Sabtu, 22 November 2008.
GRESIK, JUMAT — Keberlangsungan potensi lokal sentra industri rotan di Desa Beton, Boteng, dan Domas, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, terancam dengan sulitnya bahan baku.
Padahal, pemasaran hasil kerajinan rotan Menganti menembus pasar ekspor diantaranya ke negara di Eropa, Kanada, Jepang, Korea dan Hongkong. Salah satu industri rotan di Indonesia di Menganti, pada masa jayanya anak-anak pun mahir menganyam rotan.
Hasil penelitian deskriptif Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Gresik bersama Universitas Brawijaya Malang, 80 persen rotan dunia berasal dari Indonesia. Namun sayang, saat ini perajin rotan di Menganti mengalami kesulitan bahan baku.
Ketua Tim Peneliti, Hermanto T Sianturi Jumat (21/11) menjelaskan kesulitan bahan baku rotan bagi perajin rotan di Menganti terjadi pasca terbitnya SK Menteri Perdagangan No 12/M-DAG/PER/6/2005). 'Harga bahan baku rotan naik sampai 50 persen,' ujarnya.
Berdasarkan survei yang dilakukan kepada 81 responden pekerja serta kuisioner kepada enam responden perajin rotan menunjukkan keterlibatan anggota keluarga sangat tinggi pada proses kerajinan rotan ini,dengan prosentase mencapai 83,33 persen. Perajin rotan di Menganti semuanya laki-laki dan 50 persen berusia di atas 50 tahun, sedangkan 50 persen lainnya berusia 40-50 tahun.
Dari sisi gender pekerja perempuan hanya 20,99 persen dan selebihnya 79,01 persen laki-laki. Rata-rata usia pekerja masuk usia produ ktif dengan umur antara 26 dan 30 tahun.
Adi Sucipto
No comments:
Post a Comment