Kamis, 21 Maret 2002.
Indonesia Akan Minta Korea Utara Lebih Terbuka JAKARTA ---- Menteri Luar Negeri Nur Hassan Wirajuda membenarkan adanya permintaan agar Indonesia aktif mengajak Korea Utara untuk lebih terbuka, dalam menggalang persahabatan dengan negara-negara tetangganya. Tapi, dia mengelak untuk menyebut Indonesia sebagai mediator. "Saya katakan tadi, memang ada permintaan kita (Indonesia) untuk ikut menyakinkan," katanya kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, kemarin.
Permintaan ini, menurut Wirajuda, datang dari tetangga Korea Utara sendiri, Korea Selatan. Selain itu, permintaan yang sama datang dari Amerika Serikat. Karena itu, dalam kunjungan kenegaraan Presiden Megawati Soekarnoputri ke empat negara, termasuk Korea Utara, pekan depan, Megawati dipastikan akan membawakan pesan tersebut. "Jadi intinya Presiden akan melakukan semaksimal mungkin untuk ikut mendorong Korea Utara terbuka."
Melalui Indonesia, Korea Selatan dan Amerika Serikat juga meminta agar Korea Utara lebih bersedia membuka pintu dialog dengan kedua negara tersebut. "Sehingga dapat menyelesaikan masalah-masalah dengan tetangga dan lingkungannya dengan lebih baik," katanya.
Misi kunjungan Korea Utara yang akan dilakukan pada 28-30 Maret ini bagi Indonesia, menurut Wirajuda, adalah memperbaharui hubungan tradisional antara kedua negara. Pasalnya, sejak 1964, hubungan diplomatik Indonesia dan negara beraliran komunis itu tidak pernah terputus. "Karena itu dalam rangkaian kunjungan Presiden ke China, Korea Selatan dan India, kita juga melihat kebutuhan untuk ke Korea Utara."
Hubungan bilateral dengan Korea Utara diyakini Wirajuda tidak akan merusak citra Indonesia di mata negara lain, terutama Amerika Serikat. Itu meski Presiden Amerika Serikat George Bush telah memberi label axis of evil (poros setan) bagi Korea Utara.
Kata Wirajuda, dalam kunjungannya ke Seoul, Korea Selatan baru-baru ini Bush mengulurkan tangan perdamaian dan meminta Korea Utara bersedia melanjutkan dialog, setelah terhenti pada bulan-bulan akhir pemerintahan Presiden Bill Clinton dulu.
Apakah dengan begitu, Indonesia malah menyamakan kebijakan luar negeri Indonesia dengan Amerika Serikat ? "Tidak begitu. Justru pilihan ke Korea Utara ini sebenarnya dirancang sejak tahun lalu. Lagipula itu mencerminkan politik luar negeri kita yang bebas aktif," ujar Wirajuda.
Selain itu, menurut Wirajuda, Indonesia ikut prihatin terhadap potensi konflik di Semenanjung Korea, terutama yang berkaitan dengan potensi penggunaan senjata nuklir untuk tujuan militer. "Karena itu sejak 1996 Indonesia aktif dalam kerjasama yang dibangun oleh AS, Jepang dan Korea Selatan tentang energy development sehingga (nuklir) bisa digiring menjadi energi yang damai.".
Mantan Direktur Jenderal Politik Deplu ini mengungkapkan, sampai sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1997, Indonesia banyak memberikan sumbangan dalam kerjasa itu. Indonesia, katanya, menyumbang dalam bentuk oli yang nilainya sampai US$ 1 juta dalam kerjasama itu. "Jadi memang kita ingin mendorong penciptaan perdamaian di kawasan itu."kurie suditomo/dede ariwibowo
No comments:
Post a Comment