Jumat, 3 Desember 2004.
Ikan Mati di Ancol Karena Kekurangan OksigenJAKARTA -- Kematian ikan-ikan di pantai Ancol pada 30 November dan 1 Desember sebanyak lebih dari 2 ton dipastikan bukan karena keracunan bahan kimia. Ikan-ikan tersebut mati akibat proses agitasi (pengadukan) air laut yang menimbulkan tingkat turbiditas (kekeruhan) meningkat tiga kali lipat serta turunnya kadar oksigen hingga di bawah nol miligram per liter.
Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta Kosasih Wirahadikusuma mengatakan, kondisi air laut saat terjadinya ikan-ikan mati tergolong ekstrem. Pada saat kondisi normal kondisi oksigen mencapai 6,91 miligram per liter.
Menurut Kosasih, salinitas (kandungan garam) air laut pada saat ikan mati 32 persen. Seharusnya tingkat salinitas normal 35-38 persen. "Ini merupakan fenomena alam yang terjadi karena pergerakan air Laut Jakarta (Ancol) stagnan," ujarnya kemarin.
Ikan-ikan yang mati, kata dia, tidak hanya yang ada di pantai Ancol, tetapi juga berasal dari lokasi lain. Analisis tersebut dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan IPB, Direktorat Teknik Lingkungan BPPT, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dinas Perikanan DKI Jakarta, dan UPT Laboratorium BPLHD pada 1 Desember 2004.
Selain melakukan analisis, pihaknya juga berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait yang tergabung dalam kelompok kerja pemantauan/sistem informasi, seperti Pelindo II Sunda Kelapa, PT Charoen Phokphand, PT Asahimas, PT Pembangunan Jaya Ancol, PT Indonesian Power, dan Pelindo II Tanjung Priok. Mereka diharapkan melaporkan kondisi perairan pada saat kejadian di sekitar lokasinya.
Berdasarkan laporan dari pos pemantauan (Pelindo II Sunda Kelapa dan Indonesian Power), tidak terlihat adanya ikan yang mati di sekitar lokasinya. Kecuali dari PT Asahimas dan PT Pembangunan Jaya Ancol. Untuk pemantauan terhadap kesehatan, penduduk yang mengkonsumsi ikan dimonitor oleh Dinas Kesehatan melalui puskesmas setempat.
Kosasih memastikan bahwa ikan-ikan yang mati tersebut tidak mengandung racun. Sebab, hingga saat ini tidak ada efek samping dari orang-orang yang mengkonsumsi ikan-ikan itu. "Sejauh ini tidak ada laporan tentang keracunan akibat makan ikan itu," katanya. Namun, pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya keracunan.
Pada 30 November pagi hingga sore ditemukan lebih dari 2 ton ikan yang mati di sekitar muara Marina sampai Hotel Horison. Kejadian itu berlanjut hingga 1 Desember. Sejak pagi jumlah ikan yang mati semakin bertambah dari hari sebelumnya. Kondisi laut di pantai Karnaval yang biasanya jernih saat itu terlihat keruh. Adapun jenis ikan-ikan yang mati terdiri dari cunang, kerapu, baronang, pari, sembilang, kakap, udang, bandeng, dan rajungan. suryani ika sari
No comments:
Post a Comment