Sabtu, 21 Mei 2005.
Polisi Akan Periksa Kolonel Bambang IrawanJakarta - Polisi akan memeriksa Kolonel Bambang Irawan terkait dengan kasus meninggalnya Munir di atas pesawat Garuda, pertengahan tahun lalu. Rencana pemeriksaan Bambang yang di media massa disebut sebagai dokter di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) itu disampaikan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri Komjen Pol Suyitno Landung kemarin.
"(Bambang) pasti mau diambil keterangannya." Suyitno tidak bersedia menyebut tanggal pemeriksaan Bambang. Namun, dia menjelaskan langkah itu dilakukan setelah pihaknya memeriksa Muchdi Purwopranjono, mantan Deputi V Kepala BIN. Mayjen (Purn) Muchdi yang pernah menjadi Komandan Jenderal Kopassus pada 1998, tiga hari lalu datang ke Mabes Polri. "Beliau datang dengan inisiatif sendiri," kata Direktur I Mabes Polri Brigjen Pol Pranowo Dahlan.
Menurut Suyitno, pihaknya masih menganalisis hasil pertemuan timnya dengan Muchdi. Sebelumnya, tim pencari fakta (TPF) kasus kematian Munir menemukan fakta berupa hubungan telepon antara Pollycarpus Budihari Priyanto dan telepon nomor kantor Deputi V BIN. Polly, yang berprofesi sebagai pilot Garuda, sudah dijadikan tersangka oleh polisi.
TPF sendiri kemarin memeriksa Suparto di kantor BIN, Kalibata, Jakarta Selatan. Menurut Wakil Ketua TPF, Asmara Nababan, Suparto diperiksa karena kapasitasnya sebagai Sekretaris Utama BIN. "Hanya untuk mengonfirmasikan informasi yang kami dapat dari pihak sekunder," katanya. Karena jabatannya itu, Suparto disebut-sebut ikut menandatangani kepemilikan senjata api bagi Pollycarpus. Namun, Asmara dan Sekretaris TPF, Usman Hamid, tidak bersedia menjelaskan isi pemeriksaan terhadap Suparto.
Meskipun polisi dan TPF sudah mengarahkan fokus pemeriksaannya ke BIN, Kepala BIN Mayjen (Purn) Syamsir Siregar masih meragukan keterlibatan anak buahnya dalam kasus tewasnya Munir. "Kan bisa saja seseorang kontak dengan yang lain. Aku kontak dengan kau kan bisa saja," ujarnya kepada wartawan di Istana Negara kemarin. Wartawan memang mengonfirmasikan soal hubungan telepon lima kali antara Polly dan BIN, setelah muncul kabar Munir tewas diracun.
Syamsir yang menjadi tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono ketika pemilihan presiden lalu membantah anggapan bahwa BIN tidak kooperatif terhadap TPF. "Apa yang diminta saya beri. Jangan kau membuat opini seolah-olah saya dengan TPF tidak kooperatif. Buktinya apa," katanya.
Menyinggung tuduhan BIN sebagai institusi dalam kasus kematian aktivis hak asasi manusia, Syamsir mengakui perlunya mengevaluasi kembali organisasi BIN. "Saya benahi masalah organisasi, masalah personel, dan sebagainya sesuai dengan tugas pokok BIN," katanya. Dia menjelaskan, kasus kematian Munir terjadi sebelum dirinya diangkat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin BIN. Ketika kasus itu terjadi, yang menjadi Kepala BIN adalah Jenderal (Purn) Hendropriyono. TPF sendiri akan memanggil Hendro dalam kasus ini. MARTHA | ANTON | SUNARIAH
No comments:
Post a Comment