Cari Berita berita lama

detikcom - Setiap Malam Nonton Tari Erotis

Senin, 17 Desember 2007.
Polisi Rajin Dugem(1)
Setiap Malam Nonton Tari Erotis
Deden Gunawan - detikcom

Jakarta -
Don't you know pump it up, you got to pump it up... lagu berirama progressif itu terdengar menghentak. Tak lama kemudian lampu menyorot ke arah tiga perempuan cantik berpakaian minim. Ketiganya kemudian naik ke atas meja yang disulap menjadi stage. Tanpa aba-aba mereka pun menari erotis yang menggugah 'selera' kaum adam. Sepuluh menit berlalu. Suasana diskotek semakin greng. Para dancer itu perlahan-lahan menanggalkan penutup dadanya. "Topless show" teriak sorang pria yang mengenakan kaus putih dibalut jas warna biru. Ia adalah MC dalam pertunjukan itu. Ketika irama progressif itu berganti dengan irama style house, salah seorang dancer yang paling seksi turun dari stage. Dengan bertelanjang dada sang dancer mendatangi serombongan tamu yang berkumpul di salah satu sofa. Seorang waitress mengikuti si dancer sembari memegang kotak putih berisi beberapa sloki tequila. Rupanya ada permintaan melakukan drink shooter. Bagi tamu yang ingin dihampiri sang penari, mereka harus memb!
eli minimal satu sloki tequila yang dibawa waitress. Umumnya tamu yang dihampiri menyambar setidaknya dua sampai empat sloki yang ditawarkan. Harga per sloki dipatok Rp 36 ribu. Dari harga tersebut sebagian diberikan kepada penari sebagai pengganti uang tips. Waktu menunjukan pukul 01.15. Suasana semakin panas. Tampak mulut penari itu mengambil sloki yang ada di mulut si tamu yang berambut cepak. Tequila dalam sloki pun ditenggak sampai habis. Bahkan oleh sang tamu salah satu sloki ada yang disiramkan ke tubuh si penari. Malam itu, tamu tersebut dianggap paling spesial diantara tamu yang lain. Wajar jika mereka mendapatkan giliran pertama yang dihampiri si penari topless. "Itu anggota yang jadi langganan kita,"bisik salah seorang waitress. Ketika ditanya apa maksud anggota" yang dikatakannya, si waitress mempertegas kalau beberapa tamu itu adalah polisi. Namun si waitress itu tidak menjelaskan polisi itu dari kesatuan mana. Ia hanya mendengar kabar kalau mereka adalah pe!
tugas dari Polda Metro Jaya. Tapi Ia memastikan di diskotek te!
mpatnya
bekerja banyak petugas dari TNI maupun Polri yang menjadi tamunya. "Kalau dulu hampir setiap malam polisi atau anggota TNI yang datang ke sini," ujarnya. Namun belakangan, kata sumber tersebut, hanya waktu-waktu tertentu saja mereka datang ke diskotek yang terletak di wilayah Tanjung Duren, Jakarta Barat, tersebut. Sekarang beberapa anggota polisi atau TNI yang ingin berdugem di diskotek itu memilih malam Jumat. Razia bagi aparat yang sering keluyuran di sejumlah diskotek belakangan memang sering dilakukan. Tapi tetap saja, tidak membuat takut atau jera aparat. Soalnya dugemer dari kalangan aparat ini sering mendapat bocoran tempat-tempat mana saja yang akan dijadikan sasaran operasi. Informasi dari mulut ke mulut itu membuat operasi disiplin yang digelar jadi minim tangkapan. Padahal keberadaan mereka di arena hiburan malam sangat rentan menimbulkan kekacauan. Tengok saja kasus perkelahian antara anggota Polda Metro Jaya dan TNI yang terjadi Minggu, 9 Desember lalu, di!
lokasi hiburan Monggo Mas, Jakarta Barat. Saat itu Bripda Irwansyah (22), anggota Biro Logistik Polda Metro Jaya terluka parah akibat dikeroyok lima orang yang diduga anggota TNI. Kabarnya, pengeroyokan itu terjadi lantaran terjadi kesalahpahaman antara Irwansyah dan salah seorang anggota TNI, saat mereka berada di dalam diskotek Monggo Mas. Cekcok mulut itu kemudian berujung dengan aksi pengeroyokan lima oknum TNI terhadap Irwansyah. Insiden ini membuat Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Adang Firman angkat suara. Ia kemudian melarang anak buahnya mendatangi diskotek. Bila ada yang nekat mendatangi tempat-tempat dugem, Adang mengancam akan memberikan sanksi berupa teguran dari atasan hingga ditahan di sel tahanan. Adang juga mengintruksikan kepada masing-masing kepala satuan untuk melakukan pengawasan terhadap anggotanya. Larangan ini berlaku buat semua anggota, kecuali anggota yang bertugas. "Semua satuan sudah saya instruksikan agar mengawasi anggotanya masing-masing," tegas!
Adang kepada wartawan, pekan lalu. Hanya saja pernyataan Ka!
polda di
anggap sebagai pernyataan usang. "Kalau hanya pernyataan saja tidak akan berpengaruh. Yang harus dilakukan adalah kesungguhan dalam menindak," jelas Neta S Pane dari Police Watch. Sebab, ujar Neta, sudah sejak lama Polri dan TNI bikin operasi gabungan melakukan operasi gabungan untuk menciduk aparatnya yang suka dugem. Tapi hasilnya, tetap saja banyak polisi berseliweran di sejumlah diskotek di Jakarta, sekalipun tidak sedang bertugas. Ungkapan Neta bukan tanpa alasan. Sebab di sejumlah tempat hiburan yang di telusuri detikcom, di sejumlah tempat hiburan di Jakarta Barat dan Jakarta Utara, polisi masih sering datang mencari hiburan. Misalnya di diskotek Top One, Medika, dan Bandara. Ketiganya terletak di wilayah Tanjung Duren, Jakarta Barat. Ketiga tempat hiburan ini kabarnya menjadi salah satu lokasi favorit bagi polisi atau TNI untuk mencari hiburan. "Di sini lumayan aman dari razia," jelas Doni, sebut saja begitu, seorang polisi yang bertugas di Polres Jakarta Barat. !
Soalnya, kata Doni, di tempat tersebut bukan tempat peredaran narkoba seperti di diskotek-diskotek lainnya. Sekalipun musik house juga diputar di ketiga diskotek itu, tapi tamunya lebih banyak yang hanya menenggak minuman keras dibanding mengkonsumsi narkoba, seperti ekstasi misalnya. Lokasi ketiga diskotek ini tidak berjauhan. Sebenarnya hiburan yang disajikan di ketiga diskotek itu biasa-biasa saja, layaknya tempat hiburan lain di Jakarta Barat. Bedanya, di tempat-tempat itu disediakan layanan esek-esek. Jadi tamu yang datang tidak sekadar menimmati alunan musik sambil minum-minum. Mereka juga bisa berkencan dengan perempuan-perempuan yang ada di diskotek itu. Misalnya diskotek Medika yang terletak di ujung Jalan Anggur I, Kelurahan Tanjung Duren. Diskotek yang menempati bangunan rumah toko berlantai tiga ini, selain menyediakan fasilitas hiburan diskotek di lantai satu, juga menyediakan layanan kencan di lantai dua dan tiga. Sebagai kedoknya layanan ini disebut layana!
n pijat tradisional. Bagi tamu yang ingin berkencan cukup me!
lihat-li
hat dulu perempuan yang ada di dalam diskotek itu. Kalau cocok tinggal mendaftar ke resepsionis yang ada di lantai dua. Tarif yang dikenakan untuk berkencan Rp 200 ribu per dua jam. Harga itu sudah termasuk sewa kamar dan minuman ringan. Keberadaan polisi di tempat-tempat ini selain menjadi tamu, ada juga yang menjadi beking bagi mucikari. Sebab di satu diskotik paling tidak ada belasan mucikari yang membina minimal 6 - 10 perempuan pemijat. Untuk menjaga kemanan perempuan yang mereka bina saat bertugas, mucikari umumnya membayar seorang oknum polisi atau TNI. Oknum polisi ini menjadi salah satu pintu masuk bagi rekan-rekan satu korps-nya untuk berkunjung ke tempat-tempat hiburan tersebut. Seperti yang dikatakan Budi (nama samaran), polisi yang bertugas di Polresta Tangerang. Awalnya Budi datang ke tempat hiburan di wilayah Tanjung Duren, karena ingin menyambangi temannya yang kebetulan menjadi salah satu beking Mucikari di salah satu diskotek di wilayah itu. Lama-kelamaa!
n ia menjadi betah. "Tempatnya enak dan aman," begitu kata Budi kepada detikcom. Apalagi polisi yang berpangkat Briptu itu, mengaku sedang berpacaran dengan salah seorang perempuan pemijat yang ada di salah satu diskotek tersebut. Jadi paling tidak, dua kali dalam seminggu ia datang ke diskotek tersebut, terutama di akhir pekan. Tapi sekarang, Budi sepertinya harus hati-hati dalam menyusun waktu berkunjung ke diskotek langganannya. Sebab jika instruksi Kapolda Metro Jaya benar-benar dijalankan, ia bisa kena damprat atasannya atau malah bisa ditahan.
(
ddg
/
iy
)



Komentar terkini (2 Komentar)





Baca Komentar



Kirim Komentar



Disclaimer

No comments:

Post a Comment