Cari Berita berita lama

Republika - Ayo Kita Perangi Jentik Nyamuk

Kamis, 22 Desember 2005.

Ayo Kita Perangi Jentik Nyamuk












Warga Jakarta mesti serius menghadapi ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD). Data menunjukan, dari awal hingga penghujung tahun 2005 setidaknya 78 jiwa meninggal dunia lantaran digigit nyamuk Aedes Aegypti ini. Menghadapi penghujung tahun yang juga merupakan musim penghujan, selain bersiap menghadapi banjir, bahaya DBD juga mengintai warga Jakarta. Penyakit negara tropis yang disebarluaskan oleh nyamuk ini memang menjadi ancaman yang cukup mengerikan. Apalagi jika warga tak memperhatikan kebersihan lingkungannya. "Langkah sederhana yaitu menutup, menguras, dan mengubur, (3M) adalah cara yang sangat efektif untuk memerangi berjangkitnya penyakit DBD," kata Humas Dinas Kesehatan Pemprov DKI, Evy Zelfino, Rabu (21/12). Gerakan yang dibungkus dengan nama pemberantasan sarang nyamuk (PSN) selama 30 menit ini, lanjut Evy, adalah langkah jitu untuk memerangi sumber penyakit DBD, yakni jentik nyamuk. Gerakan 3 M, yaitu menutup, menguras semua tempat penyimpanan air sec!
ara periodik minimal seminggu sekali serta mengubur barang-barang bekas, adalah langkah pamungkas untuk mencegah pengembangbiakan nyamuk. Aparat Pemprov DKI dari tingkat gubernur hingga lurah bergantian menyambangi berbagai tempat di wilayah hukum DKI. Selain itu, juru pemantau jentik (jumantik) yang direkrut dari tingkat RW juga membantu efektifnya gerakan ini. "Tapi tentu saja jumlah jumantik tidak sebanding dengan jumlah tempat yang mesti dipantau," tutur Evy. Untuk itu, kesadaran masyarakat agar memperhatikan lingkungannya merupakan langkah yang jauh lebih ampuh guna mencegah berjangkitnya DBD. Selain di rumah tangga, pemantauan terhadap jentik nyamuk dilakukan di institusi pendidikan, sarana kesehatan (puskesmas, rumah sakit, klinik, dan laboratorium), kantor-kantor, pasar, tempat rekreasi, serta hotel. "Pemantauan jentik di tempat umum bisa dilaksanakan jumantik, namun kalau di rumah tangga, tentunya dibutuhkan partisipasi warga," ujar humas Dinkes ini. Di DKI terda!
pat 540 jumantik yang tersebar di berbagai kelurahan. Selain j!
umantik
yang resmi direkrut, terdapat ratusan jumantik sukarelawan yang terdiri dari anggota ormas masyarakat. Dinas Kesehatan DKI mengaku telah melakukan sosialisasi PSN 30 menit melalui media cetak dan elektronik. "Dan kami tidak bosan-bosannya mengimbau masyarakat agar jangan lengah melakukan PSN," katanya, kemarin. Di Kuba, lanjut Evy, PSN yang efektif menangkal penyebaran penyakit yang disebarkan nyamuk berwarna hitam dengan garis putih ini. Nyamuk penyebar demam disertai pendarahan bawah kulit ini memang tidak betah hidup di air kotor. Untuk itu jika musim penghujan tiba, seluruh tempat penampungan air mesti diwaspadai. Penyakit ini sudah memakan korban, keluarga, tetangga dan kerabat kita, jangan biarkan ia merenggut lebih banyak lagi korban jiwa. "Kita mesti memutus rantai penularan DBD," tegas Evy. Memerangi jentik nyamuk adalah langkah yang bisa kita lakukan. Oleh karena itu, Kasudin Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Jakarta Barat, Ariani Murti, meminta masyarakat mewaspadai !
kemungkinan kejadian luar biasa (KLB) DBD pada Januari hingga Februari 2006 mendatang. Menurutnya, meskipun tren DBD di Jakarta Barat menurun, World Health Organization (WHO) memperkirakan adanya kecenderungan KLB DBD pada medio Februari 2006. "Saat ini trennya memang menurun. Tetapi kami tetap waspada," ujar Ariani. Dilihat dari siklus saat ini, ujarnya, angka kasus DBD di Jakarta diprediksikan akan menyamai angka kasus KLB DBD pada 2004. Berdasarkan data Sudin Kesmas Jakarta Barat hingga pekan ke-50 tahun ini, di Jakarta Barat terjadi 3.494 kasus DBD. Tujuh pasien meninggal. Sementara, periode yang sama tahun 2004, terjadi 3.626 kasus DBD di Jakarta Barat dengan 25 orang meninggal. Untuk langkah antisipatif, imbuh Ariani, pihaknya kini tengah intensif melakukan program abatesasi selektif massal. Menurutnya, program ini difokuskan pada lokasi yang sulit atau jarang dikuras. Misalnya, tempat air di mushala, MCK umum, dan kamar mandi sekolah. "Masyarakat kita pada umumnya b!
erpendapat pemberantasan nyamuk dilakukan dengan fogging. Pada!
hal, yan
g paling efektif untuk memberantas nyamuk Aedes Aegypti melalui PSN." Dia berpendapat perlu sosialisasi untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang hal ini. Ariani menambahkan, fogging hanya efektif untuk membunuh nyamuk dewasa atau yang telah berusia tiga bulan. Meskipun demikian, ujar Ariani, pihaknya tetap akan memperluas cakupan fogging. Dia berjanji dalam waktu 3x24 jam pihaknya menerima laporan adanya kasus DBD, akan langsung dilakukan fogging (pengasapan) di lokasi itu. Karena itu, Ariani juga menyayangkan ada warga yang menolak fogging. Ariani menyebutkan, 50 persen warga sebuah RW di kawasan Tambora, baru-baru ini menolak fogging yang dilakukan Sudin Kesmas. Sayangnya, Ariani tidak menyebutkan alasan penolakan itu.
( )

No comments:

Post a Comment