Rabu, 8 Mei 2002.
Agen Manulife MengecewakanSetelah beberapa kali dihubungi dan didatangi oleh salah seorang agen Manulife bernama Sdr. Hendy Hermawan, saya tertarik dengan segala iming-iming keuntungan yang ditawarkan oleh Pro-Invest 20 Silver. Akhirnya saya menandatangani polis pada 21 Maret 2002.
Premi pertama saya bayarkan melalui transfer pada 27 Maret 2002 sesuai dengan perjanjian secara lisan antara saya dan Hendy Hermawan. Dia memberi informasi bahwa saya akan menerima polis dalam waktu dua minggu.
Setelah selang waktu dua minggu saya menelepon Hendy untuk menanyakan apakah polis saya sudah jadi. Hal ini sebenarnya aneh karena bukankah seharusnya Hendy yang menelepon saya? Jawaban yang saya terima, polis sudah jadi, tetapi Hendy belum sempat mengantarkannya.
Selang waktu satu minggu, saya kembali menghubungi Hendy. Jawaban yang saya terima masih sama: dia belum ada waktu untuk mengantarkan polis tersebut kepada saya. Yang mengecewakan, selama ini saya yang harus selalu menghubungi Hendy.
Setelah kembali menghubungi Hendy, akhirnya polis saya diantar pada 29 April 2002. Setelah saya cek kebenaran isi polis tersebut, ternyata nama yang tertera di polis dan kartu polis tidak sesuai dengan nama yang tertera di surat pengajuan polis dan KPT yang telah saya serahkan. Saya kembali menghubungi Hendy untuk memberitahukan hal tersebut dan meminta agar semua nama tersebut diganti, dengan tujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.
Namun, lagi-lagi, saya mendapat tanggapan yang mengecewakan. Saya disuruh menghubungi customer service sendiri untuk melakukan perubahan tersebut. Lalu, bagaimana peran Hendy sebagai seorang agen? Bagaimana pula dengan Manulife yang selalu mengatakan bahwa mereka adalah perusahaan asuransi terbesar dan memiliki komitmen untuk memberikan layanan yang baik kepada nasabah?
Sampai saya menulis surat ini, saya sama sekali belum mendapatkan polis saya. Padahal, dalam suatu perjanjian asuransi, polis merupakan bukti penting perjanjian kedua belah pihak.
Beginikah cara agen Manulife dan perusahaan melayani nasabahnya? Mohon keterangan dan tindakan dari yang berwenang.
Dwi Kurniawati Wibowo
Pulogadung,
Jakarta Timur
Bukit Sentul Tak Aman
Cerita manis dari sales marketing pada saat kita ingin membeli sebuah rumah di sebuah kawasan yang dipromosikannya terkadang tidak semuanya benar. Lebih menyakitkan lagi ketidakbenaran atau kebohongan itu terjadi pada sebuah hal yang sangat penting, yaitu masalah keamanan (sistem pengamanan lingkungan/sekuriti) terhadap harta benda milik penghuni perumahan. Walaupun kita sudah memenuhi semua kewajiban yang berkaitan dengan hal dimaksud yang diatur oleh pengelola perumahan, seperti yang sedang saya alami di Perumahan Bukti Sentul.
Di kompleks Perumahan Bukit Sentul ada ketentuan/kewajiban bagi setiap penghuni/warga untuk membayar iuran keamanan Rp 170 ribu per bulan yang disetor bersamaan dengan iuran bulanan air bersih (walau kadang-kadang keruh). Kemudian, bagi setiap mobil yang memasuki kawasan perumahan, baik milik penghuni maupun tamu, petugas satpam di pintu gerbang menyerahkan kartu tanda masuk (tanda pengenal khusus).
Apabila seseorang ingin keluar dengan mobilnya dari lokasi perumahan, kartu tanda masuk tersebut harus diserahkan kembali di pos satpam/pintu gerbang kembali. Namun, kalau tertinggal atau lupa membawanya, ia harus meninggalkan KTP dan STNK mobil bersangkutan. Ini artinya kartu tanda masuk tersebut tentu pantang disimpan di dalam mobil, untuk menghindari pencurian. Hal itu memang selalu "didengungkan" oleh petugas satpam untuk warga yang punya mobil.
Akan tetapi, aneh bin ajaib, beberapa hari lalu (waktu magrib/senja hari) salah satu mobil saya (minibus Carry Futura 1,6) hilang begitu saja tanpa hambatan diboyong oleh pencuri dari anjungan rumah saya, di tengah-tengah patroli rutin satpam dan penjagaan di pintu gerbang yang berlapis. Ajaib karena kartu tanda masuk atau keluar masih ada pada saya, berikut kunci asli, STNK, dan BPKB. Saya pun aktif membayar iuran keamanan.
Pertanyaannya, mengapa mobil saya bisa lolos dari birokrasi satpam? Dengan memakai asas praduga tak bersalah, mari kita memasang logika atau mengkaji bersama sambil mengambil pelajaran bagi yang belum mengalaminya.
Selanjutnya, pada saat kejadian, cara penanganan yang dilakukan oleh petugas satpam sangat tidak profesional dan terkesan "tidak becus". Bayangkan, untuk menindaklanjuti kasus kehilangan tersebut ke polisi mereka harus menunggu/melapor ke komandannya dulu selama 24 jam setelah kejadian. Alasannya, si komandan hari itu tidak masuk kantor.
Sungguh sebuah tindakan yang konyol dan goblok untuk sebuah profesi.
Maka, dalam 24 jam tersebut tidak seorang pun petugas satpam (apalagi komandan) yang datang menemui saya, padahal sebelumnya saya ditahan untuk tidak melapor dulu ke polisi. Akhirnya saya berinisiatif sendiri untuk melapor ke pos polisi terdekat tanpa didampingi oleh petugas satpam kompleks.
Dalam prosesi pelaporan itu pun saya tidak ditanyai apa-apa oleh petugas satpam yang lalu lalang di dalam kompleks. Belakangan saya ketahui berita kehilangan itu baru tersosialisasikan di kalangan korps satpam setelah dua hari kemudian. Sungguh keterlaluan untuk sebuah lingkungan perumahan "sekaliber" Bukit Sentul yang mengklaim dirinya sebagai "idaman".
Celakanya lagi ketika saya meminta pertanggungjawaban kepada pimpinan PT Bukit Sentul, saya ditolak mentah-mentah--baik secara moril maupun materiil--dengan dalih bahwa kejadian tersebut tidak ada hubungan sebab akibat antara pengelola dan konsumen. Padahal, selama ini sering datang kuesioner untuk diisi oleh penghuni Bukit Sentul dengan dalih meningkatkan profesionalitas layanan.
Akan tetapi, kenyataannya pihak Bukit Sentul sangat tidak profesional dan tidak bersedia bertanggung jawab terhadap masalah warga, walau sebab akibatnya sudah terpenuhi dan berkaitan dengan ketentuan yang pernah dibuatnya sendiri. Semoga Anda tidak terkecoh dengan promosi Bukit Sentul.
Masthur Yahya SH
Jl. Gunung Salak No.30 (BGH)
Perumahan Bukit Sentul
Teliti Sebelum Berobat Alternatif
Membaca keluhan pembaca belakangan ini mengenai pengobatan alternatif, saya ingin memberikan tips kepada pembaca yang ingin mencoba pengobatan alternatif:
Ketahuilah terlebih dulu metode pengobatan yang dipergunakan (misalnya reiki, prana, energi, pijat, akupresur, totok, ramuan, tenaga gaib). Apakah Anda merasa masuk akal, yakin, dan sreg, baru dicoba.
Hati-hati dan telitilah terlebih dahulu obat-obatan yang diberikan, obat luar maupun obat dalam. Berbeda dengan kedokteran/farmasi yang di bawah pengawasan ketat Dirjen POM, pengobatan alternatif pengawasannya masih lemah. Ini untuk mencegah efek samping yang akan timbul.
Telaahlah apakah harga/ongkos berobatnya masuk akal. Jangan sampai mengeluarkan uang besar, namun kemudian kecewa.
Jadi, kita tidak bisa hanya menyalahkan penyembuh alternatif. Calon pasien juga harus mampu bersikap kritis sebelum mencoba pengobatan alternatif.
Welnaldi
Kelompok Diskusi Penyembuh Alternatif Indonesia
Perumahan Aneka Elok Blok D 17/12
Penggilingan, Pondok Kopi,
Jakarta Timur
No comments:
Post a Comment