Senin, 6 Agustus 2007.
Dua Desa di Kawasan Baduy Luar Kekeringan
Senin, 06 Agustus 2007 | 13:59 WIB
TEMPO Interaktif, Lebak:Ratusan warga Badui Luar yang tinggal di kawasan pemukiman baru di Desa Kanekes dan Cisemeut, Kecamatan Lauwidamar, Kabupaten Lebak, Banten mulai dilanda kekeringan. Cuaca panas yang melanda daerah ini sejak sebulan belakangan mengeringkan air di sumur mereka. "Semua sumur warga di sini sudah kering." kata Hamidi, warga Kanekes, Senin (7/8).
Dari 60 keluarga yang ada di desa Kanekes, nyaris semua tidak miliki persediaan air bersih.
Menurut Hamidi, dua tahun lalu, warga tidak mengalami kesulitan air seperti sekarang ini meskipun panas berkepanjangan. "Tapi sekarang panas dua minggu saja air sumur sudah kering,� katanya.
Beberapa warga mengatakan, selama ini mereka menggunakan sumur tanah sebagai sarana memperoleh air. Namun, sejak awal Juni, sumur-sumur tersebut tak mengeluarkan air yang cukup. Jika tetap mengandalkan sumur, warga harus menggali lebih dalam lagi. Usaha terakhir ini tak banyak dilakukan karena kebanyakan anggota masyarakat tak punya biaya. Akhirnya untuk mencukupi kebutuhan air, setiap hari warga antri untuk menggunakan sungai Cisemuet yang sudah mulai surut.
"Harus ada langkah terobosan dari pemerintah untuk mengatasi kekeringan ini. Kalau tidak, kekeringan ini akan berubah menjadi kerawanan pangan dan penyakit," ujar Idi Rosidi, warga Cisemeut lainnya.
Kekeringan juga melanda ratusan warga di pantai utara Kabupaten Serang, Banten. Akibat kekeringan, warga di daerah ini terpaksa menggali sungai kering untuk mendapatkan air. Kendati air hasil galian itu berwarna coklat dan berbau, warga tetap menggunakannya untuk mandi, mencuci, dan untuk memasak karena tidak ada sumber air bersih lain.
Berdasarkan pantuan Tempo, Senin (7/8), beberapa warga tengah menggali tanah di saluran irigasi yang telah lama mengering. Beberapa warga juga terlihat tengah menimba air di sumur hasil galian tersebut.
Lokasi penggalin sungai dan saluran irigasi yang kering itu dilakukan warga di sejumlah Desa di Kecamatan Kasemen dan Pontang, Kabupaten Serang. Sumur-sumur kecil berdiameter kurang dari satu meter berjajar di sepanjang saluran irigasi yang sudah lama kering.
Beberapa warga mengatakan, penggalian sungai dan saluran irigasi itu mulai marak dilakukan sejak dua pekan lalu. �Sudah hampir sebulan ini air bersi benar-benar susah didapat," kata Dadang warga Desa Sawaluhu. Kecamatan Kasemen.
Menurut Dadang, biasanya, warga menggunakan air itu untuk keperluan mandi dan mencuci, termasuk mencuci beras serta bahan makanan lain. Untuk keperluan minum, sebagian warga membeli air bersih bantuan dari pemerintah seharga Rp 5.000 untuk 60 liter air. �Kalau kepepet banget enggak punya uang, ya terpaksa minum air kali. Didiamkan semalaman, baru dimasak,� ujarnya.
Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Serang, Djoko Santoso mengaku sudah mengetahui warga yang kesulitan air. "Kami memang berencana mengirimkan air kesana," katanya.
Faidil Akbar
No comments:
Post a Comment