Jumat, 18 Mei 2007.
Bank Dunia Gagal Putuskan Nasib Wolfowitz
Putusan Bank Dunia yang menyatakannya bersalah tidak membuat muka Wolfowitz menipis.
WASHINGTON -- Meski secara resmi menyatakan Paul Wolfowitz bersalah, 24 direktur eksekutif Bank Dunia, Rabu (16/5) lalu gagal mengambil keputusan atas pimpinan mereka yang terjerat skandal nepotisme itu. Para direktur lembaga keuangan internasional itu berjanji akan melanjutkan pembicaraan pada Kamis (17/5) waktu setempat. Akibat ketidaktegasan itu, Bank Dunia kini mengalami krisis kepemimpinan. Para direktur Bank Dunia itu tampaknya akan terus berdebat terkait masa depan Wolfowitz di lembaga tersebut. Merekalah yang akan memutuskan apakah mantan Wakil Menteri Pertahanan Amerika Serikat itu bakal dilengserkan, atau tidak. Sejumlah pemimpin keuangan negara-negara Eropa mendesak agar Wolfowitz mundur dari jabatannya. Eropa menilai, mantan Dubes AS untuk Indonesia itu telah menghancurkan kredibilitas Bank Dunia. Desakan yang kian deras dan putusan Bank Dunia yang menyatakannya bersalah itu tidak juga membuat muka Wolfowitz menipis. Melalui pengacaranya, Robert Bennet, W!
olfowitz kembali menegaskan, dirinya tidak akan mengundurkan diri. Menurut Bennet, pihaknya menunggu keputusan akhir yang akan ditetapkan 24 direktur eksekutif Bank Dunia. "Mr Wolfowitz tidak akan mundur di tengah suasana mendung seperti ini.Ia ingin masalah ini diputuskan secara penuh oleh Badan Bank Dunia," ujar Bennet mewakili kliennya. Nasib Wolfowitz di Bank Dunia akan ditentukan para direktur eksekutif di bank yang dibangun setelah berakhirnya Perang Dunia II itu. Pihak Bank Dunia dalam pernyataan resminya menyatakan, para direktur eksekutif kelompok Bank Dunia telah membahas masalah yang dilaporkan tim ad hoc Bank Dunia, dan melakukan pertemuan dengan Wolfowitz, Rabu (16/5) lalu. "Pembahasan akan dilanjutkan Kamis (Jumat WIB)," bunyi pernyataan resmi itu. Tidak mudah bagi para direktur eksekutif Bank Dunia untuk melengserkan Wolfowitz. Pasalnya, pemerintah AS hingga kini tetap mendukung Wolfowitz. Selasa (15/5) lalu, pemerintah Bush terus memperjuangkan Wolfowitz !
agar tak jadi dimakzulkan dari jabatannya. Meski AS mengakui W!
olfowitz
bersalah dan melakukan kekeliruan, mereka menegaskan perwakilannya di Bank Dunia itu tak harus dipecat. AS menilai apa yang telah dilakukan Wolfowitz bukanlah pelanggaran yang bisa mengakibatkan pemecatan. "Sikap kami sudah jelas, kami mendukung Paul Wolfowitz," ujar Juru Bicara Gedung Putih, Tony Snow. Snow menambahkan, "Sejauh ini ia telah mengatakan -- dan kami setuju -- bahwa pastilah banyak kekeliruan dibuat dalam proses yang berhubungan dengan personel. Tetapi hal itu bukan pelanggaran yang bisa mengakibatkan pemecatan." Hal senada dilontarkan Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice, saat ditanya bwartyawan di Moskow, Rusia. "Saya melihat, kekeliruan semacam itu tidak bisa mengakibatkan pemecatan presiden Bank Dunia itu." Sementara itu, dalam pembelaannya di hadapan direktur eksekutif, Wolfowitz memohon agar dirinya tidak lantas dicopot. Bahkan dia sempat berjanji akan melakukan perubahan pada gaya kepemimpinannya, menyusul terjadinya skandal 'pilih kasih' yang dil!
akukannya. Permohonan Wolfowitz itu terungkap dalam sebuah transkrip dengar pendapat yang dirilis pengacaranya. "Saya mohon Anda semua bersikap fair dalam mengambil keputusan. Keputusan Anda semua tidak hanya akan berpengaruh pada hidup saya, namun juga akan mempengaruhi bagaimana institusi ini dipandang di AS dan dunia," ucap Wolfowitz kepada Dewan Eksekutif Bank Dunia, Rabu (16/5) lalu. Akibat skandal yang menghebohkan di institusi dengan 185 negara itu, banyak anggota Bank Dunia dari Eropa menuntut agar Wolfowitz mundur. Mereka menilai keberadaan Wolfowitz di Bank Dunia akan mengancam kemampuan institusi itu melawan kemiskinan. Awal pekan ini, panel etik Bank dunia dalam laporan setebal 52 halaman menyatakan Wolfowitz telah melanggar pasal-pasal dalam kontrak kerjanya, kode etik Bank Dunia dan tiga peraturan karyawan. Panel Etik Bank Dunia menilai keterlibatan Wolfowitz dalam kenaikan gaji dan jabatan bagi Shaha Riza, staf ahli Bank Dunia untuk Timur Tengah, merupakan !
benturan kepentingan dan melanggar kontrak kerja. "Kenaikan ga!
ji Riza
atas perintah Wolfowitz di luar lingkup Peraturan 6.01," kata laporan tim tersebut. "Kontrak kerja, yang mengharuskan dia memegang teguh tata tertib untuk direktur dan menghindari semua benturan kepentingan, baik yang nyata maupun samar, telah dilanggar," ujar tim tersebut. ap/afp/hri
( )
No comments:
Post a Comment