Cari Berita berita lama

KoranTempo - Salon Internasional

Jumat, 19 Maret 2004.
Salon InternasionalIni era global, salon tidak lagi hanya mengandalkan kepercayaan, tapi harus punya selera internasional. Penata rambut Chandra Gupta pernah cerita, selain mahir dalam teknik, penata rambut harus berbekal kepercayaan. Sekali pelanggan kecewa dengan sebuah tatanan rambut, maka sumpah serapah muncul. "Begitu becermin di kamar misalnya, dia akan bilang, 'Sialan nih, Candra, rambut gue dibuat hancur.' Dia akan begitu terus setiap berkaca. Coba hitung berapa kata 'sialan' ditujukan buat saya kalau mereka tidak puas?" kata pemilik dua salon di Mal Taman Anggrek dan Mega Pluit yang jadi penata rambut artis Sophia Latjuba ini.

Chandra benar. Banyak salon bertebaran, mengambil lokasi mulai dari gang sempit sampai pusat perbelanjaan mewah. Salon sudah jadi kebutuhan untuk penampilan. Dari yang dengan manajemen pribadi hingga sistem waralaba lokal yang sukses diterapkan oleh Rudy Hadisuwarno atau Johnny Andrean. Kepercayaan menjadi hal utama, lihat saja dua salon Maxi di Jalan Tendean, Kebayoran Baru, yang masing-masing mengklaim paling pertama, seolah bila berganti nama, pelanggan akan kabur.

Produk impor bertebaran di sekitar kita. Hampir di setiap pusat perbelanjaan hadir barang bermerek mulai dari pakaian, kosmetik, perhiasan, tas, dan sepatu. Selain faktor gengsi, produk terkenal itu punya semacam standar kualitas tertentu untuk dimiliki. Boleh dibilang cara berpakaian dan berdandan orang Indonesia sudah international minded.

Seorang wanita setengah baya, Jotty Shahdadpuri, tadinya hanya berbisnis di bidang garmen. Seringnya ia bepergian ke luar negeri, bertemu dengan orang Indonesia di Singapura dan Sydney, kerap terlontar pertanyaan, kapan Indonesia bisa menikmati pelayanan salon standar internasional? Pertanyaan itu mengusik dirinya. "Kenapa tidak menghadirkan salon dengan taste internasional? Padahal, makanan dengan sistem waralaba internasional pun mudah ditemui di sini," kata ibu dua anak yang memegang jabatan managing director ini.

Dengan membaca pasar sekitar dua tahun, ia mencoba meminta master franchise alias pemegang waralaba tunggal ke salon Tony & Guy di Australia. Selain mempertimbangkan faktor bisnis, ia juga menginginkan kehadiran salon yang didirikan oleh empat bersaudara Mascolo asal Italia: Tony, Anthony, Bruno, dan Guy ini. Salon ini untuk pertama kalinya di South Clapham, London, dan sudah tersebar di 24 negara. "Dengan adanya salon ini, salon yang ada selama ini akan bersaing secara positif dalam memberikan pelayanannya," ujar Jotty yakin.

Entertainer X'Center di Plaza Indonesia dipilih untuk mendukung kesan gaya hidup salon ternama itu. Tony & Guy menempati lantai dua berhadapan dengan pusat permainan, berdekatan dengan toko roti Bread Talk dan beberapa restoran waralaba.

Perlu diketahui, Tony & Guy yang telah menciptakan gaya rambut mendunia seperti Samurai dan California, adalah pelopor teknik guntingan brick dengan tekstur penuh. Tak heran kepiawaian dalam menggunting ini membuat salon ini diganjar penghargaan Artistic Team of the Year dalam British Hairdressing Award pada 1991. Adik Tony, Sacha, yang mendapat gelar pendatang baru dalam penataan rambut dan Anthony yang masuk jajaran Hall of Fame British Hairdressing Awards berkat kontribusi dalam dunia penataan rambut. Tony & Guy menjadi bagian dalam dunia mode setelah ikon model Yasmin Le Bon, istri Simon Lebon, personel Duran Duran, menjadi model iklannya.

Jotty mengakui, kendati di Indonesia bertebaran banyak salon, ia menilai belum ada standar dalam hal pemotongan rambut. Menurut dia, seorang penata rambut yang baik mampu memotong rambut pelanggan sama panjang dan detailnya seperti ketika terakhir pelanggannya potong rambut.

Demi menerapkan standar itu, di salon ini tidak akan menerapkan asal terima pelanggan, asalkan uang masuk. Seseorang yang datang diberi konsultasi bagaimana yang terbaik untuk rambutnya. "Kita bahkan kasih gratis konsultasi dulu, baru setelah dua minggu ia balik lagi. Konsultasi dilakukan secara mendalam dan tidak tergesa-gesa." Bahkan seorang penata rambut harus tahu, jika pelanggannya itu tergolong sibuk, penataan rambut dibuat agar tak terlalu bergantung pada salon. "Siap pergi tanpa harus blow," ujarnya.

Uniknya, kendati menerapkan standar internasional, salon ini masih mengharapkan komunikasi dari mulut ke mulut untuk promosinya. Mereka memang memanfaatkan pelanggan yang sudah tahu salon ini di luar negeri terlebih dulu. Penyanyi Lusy Rahmawati dan artis Meriam Bellina termasuk pelanggan setia salon yang baru tiga minggu beroperasi ini.

Harga yang ditawarkan sebenarnya relatif tidak mahal dibanding salon yang dimiliki penata rambut terkenal yang bisa memasang harga sampai Rp 400 ribu lebih untuk sekali potong. Di Tony & Guy, untuk sekali potong Rp 200 ribu plus pajak Rp 20 ribu. Meni dan pedi Rp 75-85 ribu, cream bath biasa Rp 90 ribu dan dengan terapi ozon Rp 120 ribu, make up Rp 350 ribu, mewarnai rambut penuh Rp 300-400 ribu, highlight Rp 325-500 ribu, warna rambut fashion Rp 475-575 ribu, pelurusan Rp 1-2 juta. "Saya pasang target impas dalam dua hingga tiga tahun mendatang," kata Jotty.

Karena menerapkan standar internasional, salon ini memisahkan tugas pewarnaan dengan pemotongan rambut. Semua kapster yang berjumlah 11 orang serta 20 penata rambut mendapat pendidikan selama 3,5 bulan di Tony & Guy Inggris. Bila belum menjalani pelatihan di Tony & Guy pusat, seorang penata rambut tidak diperkenankan menggunting rambut. Khusus di Jakarta, ada dua penata rambut dari Australia, yakni Jacen Ward selaku direktur teknik yang pernah meraih penghargaan Newcomer of the Year dan Most Creative Color of the Year. Mantan freelancer color technician ini pernah menangani pewarnaan rambut grup Atomic Kitten dan David Beckham. Satu lagi, Sonia Cotroneo selaku art director yang merupakan pengajar para staf dan duta Tony & Gut Oxford, Sydney.

Berbeda dengan salon biasa, fasilitas cream bath di sini tersedia dalam 10 pilihan yang disesuaikan dengan jenis dan kondisi rambut. Produk yang dipakai hanya Kerastage, Loreal, dan T & G. Pelanggan tidak perlu menenteng botol sampo dari rumah karena takut tidak cocok dengan rambutnya.

Dalam melakukan pewarnaan, seseorang yang ingin rambutnya diwarnai harus benar-benar bersih dari cat terdahulu. Bila masih nekat, ia harus mengisi formulir yang berisikan pernyataan bahwa Tony & Guy sudah memberi tahu detail, tetapi pelanggan tetap melakukan keinginannya. Mungkin ini ada hubungannya dengan komplain pelanggan nantinya yang sudah bukan merupakan tanggung jawab salon lagi.

Pilihan makin banyak. Kini tergantung pada Anda, mau selera lokal atau internasional? evieta fadjar

No comments:

Post a Comment