Cari Berita berita lama

Setelah Abuya Memilih Tobat

Selasa, 25 November 2003.
Setelah Abuya Memilih TobatPUKUL 06.30 di Kafe Qatrunnada, Semanggi, Kawasan Bisnis Sudirman, Jakarta. Sebagian besar jalanan Jakarta masih lengang, Sabtu pagi itu. Tapi, di Kafe Qatrunnada, kegiatan sudah dimulai. Sebagian kursi sudah terisi. Abu Rowaha, 30 tahun, dan dua koleganya berdiri di atas panggung. Lantunan nasyid bertajuk Asmaul Husna mengalun dari mulut mereka.

Suaranya merdu. Mereka mendendangkan lirik mengenai keagungan Tuhan Sang Maha Pencipta. Akapela bernuansa Islam itu selalu jadi pembuka acara siraman rohani bertajuk "Morning Motivation". Kegiatan itu berlangsung saban hari di kafe milik kelompok Rufaqa', selama kurang lebih tiga jam. Rufaqa' adalah julukan anyar organisasi keagamaan yang dulu beken dengan label Darul Arqam.

Kafe dua lantai yang berdiri di atas lahan 100 meter persegi itu mudah ditemui. Letaknya di pojok timur kawasan Tenda Semanggi. Di antara tempat makan yang berwarna hijau itu, Kafe Qatrunnada mudah dibedakan dari dindingnya yang oranye. "Morning Motivation" berlangsung di lantai II.

Makanan yang disediakan gratis selama acara berlangsung. Di luar acara "Morning Motivation", ya, bayar. Kafe ini menyediakan makanan dan minuman beraneka jenis. Mulai makanan Indonesia, Cina, sampai Eropa. Semuanya dijamin bebas alhokol dan tak mengandung bahan yang diharamkan ajaran Islam.

Adnan Basalamah, 29 tahun, yang duduk di sudut kafe, menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Insinyur elektro dari ITB itu sesekali terpejam menikmati nyanyian. Konsultan di bidang teknologi informasi itu hampir saban hari mampir ke Qatrunnada.

Pagi itu, Adnan mengenakan celana jins biru, dipadu baju warna krem terang. Bujangan kelahiran Surabaya itu mengikuti "Morning Motivation"-nya Rufaqa' sejak masih digelar di Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan, Desember 2002. "Waktu itu, pesertanya hanya tujuh sampai sembilan orang," katanya. Sejak berpindah ke Semanggi, Maret lalu, yang datang berjibun. Pagi itu saja, yang datang sekitar 100 orang.

Adnan bergabung dengan Rufaqa' setelah diajak temannya yang lebih dulu mengikuti kelompok Al-Arqom. Hatinya jadi damai setelah itu. "Di sini bantuan Allah jadi begitu deras," katanya. Ia menemukan "sesuatu" yang lain. "Kesehatan roh. Itu yang selalu ditekankan di sini," katanya.

Abu Rowaha, yang mengenakan baju koko warna hijau tua, bersama dua temannya yang bersetelan hitam-hitam, masih melantunkan nasyid. Kelompok musik akapela itu berjuluk sama dengan nama kafe, Qatrunnada. Syairnya kali ini bertajuk Membangun Pribadi Agung. Ketiganya tak mengenakan serban, yang jadi ciri khas Al-Arqam di masa lalu. Mereka tampil klimis: jenggot dan kumis dicukur habis.

Rufaqa' memang sudah meninggalkan tradisi Al-Arqam yang eksklusif. Lihatlah tatkala Mawaddah, wanita Rufaqa' pelantun nasyid, tampil. Mereka tak lagi memakai cadar penutup muka. Para ustadnya juga tampil sebagaimana pria kebanyakan. Mereka rata-rata berbaju koko, celana kain, dan berkopiah. Kala tak sedang di acara pengajian, baju mereka seperti orang kebanyakan.

Kesan eksklusif dari cara berpakaian itu ditinggalkan sejak Abuya Syekh Imam Ashaari Muhammad At -Tamimi menanggalkan serban dan baju gamis, setelah bertobat di depan Dewan Fatwa Nasional Malaysia, Oktober 1994. Syekh Ashaari adalah pemimpin tertinggi Al-Arqam yang bermukim di Malaysia. Di negeri jiran itu, Aurad Muhammadiyah --ajaran yang dibawa Ashaari-- dilarang pemerintahan Mahathir Mohamad karena dituding menyalahi akidah Islam.

Sikap Pemerintah Indonesia terhadap Al-Arqam berbeda dari Malaysia. Ajaran ini tak pernah dimasukkan sebagai kelompok sesat oleh Kejaksaan Agung. Hanya, di beberapa daerah, Al-Arqam sempat dilarang (Lihat: Tobat Setelah Tudingan).

Kursi-kursi di Kafe Qatrunnada mulai penuh. Di antara yang hadir ada yang tak kebagian tempat duduk. Mereka berdiri. Lantunan syair-syair yang lagi-lagi soal keagungan Tuhan diperdengarkan. "Ini karya Abuya," kata Tengku Abdurrahman Umar, satu di antara ustad Rufaqa'. Abuya adalah panggilan untuk Abuya Syekh Imam Ashaari Muhammad, pemimpin tertinggi Rufaqa'.

Sebelum mengancik ke acara inti "Morning Motivation" berupa dakwah oleh guru-guru mengaji Rufaqa', suguhan siaran televisi Rufaqa' dipertontonkan. "Bertemu kembali dengan televisi Rufaqa Indonesia.... Dari Jakarta diberitakan....,�� begitu sang penyiar membuka acara. Materinya seputar peristiwa di Indonesia yang dikaitkan dengan petuah Abuya. Intiya, semua kejadian pasti ada hikmahnya. Semua ditentukan Allah SWT.

Selanjutnya adalah acara inti, yakni dakwah ustad Rufaqa'. Menurut Muhammad Halilintar Jundullah, pemimpin Rufaqa' Indonesia, dakwahnya bertujuan memupuk cinta kepada Allah dan kasih sayang kepada sesama. "Saya heran dengan orang yang memperjuangkan Islam tapi memakai jalan kekerasan," katanya.

Halilintar tak bisa memahami ada ulama yang mengizinkan aksi kekerasan seperti bom di beberapa wilayah Indonesia. "Banyak yang salah mengartikan Islam," katanya. Agar pemahaman terhadap Islam makin menyebar, salah satu jalan yang ditempuh adalah motivasi pagi di Semanggi itu, yang boleh diikuti siapa pun.

Saat ini, kelompok Rufaqa' sudah tak memikirkan lagi adanya tudingan sesat seperti dialamatkan kepada mereka ketika bernama Darul Arqam. "Bukan masanya lagi bicara soal itu," kata Halilintar Muhammad Jundullah. Halilintar adalah orang kedua di Rufaqa' setelah Abuya. Ia juga jadi tangan kanan Abuya di sektor bisnis.

Sang pemimpin Rufaqa' Indonesia itu kini hidup di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, salah satu kawasan elite di Jakarta Selatan. Halilintar hidup serumah dengan dua istri dan enam anaknya. GATRA, yang waktu itu makan bersama dengan keluarga Halilintar di rumahnya, melihat bagaimana dua istrinya tampak rukun.

Usai makan, satu istrinya membasuh tangan Halilintar yang kotor oleh sisa makanan. Istri satunya lagi mengelap tangan Halilintar yang masih basah dengan kain. Bagi pengikut Rufaqa', hidup berpoligami memang hal biasa (lihat: Poligami Karena Allah).

Sang ustad mulai membaca doa. Ini menjadi penutup acara pagi itu. Beberapa yang hadir masih berdiam sebentar. Selanjutnya mereka mendatangi secara pribadi ataupun berkelompok ke beberapa ustad Rufaqa' yang hadir. Mereka meminta petuah dan saran tentang berbagai masalah yang sedang dihadapi. Beberapa yang lain beranjak pulang. Rata-rata mereka bermobil.

Irwan Andri Atmanto dan Luqman Hakim Arifin
[Komunitas, GATRA, Edisi 2 Beredar Senin 17 November 2003]



Poligami Karena Allah
HAMPIR semua pemimpin dan pengikut jamaah Rufaqa' mengamalkan poligami. Pernyataan itu bisa Anda temui dalam buku susunan Dr. Ing. Abdurrahman R. Effendi, berjudul Abuya Syekh Imam Ashaari Muhammad At-Tamimi: Diakah Mujaddid di Kurun Ini. Di buku terbitan Juli 2003 itu, Abuya menyatakan, poligami tak sekadar jalan keluar bagi laki-laki dan penyelamat wanita. Juga menjadi satu cara mendidik para pejuang, pemimpin, dan wanita menuju takwa.

Poligami menjadi salah satu cara membangun kebesaran Islam. Ashaari Muhammad beristri empat dengan 40 anak. Keempat istri dan anak-anaknya hidup serumah dengannya. Anak-anaknya juga mengamalkan poligami. Hingga diterbitkannya buku itu, cucu Abuya berjumlah 150 orang.

Menurut Abuya, pengamal poligami sebaiknya serumah dengan para istri. Maksudnya, agar setiap istri bisa berjumpa setiap hari dengan suami, dan anaknya mendapat kasih sayang lebih dari banyak ibu.

Dr. Abdurrahman, yang juga Wakil Presiden Rufaqa' Group, beristri empat pula. Kesemuanya tinggal serumah. Istri pertamanya, Dr. Gina Puspita, ikut membantu penulisan buku Diakah Mujaddid tadi. Gina adalah teman kuliah Abdurrahman semasa di ITB. Gina-lah yang memilihkan tiga istri muda buat Abdurrahman. "Kalau suami sedang dengan istri lain, kami ngobrol di satu kamar," kata Gina. Bila di luar kota, mereka saling berkirim SMS. "Pokoknya akrab," katanya.

"Poligami yang didasarkan pada Allah SWT tak akan menimbulkan masalah," kata Gina. Kalaupun ada yang susah setelah berpoligami, menurut dia, itu bukan salahnya poligami, melainkan pengamalnya.

No comments:

Post a Comment