Minggu, 13 Januari 2008.
Duh, Suamiku Pecandu Narkoba
Dian namanya. Ibu muda berusia 30 tahun ini bersama anak semata wayangnya memilih kabur dari rumah. Ia tak tahan lagi menghadapi perilaku suaminya yang kecanduan narkoba. Sebenarnya suami Dian, Dicky, sudah berulangkali berjanji untuk bertobat. Tapi, janji tinggal janji. Jangankan menjauhi narkoba, pria berusia 35 tahun itu malah makin menjadi-jadi. Karena pengaruh barang haram itu, perilakunya tak terkontrol. Ia jadi ringan tangan dan suka melontarkan kata-kata kotor. Pernah suatu kali, ketika sakaw, Dicky datang ke kantor Dian. Sang istri yang menjabat sebagai manajer keuangan di perusahaan ternama dimaki-maki di depan rekan-rekan kerjanya. Tentu saja, Dian malu bukan main. ''Saat itu saya benar-benar malu. Di kantor saya dihormati, oleh suami malah dimaki-maki. Saya merasa tidak mempunyai harga diri lagi di hadapan anak buah saya,'' ujarnya. Dian sendiri mengaku sudah melakukan banyak hal untuk menyadarkan suaminya. Dari sekadar nasihat sampai mengirimnya ke pant!
i rehabilitasi. ''Puluhan juta habis untuk biaya rehabilitas. Hasilnya, nol,'' kata Dian, emosi. Akhirnya, Dian tak tahan lagi. Ia memilih angkat kaki dari rumah dan kembali ke rumah orangtua. Dan tak lama setelah kembali ke pangkuan orangtua, Dian mendengar kabar, Dicky meninggal dunia di rumah sakit. Ia over dosis. Dicky bukanlah satu-satunya pria di negeri kita yang tak kuasa melepaskan diri dari jerat narkoba meski telah berkeluarga. Alhasil, keharmonisan keluarga pun porak-poranda. Menjadi istri seorang pecandu narkoba, seperti dialami Dian, tentu hal yang sangat tidak mudah. Walau tak mudah, bukan berarti menyerah, kan? Psikolog Karolina Dalimunthe SPsi memberikan sejumlah saran. Menurut dia, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan dilakukan oleh istri terhadap suaminya yang kecanduan narkoba. Jika tingkat kecanduannya belum parah, tak ada salahnya memberi kesempatan dulu kepada suami untuk berubah. Lakukanlah pendekatan, bicara dari hati ke hati, dan berila!
h motivasi. Dengan cara ini, diharapkan suami bisa sadar dan t!
ak lagi
menjadi pemakai narkoba. Pada keadaan di mana suami masih bisa disembuhkan (kecanduan ringan), kata Karolina, sebaiknya istri tak buru-buru minta cerai. ''Kasihan suami karena dia sedang membutuhkan bantuan orang terdekat untuk sembuh. Lebih baik, lakukan upaya agar suami kembali pulih. Hadapi bersama dengan melakukan pengobatan atau ke tempat rehabilitasi,'' papar staf pengajar pada Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Bandung ini. Proses penyembuhan memang butuh waktu yang tidak sebentar. Dan kondisi ini bisa menimbulkan beban dan tekanan yang tidak ringan bagi istri dan anak-anak. Belum lagi pandangan masyarakat yang cenderung negatif terhadap mereka. Untuk meringankan beban itu, istri dan anak-anak harus mempunyai mekanisme healing (penyembuhan) bagi diri sendiri agar tak sampai stres. Caranya? ''Bisa curhat kepada teman atau melakukan relaksasi.'' Bagi suami yang sadar dan memiliki motivasi kuat untuk sembuh, maka proses penyembuhan akan berlangsung cepat. Tapi!
sebaliknya jika sang suami tak punya motivasi untuk sembuh. Kondisinya bakal makin parah. Nah, dalam hal ini, istri mesti bersikap tegas dengan memberi batas waktu kepada suami untuk berubah dan pulih sehingga bisa menjadi menjalankan fungsinya sebagai kepala keluarga. Jika sampai pada batas waktu itu, suami ternyata tak berubah juga, saatnya bagi istri untuk bertindak lebih tegas lagi. ''Kalau suami sudah parah bisa berbahaya terhadap fisik istri dan anak-anak. Lebih baik dipisahkan dulu dari anak-istri sampai suami benar-benar pulih.'' Jika suami tak sadar juga, bahkan perilakunya sudah membahayakan jiwa anak dan istri, menurut Karolina, tak masalah jika mereka bercerai. ''Daripada dibiarkan istri dan anak bisa menjadi 'arang'. Akibatnya semua bisa sakit.'' Namun terkadang, ada wanita 'super' yang tetap ingin mempertahankan perkawinan meski sang suami sudah menjadi budak narkoba. Jika ini yang terjadi, cobalah minta bantuan kepada pihak ketiga semisal keluarga terdekat!
atau sosok yang dihormati. Siapa tahu, kehadiran mereka bisa !
menumbuh
kan motivasi pada diri suami untuk melepaskan diri dari belenggu narkoba.
(vie )
No comments:
Post a Comment