Cari Berita berita lama

Psikiater Siap Beri Konsultasi

Kamis, 17 Oktober 2002.
Psikiater Siap Beri KonsultasiDenpasar, 17 Oktober 2002 13:07Sebanyak 30 dokter psikiatri (psikiater) di Bali siap memberikan konsultasi secara individu maupun massal, untuk memulih kondisi psikis korban selamat maupun masyarakat setempat, pasca tragedi ledakan bom yang merenggut 184 korban jiwa.

"Kami melihat, selain pengobatan secara fisik, konsultasi psikis itu tidak bisa diabaikan," kata Ketua Perhimpunan dokter psiatri Bali, kata Prof Dr dr Luh Ketut Suryani, DSJ di Denpasar, Kamis.

Ia mengatakan, jika pemulihan kondisi psikis para korban yang selamat, anggota keluarga dan masyarakat pasca peristiwa `malam minggu kelabu` itu tidak mendapat penanganan sebagaimana mestinya, dikhawatirkan menjadi permasalahan yang semakin berat.

Hal itu, sudah dikonsultasikan dengan Direktur RSUP Denpasar, untuk menyediakan sebuah ruangan konsultasi, yang lokasinya jauh dari kebisingan dan orang lalu lalang. Namun, belum mendapat perhatian, katanya.

"Kemarin seorang pasien yang selamat dalam tragedi peledakan bom konsultasi, merasa ketakutan, dihantui kobaran api," ungkap Suryani, Guru Besar Unud ini.

Jiwanya kurang stabil, karena selalu sedih dan ketakutan, setelah suaminya tewas dalam ledakan bom yang dahsyat.

"Kami akan memberikan konsultasi massal kepada masyarakat atau siapa saja, pada Sabtu mendatang (19/10) di wantilan DPRD Bali," ujar

Suryani seraya menambahkan, pihaknya juga sedang mengadakan pendekatan kepada sejumlah hotel untuk menyediakan ruangan khusus memberikan konsultasi psiater kepada karyawan hotel bersangkutan.

Ibu dari enam putra-putri itu, melihat selain pasien dan keluarganya yang perlu mendapat konsultasi psiater, para dokter, tenaga medis, sukarelawan, dan semua pihak termasuk wartawan berkaitan dengan tragedi `malam minggu kelabu`, perlu memperhatikan keseimbangan mental.

Hal itu ditekankan, mengingat dokter, paramedis, sukarelawan dan petugas lainnya yang bekerja secara terus menerus, tanpa istirahat yang memadai itu, sudah mulai menunjukan gejala-gejala kelelahan, sehingga mudah marah.

Jika hal itu dibiarkan dan terus berlangsung, dikhawatirkan bisa menimbulkan kecemasan, panik dan akhirnya depresi, sehingga mengganggu produktivitas kerjanya.

Oleh sebab itu, sejak dini harus mendapat penanganan, antara lain menjaga keseimbangan fisik dan istirahat yang cukup serta mengkonsumsi vitamin B1 atau B komplek untuk menormalkan peredaran sel-sel tubuh, ujar istri Dr dr Tjokorde Alit Kamar Adnyana ini. [Tma, Ant]

No comments:

Post a Comment