Cari Berita berita lama

Loading...

KoranTempo - Kopassus Vs Brimob

Jumat, 17 Mei 2002.
Kopassus Vs BrimobBentrok pasukan tempur elite Kopassus dengan Brigade Mobil, yang terjadi di Ambon pekan ini, membuktikan sekali lagi bahwa kita tidak bisa memandang remeh konflik di Maluku. Jika tidak segera diatasi, sangat mungkin konflik ini meluas sebegitu jauh sehingga makin sulit kita bisa memadamkannya. Konflik di Maluku itu bahkan memiliki potensi untuk meluber menjadi konflik nasional.

Baku tembak Kopassus (militer) versus Brimob (polisi) itu marak di tengah upaya aparat untuk menangkap Berty Loupatty, seorang tokoh kelompok preman Cowok Keristen (Coker). Banyak kecurigaan bahwa bentrok antara dua kesatuan itu dipicu oleh pemihakan Kopassus terhadap kelompok yang belakangan ini menjadi salah satu tulang punggung milisi Kristen dalam perang mereka melawan kelompok Islam.

Menyedihkan menyaksikan dua pasukan bersenjata resmi pemerintah, yang semestinya menjadi pengawal ketertiban di daerah konflik itu, justru baku hantam sendiri. Lebih menyedihkan lagi, ini bukan bentrok mereka yang pertama.

Sejak akhir tahun 2000, ketika konflik Maluku menginjak usia dua tahun, benih permusuhan militer vs polisi sudah terlihat. Pada waktu itu terjadi konfrontasi antara Brimob dengan Batalion Gabungan (Kopassus adalah salah satu unsur dalam batalion ini). Pada tahun lalu bahkan terjadi setidaknya tiga insiden di antara mereka.

Meledak pertama kali pada 1999, konflik Maluku memang cenderung dilupakan oleh para politisi nasional. Soeharto baru saja jatuh dan begitu banyak agenda reformasi yang begitu tiba-tiba kita hadapi, termasuk pemilihan umum, dengan Jakarta masih menjadi pusat sorotan. Ironis bahwa kini konflik yang diremehkan itu justru menghantui Jakarta.

Spiral kekerasan telah telanjur memuncak. Sementara itu, tentara dan polisi adalah manusia juga, yang takkan rela saudara sesama suku atau agama dibantai atau disiksa. Itulah yang membuat mereka secara perlahan meninggalkan netralitas. Mereka terbelah berdasarkan simpati terhadap kelompok-kelompok yang bertikai. Batalion Gabungan (Yon Gab) cenderung membela kelompok Kristen, sementara Brimob condong ke Islam.

Meski manusiawi, hilangnya netralitas itu telah membuat konflik di Maluku kian kompleks. Pada satu sisi, ini membuat konflik lebih berdarah. Jika dulu kedua kelompok berperang dengan senjata tradisional atau rakitan, belakangan mereka bertempur dengan senjata berat. Sering bahkan senjata organik militer ikut terlibat.

Pada sisi lain, hilangnya netralitas aparat membuat perdamaian lebih sulit lagi ditegakkan. Kedua kelompok yang saling membunuh itu tak memiliki jembatan yang netral, yang memberi peluang untuk terjadinya dialog. Makin berat senjata yang dipakai makin efektif membunuh perdamaian.

Tak berlebihan jika prioritas terpenting untuk menyelesaikan konflik Maluku sekarang ini adalah mengembalikan wibawa dan netralitas aparat. Juga wibawa dan netralitas politisi puncak di Jakarta.

No comments:

Post a Comment