Cari Berita berita lama

KoranTempo - Kicau Burung Prenjak Itu Ternyata Sebuah Pertanda

Sabtu, 27 November 2004.
Kicau Burung Prenjak Itu Ternyata Sebuah PertandaRatusan pelayat sudah berkumpul di lapangan bola di Desa Kebumen. Mereka membuat barisan. Satu demi satu jenazah yang ditutupi dengan kain hijau dan kain panjang yang totalnya berjumlah 16 itu diletakkan di bangku-bangku panjang di bawah tenda hitam. Seorang pria bersarung dan mengenakan baju hitam maju selangkah dari barisan terdepan. Ia memimpin salat untuk 16 jenazah yang ada di hadapan mereka. Isak tangis mewarnai salat jenazah massal yang dilakukan pada Kamis (25/11).

Setelah salat, warga pun berangkat mengusung 16 jenazah warga Desa Kebumen, Kecamatan Tersono, Batang, Jawa Tengah, ke tiga makam yang berbeda. Tiga belas jenazah diusung menuju makam Kemiri. Sisanya dimakamkan di makam Kuncen dan Tempel. Bacaan tahlil di sela-sela isakan tangis membuat suasana mengiris hati. Mendung begitu menggantung, seolah ikut berduka atas kematian 16 warga Kebumen, desa yang terletak kurang lebih 20 km dari Jalan Raya Grinsing, di dekat kawasan Alas Roban, Batang.

Mereka adalah korban kecelakaan yang terjadi pada Rabu malam (24/11) di Jalan Raya Timbangan, Grinsing, Batang. Isuzu Panther pikap yang mereka tumpangi tertabrak bus Gumbira Ria. "Anak perempuan dan dua cucu saya jadi korban. Inilah musibah yang harus kami terima," ujar Muhyidi lirih saat ditemui di rumahnya. Muhyidi tak menduga keberangkatan dirinya, anak, menantu, dan cucunya ke Pekanbaru menjadi awal musibah yang cukup menyakitkan baginya, saudara, dan tetangganya.

Diantar 28 kerabat dan tetangga, Muhyidi dan keluarganya menuju sebuah agen bus yang akan menuju ke Pekanbaru di daerah Grinsing. Karena bus belum berangkat juga, rombongan pengantar dengan mobil bak terbuka dia suruh pulang. Ternyata rombongan pengantar tersebut mengalami kecelakaan. Muhyidi sendiri baru mengetahui adanya kecelakaan yang menimpa para pengantarnya ketika dia tiba di Tegal.

"Saya tak ada firasat mimpi apa pun, tetapi burung prenjak itu terus terusan terdengar selama 3 hari berturut-turut," ujar Muhyidi. "Saya pikir, tamu siapa lagi... toh anak dan keluarga sudah datang semua," katanya. Maklum, hari itu masih dalam suasana Lebaran, keluarganya biasa berkumpul.

Di Jawa, kicau burung prenjak sering dilihat sebagai tanda akan kedatangan tamu. Maka suara prenjak tersebut tak ia anggap sebagai firasat buruk. "Eh ternyata akan banyak tamu datang karena musibah ini," ujar Muhyidi sambil menghela napas dalam-dalam.

Kepulangan ke Pekanbaru pun akhirnya ditunda entah sampai kapan.

Rasa duka yang sama dialami Ardi, bapak dari Munadhifah dan suami dari Suwanti, korban selamat dari kecelakaan dan sekarang masih dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Kendal. Munadhifah, putri kesayangannya, terbaring tak berdaya di ruang Lukman dan terus mengerang kesakitan. Keningnya diperban, muka bengkak dan tangannya di-spalk. Ardi tak mampu berucap, hanya diam sambil mengipasi putrinya yang sering kali menangis kesakitan.

"Sejak awal, dia merengek terus untuk ikut neneknya," kata Ardi menjelaskan bagaimana putrinya bisa ikut mengantar Muhyidi dan keluarganya ke agen bus. Akhirnya mertua Ardi, Rujimah, Suwanti dan Munadhifah pun ikut mengantarkan Muhyidi.

Kabar kecelakaan yang menimpa rombongan istri dan anaknya membuatnya kalang kabut. Ia kehilangan mertuanya. Namun, ia cukup bersyukur karena istri dan anaknya selamat.

Sementara itu, di sebelah Munadhifah, Zaenudin juga terus meracau memanggil-manggil ibunya, Biati. Bocah ini tak tahu kalau ia tak lagi bisa dipeluk oleh ibundanya tercinta.

Di ruang lain, Shokiyah duduk lemah dengan tangan diinfus. Ia hanya mengetahui kecelakaan telah menimpanya. Perempuan ini tak mengetahui kalau anak tercintanya, Fina, yang semula dalam kondisi kritis telah berpulang. "Saya duduk di depan, memangku Fina. Saya tidak tahu Fina bagaimana," kata Shokiyah yang luka lebam di mata kanan.

Beberapa tetangga yang menungguinya memberi tanda untuk tidak menanyakan tentang Fina. "Wah, bagaimana perasaannya kalau tahu anaknya sudah meninggal," ujar seorang pengunjung di rumah sakit. Duka dan air mata pun masih akan terus beruai. dian yuliastuti

No comments:

Post a Comment