Cari Berita berita lama

Pesan Raissa dari Singapura

Kamis, 13 Maret 2003.
Pesan Raissa dari SingapuraEMBUSAN angin menyisir pantai, lalu menyapu wajah Raissa. Gadis mungil yang Kamis pekan lalu berusia empat tahun itu tampak mantap berjalan melewati hamparan karpet merah, menuju podium, tak jauh dari bibir laut. Sejurus kemudian, dengan dibimbing ibunya, Maera Hanafiah, cucu Arifin Panigoro itu menekan tombol. Bersamaan dengan itu, beberapa botol dalam satu untaian melayang menabrak dinding anjungan pengebor minyak ...praak! Guntingan kertas warna-warni melayang. Sekitar 300 hadirin bertepuk meriah.

Ini merupakan puncak acara peresmian rig alias anjungan pengebor sumur minyak ke-16 milik PT Apexindo Pratama Duta, anak perusahaan Medco Group. Anjungan yang dibuat dengan biaya US$ 50 juta ini diberi nama Raissa, sama dengan cucu Arifin. Acara ini berlangsung di galangan kapal Keppels, kawasan Jurong, Singapura, Sabtu dua pekan lalu.

Arifin semula berniat membuat Raissa di galangan lokal. Tapi, biayanya amit-amit, hampir dua kali lipat. Selain itu, waktu pengerjaannya juga lebih lama. Apa boleh buat, pilihan akhirnya jatuh ke Keppels.

Dalam sambutannya mewakili Medco, Maera mengatakan, selepas dari Keppels, Raissa segera mengebor ke dalam laut, mencari duit. "Cuma ada satu wanita Indonesia yang bisa menyainginya dalam mengumpulkan uang, yaitu Inul Daratista, penyanyi dangdut dari Pasuruan," ujarnya berseloroh, yang disambut tawa hadirin. Kebetulan, sehari sebelumnya koran kondang setempat, The Strait Times, memuat berita soal Inul di halaman depan.

Usai diresmikan, Raissa memang langsung mengarungi lautan menuju delta Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, yang akan tiba akhir pekan ini. Di sini ia akan beroperasi di bawah bendera Total Finaelf. Raksasa minyak dari Prancis itu menyewanya dengan harga US$ 46.000 per hari, plus biaya operasi US$ 12.000.

Hari itu, Arifin Panigoro tampak menjadi orang yang paling bahagia. Sebagai tuan rumah, ia benar-benar menjadi bintang. Sejumlah eksekutif top di bidang perminyakan ikut menyaksikan. Menteri Energi, Purnomo Yusgiantoro, dan mantan Sekretaris Jenderal OPEC, Subroto, tak ketinggalan. Acara ini juga dihadiri Presiden Direktur Total Finaelf Indonesia, Mr. Roland Festor, dan istrinya, Francoise Festor.

Sejumlah politikus dari PDI Perjuangan juga ikut diundang, mulai PramonoAnung, Meilono Suwondo, Surya Candra, Didik Supriyanto, sampai Emir Moeis. Irwan Prayitno, Ketua Komisi VIII dari Fraksi Reformasi, juga bergabung. Puluhan wartawan pun ikut diboyong. Para undangan itu menginap di Hotel Conrad International. Mereka dijamu dengan sajian makanan kelas I. Kabarnya, untuk biaya akomodasi saja, Arifin mengeluarkan duit tak kurang dari Rp 1 milyar.

Yang menarik, dalam acara cocktail party, pria berkepala botak asal Bandung, Jawa Barat, itu dengan bangga mengatakan bahwa pendapatannya dalam sehari kini tak kurang dari US$ 2 juta. Ia juga bertekad menjadi pembayar pajak terbesar tahun ini.

Direktur Keuangan Medco Energi, Sugiharto, menjelaskan asal-usul pernyataan Arifin itu. Menurut dia, tahun lalu total pendapatan Medco Energi sekitar US$ 1 milyar. Sekitar US$ 600 juta disetor ke pemerintah dalam bentuk pajak ataupun sharing sebagai KPS. Sisanya masuk ke kantong Medco. Pasokan dari Medco Energi itu sekitar 90% dari total pemasukan Medco Group. Artinya, kalau dihitung pendapatan kotor, dalam sehari bisa hampir US$ 3 juta.

Keruan saja, pamer Arifin itu lantas jadi gunjingan. Bukan hanya di kalangan peserta yang menyaksikan acara tersebut, melainkan juga berembus sampai di Tanah Air. "Ia sedang show of force," kata sumber Gatra di PDI Perjuangan. Sumber tadi menyebutkan, beberapa pentolan "partai banteng" ini sempat bertanya-tanya, apa memang benar kekayaan Arifin sudah sedahsyat itu.

Malah pengamat politik Fachry Ali menangkap lebih jauh. Sebagai pengamat politik, ia tak mau melewatkan begitu saja pernyataan Arifin yang dinilainya bernuansa politis itu. Apalagi, ia dikenal sebagai politikus berpengaruh. Melalui pernyataannya itu, Fachry menduga ada pesan yang hendak disampaikan Arifin.

Pertama, Arifin ingin menunjukkan kepada publik, khususnya para petinggi PDI Perjuangan, bahwa ia tetap kokoh pada basis politiknya: kapital. Untuk bisa menjulang sebagai tokoh politik, seseorang bisa melalui lima tangga, yaitu bakat, karisma, kemampuan organisasi, manipulasi politik, dan kapital. Megawati merupakan contoh politikus yang mengandalkan karisma. Akbar Tandjung menjadi contoh baik dari jalur kemampuan organisasi. "Nah, Arifin ini ingin menegaskan bahwa basis kapital tak bisa diremehkan," katanya.

Menurut Fachry, pesan ini penting, lantaran belakangan Arifin kurang diberi peran oleh Megawati. Padahal, tokoh ini sangat berjasa dalam menggalang lintas fraksi untuk menjatuhkan Gus Dur dan menaikkan Megawati. Ia tampil untuk mengambil inisiatif terdepan. "Tapi, balasan yang diterimanya tak sepadan," katanya kepada Gatra.

Kedua, Arifin juga hendak menyindir teman-temannya di kabinet yang lagi getol menjual aset-aset negara dengan bungkus privatisasi. Sebagai putra pribumi, Arifin kini justru gencar melebarkan sayapnya untuk menjadi pemain minyak dan gas (migas) yang disegani.

Tapi, Didik Supriyanto, kolega Airifin di PDI Perjuangan, tak melihat sejauh itu. Pengacara ini mengaku tak tahu omongan Arifin itu menjadi gunjingan. "Saya kira, Pak Arifin cuma ingin menegaskan bahwa sebagai usahawan ia cukup sukses," kata Didik kepada Gatra. Dari pergaulan dekat, anggota Komisi VIII ini percaya bahwa bos Medco itu memang punya pendapatan melimpah. Arifin dikenal sebagai pengusaha pribumi yang ulet.

Ketika berbagai analisis ini dikonfirmasikan kepada Arifin, ia cuma ketawa. "Saya sih bukanya mau pamer. Juga tak ada pesan ini-itu. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa sebagai pengusaha, kalau memang serius, juga bisa sukses," katanya.

Menurut dia, pendapatannya yang besar sekarang itu diperoleh dari hasil jerih payahnya selama ini. Setelah lulus dari Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, ia lantas mendirikan perusahaan kontraktor yang bergerak di bisnis pemasangan pipa air dan instalasi listrik. "Saya dulu juga ikut gelantungan memasang listrik," katanya.

Pada awal 1980-an, ia mulai merambah bisnis perminyakan. Saat itu ia berkenalan dengan Ginandjar Kartasasmita, yang menjadi anak buah Sudharmono di Sekretariat Negara. Ginandjar dipercaya menjadi Ketua Pelaksana Tim 10 yang dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 14 dan 14A Tahun 1980. Tim ini disebut-sebut banyak membesarkan pengusaha pribumi yang mendukung Golkar. Bersama Aburizal Bakrie, Iman Taufik, Fadel Muhammad, Jusuf Kalla, dan Agus Gurlaya Kartasasmita, Arifin masuk kelompok ini. Publik lantas menyebut mereka "Ginandjar Boys".

Kendati dekat dengan pejabat yang berkuasa, toh urusan bisnis tak selamanya mulus. Malah, Arifin mengakui, sampai akhir 1980-an, bisnisnya lebih banyak jalan di tempat. Ia memang punya sejumlah drilling. Juga mulai merambah ke sektor lain, misalnya perhotelan. "Tapi, masa itu kami jatuh-bangun, berdarah-darah," ia mengenang.

Toh, ia tak putus asa. Ia yakin, kalau terus fokus, akan menuai hasil. "Para kreditur juga akan percaya kita punya reputasi," ujarnya. Tapi, ia mengakui, selain berkat kerja keras, sepak terjang bisnisnya juga disokong nasib baik. Misalnya ketika pada 1995 Medco mengakuisisi PT Stanvac Indonesia dari ExxonMobil. Saat itu banyak yang mengira Medco tak bakal mendapat apa-apa dengan mengambil alih lapangan bekas di Sumatera Selatan. Ternyata, setelah dikeduk, "barang rongsokan" itu justru berproduksi bagus sampai sekarang.

Dari sini, Arifin makin memperkokoh bisnis intinya. Meski sempat melebar ke sejumlah bisnis lain di luar migas, ia tetap mengandalkan bisnis di sektor migas ini. "Dulu diversifikasi macam-macam memang lagi musim. Maunya ingin merambah semua bidang. Tapi akhirnya banyak yang berjatuhan. Sekarang trend-nya kan fokus pada bisnis inti," katanya kepada Gatra.

Setelah Medco malang melintang di bisnis perminyakan, pada 1998 ia mulai mundur dari jajaran manajemen Medco. Ini bersamaan dengan mulai aktifnya dia di medan politik. Arifin cuma duduk sebagai dewan penasihat bersama mantan Menteri Pertambangan, Subroto, dan bekas Menteri Kehakiman, Ismail Saleh.

Kini, Arifin yang berdasarkan laporan kekayaan KPKPN tahun 2001 mempunyai harta sekitar Rp 270 milyar itu, lebih banyak meluangkan waktunya untuk kegiatan yang bersifat rekreatif setelah tak banyak diberi peran di pentas politik. Misalnya mendengarkan musik. Ia menyukai segala jenis musik, mulai pop, klasik, sampai kadang-kadang dangdut pun oke. Ia juga tak asing dengan nama Inul Daratista, yang belakangan jadi gunjingan. "Kalau saya ketemu dia, nanti orang bilang raja dan ratu ngebor bersatu," katanya, berkelakar.

Ia juga makin rajin berolahraga. Hampir tiap pagi tak melewatkan bermain tenis di lapangan samping rumahnya, di Jalan Jeruk Purut, Jakarta. Kadang-kadang main golf. Arifin, yang mengaku doyan makan, juga gemar mentraktir relasinya mencicipi makanan kelas I. Sekali makan, untuk satu orang bisa menghabiskan duit tak kurang dari Rp 1 juta. Restoran-restoran top di Jakarta yang menyajikan masakan Jepang, Italia, dan Cina menjadi langganannya.

Meski namanya di pentas politik kini agak tenggelam, bukan berarti Arifin melepaskan diri. Panggung politik tak akan ditinggalkannya. Seperti halnya dalam adegan film, seorang aktor tahu kapan harus tampil ke depan menghunus senjatanya. Ada pula saatnya untuk bersembunyi, sambil mengelus-elus pistolnya. "Mungkin saya sekarang dalam posisi ini," katanya sembari tertawa.

Dalam masa senggang mengasah senjatanya itu, kini Arifin lebih leluasa memikirkan masa depan bisnisnya.

Saiful Anam, Sigit Indra, dan Asmayani Kusrini
[Laporan Khusus, GATRA, Nomor 17 Beredar Senin 10 Maret 2003]



1973:
Setelah lulus dari Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, 1973, Arifin Panigoro menggeluti bisnis kontraktor pemasangan pipa air dan instalasi listrik.

1980:
Ia membentuk PT Medco Antareja, bergerak di bidang pemboran minyak dan gas. Tahun 2001, Antareja dimerger dengan PT Apexindo Pratama Duta. Kini, Apexindo mempunyai 16 anjungan.

1984:
Mulai terjun ke bisnis perhotelan. Sejumlah hotel dikendalikannya, antara lain Hotel Preanger (Bandung, Jawa Barat), Novotel Bukittinggi (Sumatera Barat), dan Bali Imperial Hotel (Legian, Bali).

1991:
Mendirikan perusahaan properti PT Graha Niaga Tata Utama. Proyek pertamanya membangun Niaga Tower, Jalan Sudirman, Jakarta.

1992:
Mengambil alih PT Bank Himpunan Saudara (HS) 1906, bank tertua di Bandung. Bank HS 1906 sekarang mempunyai 14 cabang di Jakarta dan Bandung.

1993:
Mendirikan PT Medco Agro yang bergerak di perkebunan kelapa sawit, di Kalimantan Selatan. Setahun kemudian, ia mendirikan PT Sarana Jabar Ventura, membantu usaha kecil dan menengah.

1994:
Meluaskan jangkauannya ke bidang eskplorasi dan produksi, dengan mendirikan PT Medco Energi International. Perusahaan ini masuk pasar modal pada 12 Oktober 1994. Pada tahun yang sama, Arifin berekspansi ke bisnis makanan, dengan mendirikan PT Sentrafood Indonusa di Karawang, Jawa Barat, dan PT Sentraboga Intiselera di Pandaan, Jawa Timur. Keduanya memproduksi mi.

1995:
Mengakuisisi saham PT Stanvac Indonesia dari ExxonMobil. Medco sejak tahun itu memiliki sumur minyak di Sumatera Selatan.

1996:
Medco Non-Energi mendirikan PT Metrix Indonesia yang bergerak di bisnis distribusi. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan perusahaan konstruksi dan fabrikasi.

1997:
Medco Energi meluaskan bisnisnya, bekerja sama dengan Pertamina mendirikan PT Medco Methanol Bunyu, mengelola pabrik metanol di Pulau Bunyu.

2000:
Mengambil alih tiga lapangan migas di Simenggaris, Madura, dan Senoro (Sulawesi).

2003:
Peresmian anjungan baru, Raissa. Arifin mengumumkan, pendapatan Medco sehari US$ 2 juta-US$ 3 juta.

No comments:

Post a Comment