amburadul, perusahaan bisa mengajukan permohonan perlindungan pailit dengan menggunakan Bab 7 tentang Likuidasi. Perusahaan yang mengajukan bab ini berharap utang-utangnya sama sekali dibumihanguskan dan aset-aset perusahaan (yang tersisa) dijual. grace/reuters

No comments:

Post a Comment