Rabu, 19 Juli 2006.
Pameran Lukisan Harisman Memotret Figur
Gencarnya acara di televisi yang menampilkan banyak sosok tokoh masyarakat menjadi sumber inspirasi utamanya.
Kreativitas memang bisa muncul dari mana saja. Bagi orang yang jeli, setiap hal yang ditangkap melalui indranya bisa menjadi sebuah karya yang istimewa. Agaknya itu pulalah yang terjadi dengan Harisman, seorang pelukis realis yang sering melukis figur. Gencarnya acara di televisi yang menampilkan banyak sosok tokoh masyarakat menjadi sumber inspirasi utamanya. Tak heran dalam pameran tunggalnya yang digelar di Boulevard Lounge Hotel Nikko Jakarta, para penikmat lukisan disuguhi berbagai lukisan tokoh masyarakat. Lukisan yang dipamerkan mulai dari lukisan kepala negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan para mantan presiden seperti Soeharto, BJ Habibie, Megawati, Gus Dur, hingga Soekarno hingga lukisan selebritis yang sering menghiasi layar kaca. Lukisan para bintang yunior yang tengah naik daun bersanding bersama para bintang senior, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun. Di antara mereka adalah Dian Sastro, Mariana, Luna Maya, Ririn Ariyani, Aril Peterp!
an, Aming, Tora Sudiro, Agnes Monica. Sementara di deretan bintang senior ada pasangan artis Widyawati dan Sophan Sophiaan, Deddy Mizwar, Titik Puspa, Namun tak hanya itu, Harisman juga melukiskan beberapa tokoh di bidang lainnya. Di antaranya adalah Miranda Goeltom, Peter Gontha, Andi Malarangeng, Jakob Oetama, Agum Gumelar, Adjie Notonegoro, Adrie Soebono, dan Titik Soeharto. Total ada 72 lukisan figur yang berhasil ia buat dalam waktu dua bulan dan ia pamerkan di tempat ini. Proses pemilihan sosok ini terbilang unik. Pasalnya, Harisman mengaku ia tidak secara sengaja memilih objek yang ia lukis. ''Ketika saya diminta menggambar lukisan figur, mereka inilah yang terbayang dalam benak saya,'' jelasnya. Menurutnya, figur-figur ini merupakan sosok orang yang terekam dengan baik di benaknya selama periode tahun 2000 hingga 2006. ''Mereka bukan saya pilih, tapi mereka yang sosoknya saya ingat,'' katanya. Para tokoh ini diakuinya, bisa jadi muncul karena ia sering lihat ataupun!
karena berkesan. ''Namun tidak ada unsur penilaian wajah atau!
prestas
i,'' ungkapnya. Sosok Titik Soeharto misalnya, diakuinya, sosok putri mantan presiden Soeharto ini muncul karena tayangan piala dunia yang baru saja berlalu. Pada tayangan yang kerap diikuti Harisman ini, sosok Titik muncul sebagai presenter yang menuai kontroversi. ''Makanya kenapa sosoknya teringat terus,'' ujarnya. Hal unik lainnya adalah lukisannya tentang sosok diva musik Indonesia, Krisdayanti. Dalam lukisannya, Harisman menggambarkan sosok KD dengan penampilan lamanya yang masih gemuk dan tidak semodis saat ini. Terhadap lukisan ini, Harisman punya penjelasan. Ia mengaku melukis KD sesuai dengan ingatannya terhadap sosok sang artis sekitar 13 tahun yang lalu. Saat itu ia masih bekerja di sebuah bank swasta ketika bertemu dengan KD dengan penampilan seperti yang dilukiskannya. ''Ya lukisan itu merupakan KD 13 tahun lalu,'' katanya. Namun, sebagian besar dari lukisannya tidak ia dapatkan dengan bertemu sang artis untuk ia gambar secara khusus. Selain rekaman ingatan, ia!
juga mendapatkan potret figurnya dari tayangan televisi maupun potongan koran atau majalah. Sosok Megawati yang ia gambarkan berkebaya merah, didapatkannya dari sobekan sebuah surat kabar. ''Sisanya rekaman isi kepala saya dan modifikasi karena gambarnya itu hitam putih,'' katanya. Sosok Harisman, meski baru belakangan muncul lagi, namun pelukis berdarah Sumatera Barat ini bukan orang baru di dunia lukis. Sebelum akhirnya kembali menekuni dunia lukis sekarang ini, ia sempat terjun ke dunia periklanan dan perbankan. Namun di tahun 2005, setelah keluar, ia memilih kembali lagi menggeluti hobi dan bakat alaminya sebagai pelukis realis. Harisman memang dikenal sebagai pelukis figur, pasalnya ia sendiri tidak terlalu suka melukis tema. ''Kalau tema agak berat karena kita harus berpikir dulu tentang apa yang ingin kita gambar,'' jelasnya. Yang luar biasa dari sosoknya adalah ia berhasil menggabar ke-72 tokohnya ini dalam waktu dua bulan saja. Ia mengaku dalam sehari ia bisa melu!
kis dua hingga tiga figur. Meski ia mengaku jarang menyelesaik!
an lukis
annya hingga tuntas betul. Lukisan Ahmad Dhani misalnya, ia gambar hanya setengah badan yang utuh, sementara sisanya masih berupa sketsa putih. Menurutnya, ia tidak menyelesaikan lukisan itu bukan karena apa-apa, tapi karena lukisan itu ia anggap sudah jadi. ''Kesannya memang belum selesai, tapi justru itu sudah selesai,'' jelasnya. Menurutnya, tanpa harus ia selesaikan dan beri nama sang tokoh, orang sudah bisa mengenali. ''Itu artinya lukisannya sudah selesai,'' ujarnya.
(uli )
No comments:
Post a Comment