Kamis, 18 November 2004.
Tak Ada Lagi Rasa SentimentalCondoleezza Rice, pemimpin Dewan Keamanan Nasional, sangat terampil bermain piano. Ia tidak akan mempermalukan siapa pun jika bersedia tampil di konser. Sering kali, di hari Minggu, Rice melatih pianonya bersama sejumlah teman. Ia memiliki komponis favorit. Namanya Brahms.
Alasannya? Musik Brahms sangat kuat tapi tidak sentimental. "Dan saya sebenarnya tidak peduli dengan musik romantis Rusia seperti Tchaikovsky dan Rachmaninoff. Dalam Brahms, semua terjaga. Ada perasaan bahwa ketegangan itu terus berjalan," katanya. "Saya tidak suka musik sentimental, sehingga tidak suka Liszt."
Karakter Rice yang tidak suka hal-hal sentimental agaknya tecermin soal kebijakan Amerika Serikat. Pandangannya agak sulit diketahui karena ia terbiasa berbicara secara tertutup. Tapi sejumlah rekan Rice percaya sekarang adalah persaingan antara modernitas melawan fundamentalis.
"Mereka percaya bahwa 11 September adalah bel yang membangunkan dan sesuatu mesti dilakukan--menyakitkan, keras, tapi mesti dilakukan--dan biarkan jatuh apa yang mestinya jatuh," kata Coit Blacker, Direktur Institut Studi Internasional di Stanford University dan salah satu teman Rice.
Namun, tentu bukan karena ia bukan orang sentimental sehingga ia dipilih Presiden George Bush menggantikan Colin Powell sebagai menteri luar negeri. Selain terkenal sangat berotak sangat tajam, ia adalah pejabat paling dekat dengan Bush, kadang malah disebut sudah mirip anggota keluarga. Alasan ini pula yang diberikan Bush untuk membujuk Rice.
Masuknya Rice karena Bush memang sudah lebih sebulan silam memutuskan tidak akan mempertahankan Powell, yang sudah berbulan-bulan menyinggung-nyinggung keinginan mundur.
Jadi saat Condoleezza Rice, yang berada di Camp David seminggu setelah pemilu, mengatakan bersedia tetap di pemerintahan selama empat tahun ke depan, Bush langsung menawari jabatan menteri luar negeri.
Posisi ini--menurut sejumlah teman-temannya--ia sebut kurang cocok karena ia kurang sabar. "Ia sangat ingin memimpin Departemen Pertahanan," kata bekas staf Rice. "Tapi Presiden tidak ingin mengganti kuda di tengah peperangan."
Saat membujuk, Bush mengatakan bahwa mereka berdua memiliki kedekatan pribadi yang bisa meyakinkan sekutu dan negara seteru macam Iran atau Korea Utara. Semua tahu Rice dengan gampang berbicara dengan Bush, tidak seperti Powell.
"Dunia mungkin senang berurusan dengan Powell--kita semua senang--tapi tidak pernah jelas apakah ia akan menyampaikan pembicaraan pada Presiden," kata bekas pejabat yang dekat dengan Rice dan sering ikut rapat di Gedung Putih.
Powell berusaha setengah mati membujuk dunia internasional mendukung peperangan di Irak. Usaha ini boleh disebut gagal total meski ia kemudian dianggap wajah moderat dari pemerintahan garis keras Bush.
Sebaliknya, Rice pernah mengatakan hal galak soal tiga negara Eropa--Prancis, Jerman, dan Rusia--yang menentang invasi ke Irak. "Hukum Prancis, abaikan Jerman, dan maafkan Rusia," katanya.
Sebelum ditunjuk resmi, ia sudah memerintahkan dua staf seniornya, Elliott Abrams dan Daniel Fried, bertemu para diplomat Eropa agar mereka lebih terlibat dalam perundingan Israel-Palestina.
Ia juga memperingatkan Eropa agar tidak berjalan sendiri dengan rencananya dan membujuk Eropa mendukung Perdana Menteri Ariel Sharon yang akan menarik diri dari Jalur Gaza.
Meski Powell diganti Rice, bukan berarti persaingan Departemen Luar Negeri dengan Pentagon sudah selesai. Ini karena Rice beberapa kali berselisih pendapat dengan Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld. Meski persaingan ini lebih pada masalah detail, bukan prinsip.
Misalnya soal pendudukan Irak. Rice membentuk Grup Stabilisasi Irak yang tidak disetujui Rumsfeld. Staf Rice juga secara terbuka mengkritik Rumsfeld yang kurang perencanaan.
Begitu pula saat pelecehan narapidana di Abu Ghuraib. Rice, menurut sejumlah rekannya, jengkel karena Rumsfeld hanya mengirim stafnya--bukan datang sendiri--dalam pertemuan membahas krisis Abu Ghuraib.
Posisi Rice dalam Dewan Keamanan Nasional akan diisi Stephen J. Hadley yang sekarang menjadi kepala staf Rice.
Hadley ini memiliki catatan buruk. Komisi 11 September, yang mewawancarai pejabat pemerintahan, menggambarkan tidak efektif menyelesaikan sejumlah masalah. Misalnya, apakah mesti membalas serangan di kapal USS Cole yang berlabuh di Yaman empat tahun silam. Atau apakah akan menggunakan drone, pesawat tak berawak, bernama Predator untuk serangan.
Titik terendah Hadley karena ia menjadi kambing hitam atas kesalahan pidato Bush yang mengajak negerinya menyerang Irak. Saat itu Bush menunjuk ada bukti Irak berusaha memberi uranium dari Afrika. Hadley sudah mendapat memo dari CIA bahwa bukti pembelian uranium itu lemah sehingga 16 kata mesti dihapus dalam naskah pidato. "Tapi saya tidak melakukan tugas saya," katanya kepada para wartawan tahun lalu.
Namun, kesalahan fatal yang dilakukan Hadley itu tidak membuat kariernya berhenti. Ia malah mendapat promosi.
Nasibnya seperti Donald Rumsfeld, menteri pertahanan yang gagal total merencanakan perang di Irak. Semua yang dihitung salah, mulai dari biaya hingga jumlah tentara yang membengkak. Begitu pula belitan gerilyawan yang sampai sekarang belum juga beres. Persoalan penjara Abu Ghuraib pun berada dalam tanggung jawab Rumsfeld.
Namun, Rumsfeld, seperti juga Hadley, tetap mulus di dalam kabinet. Tidak seperti Powell yang moderat.
Saat debat calon presiden, Bush mengatakan, "Saya membuat sejumlah kesalahan saat menunjuk orang, tapi saya tidak akan menyebut nama." Melihat nama-nama yang tidak ikut dalam masa jabatan kedua Bush, kita sudah bisa menduga siapa mereka. nurkhoiri/washington post/new york times/bbc/ap
No comments:
Post a Comment