Cari Berita berita lama

KoranTempo - Dua Kelompok Pesilat di Madiun Bentrok

Senin, 28 Pebruari 2005.
Dua Kelompok Pesilat di Madiun BentrokMADIUN -- Perguruan Silat Setia Hati Winongo dan Setia Hati Teratai di Madiun, Jawa Timur, bentrok pada Minggu (27/2). Peristiwa itu dipicu oleh konvoi kelompok Winongo menjelang acara Soran Agung, ritual setiap Suro (Muharam) di padepokan Winongo, Madiun.

Bentrokan dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Ketika itu pengikut Winongo arak-arakan dari arah Caruban dengan puluhan truk serta ratusan sepeda motor. Saat rombongan memasuki wilayah Nglames yang menjadi basis pengikut kelompok Teratai, ratusan orang yang berkumpul di pinggir jalan serentak melempar batu ke arah rombongan Winongo. Tak lama berselang, polisi dan aparat dari komando militer setempat datang melerai. Kelompok Teratai bergerak meninggalkan areal bentrokan, sedang pengikut Winongo meneruskan perjalanan menuju Padepokan Suran Agung di Jalan Dhoho, Madiun.

Pada pagi itu, sedikitnya empat orang menderita luka-luka. Petugas keamanan tak langsung meninggalkan lokasi bentrok, lantaran khawatir aksi yang sama akan terjadi ketika kelompok Winongo kembali melintas Nglames menuju Caruban.

Menjelang sore, sekitar pukul 14.00, massa pengikut Winongo mulai meninggalkan Padepokan Suran Agung. Kelompok Teratai yang berada di Jalan Merak, Nglames, kembali merangsek ke jalan menyambut arak-arakan musuh mereka. Hujan batu dari dua arah sulit dicegah.

Aparat terpaksa meletuskan tembakan peringatan. Semprotan gas air mata juga disemprotkan oleh pasukan Brimob yang dari awal sudah disiapkan. Massa kedua belah pihak berhamburan meninggalkan puluhan orang yang tergeletak di lokasi kejadian. Mereka yang terluka langsung diusung ke RS Dr Soedono Madiun.

Di antaranya Angga, 22 tahun, warga Kajan Caruban, tangan kirinya patah dan kepalanya bocor. Totok, 19 tahun, asal Kaibon, Geger, Madiun, luka di bagian kepala. Purwanto, 17 tahun, asal Dagangan, juga luka bagian kepala. Satu orang bernama Eko, warga Tenggoro, Caruban, menurut polisi, belum ditemukan.

Polisi menyeret sejumlah orang untuk dimintai keterangan. Bentrokan ini, menurut aparat, sudah diprediksi. "Karena itu, kami sudah menyiagakan personel dari wilayah sampai sektor se-Karesidenan Madiun. Bahkan kami juga minta bantuan pasukan Brimob dan aparat TNI dari Kodim," ungkap Kepala Polisi Wilayah Madiun Komisaris Besar Ondang Soetarsa.

Suasana kota Madiun sempat mencekam. Sedikitnya lima rumah rusak. Kelompok Teratai yang sebagian membawa senjata tajam belum mau meninggalkan lokasi bentrok hingga menjelang petang. Sedangkan kelompok Winongo memilih bertahan di halaman Markas Polisi Wilayah Madiun.

Bentrok serupa sudah sering terjadi. Dua tahun lalu, perseteruan mereka melibatkan Bowo, Kepala Desa Plaosan, Magetan. Dia meninggal dengan luka tembak. Kelompok Winongo pulang dengan pengawalan polisi. "Kami butuh pengamanan," kata Hendrik Kasogara, salah seorang Pengurus Padepokan Setia Hati Winongo. rohman taufiq

No comments:

Post a Comment