Selasa, 8 Agustus 2006.
'Acungan Jempol untuk ESQ'
Prof Dr Ir Hadi Susilo Arifin, Kepala Departemen Landscape Architecture IPB Dalam penutupan in-house training Profesional I IPB pada 27-29 Juli 2006, lalu, Ary Ginanjar menyematkan pin 165 kepada empat orang peserta. Salah satunya adalah Prof Dr Ir Hadi Susilo Arifin (kepala Departemen Landscape Architectur) yang baru saja pulang mengajar dari Awaji Landscape Planning and Holtuculture Academy, Jepang, sebagai visiting professor selama dua bulan. Dosen Berprestasi Nasional ke-3 pada 2004 ini mengacungkan jempol untuk ESQ, khususnya manajemen ESQ. Apa yang membuatnya terkesan dengan ESQ? "Selain materinya, sound system dan multimedianya sungguh menggugah," ujar Hadi, begitu ia disapa. Alat penunjang ini ternyata bisa membuat peserta makin meresapi materi. Misalnya, suara yang menggelegar membuat peserta tidak bisa mendengarkan suara di sebelahnya, "Dan itu menolong saya untuk lebih khusuk, sebab terkadang kita malu kalau doa kita didengarkan oleh peserta lainnya," aku !
pria yang menjadi dosen IPB sejak 1983 ini. Sebagai ilmuwan di bidang arsitektur lansekap, Hadi, tidak saja merasakan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan dan sesama dalam ESQ, tetapi juga antara manusia dengan lingkungan. Ia juga berpikir bahwa secara intelektual, tak ada yang bertentangan antara ESQ dengan ilmu pengetahuan. "Semua materi bisa diterima oleh akal, dan juga hati," tutur Hadi yang sering menjadi visiting profesor di Tokyo, Tohoku, Okayama, dan Awaji itu. Ada semangat dalam diri Hadi untuk menyebarkan nilai-nilai 165 ke lingkungan sekitar. Hadi. Bahkan, tiga hari setelah training, pertemuan Rabuan di departemennya, ia langsung memperkenalkan ESQ kepada seluruh stafnya. "Saya ingin agar semua staf mendapat kesempatan ikut training ESQ," tuturnya. "Cobalah ikut," ujarnya, kepada para stafnya. Sebelum ESQ, lulusan S3 dari Landscape Ecology and Management dari Universitas Okayama Jepang itu memang sudah akrab dengan para stafnya. Sejak ia menjabat sebagai!
Kepala Departemen di Landscape Architecture, sebuah departeme!
n yang b
aru dibentuk pada 28 Agustus 2005 lalu, ia selalu menegur dan memberi salam lebih dulu kepada bawahannya, bahkan menepuk pundak mereka dengan hangat. "Tapi saat itu masih ada keengganan. Masih ada pikiran "Kenapa harus saya duluan?". Belum terlalu ikhlas". Kini? "Saya sekarang jauh lebih ikhlas menyapa mereka duluan". Awalnya, pria kelahiran Cirebon, 6 November 1969 yang pernah setahun mengambil gelar diploma di Belanda itu memang tidak begitu antusias dengan ESQ. Alasannya, ia merasa sudah punya modal seputar emosional dan spiritual. Tetapi, "Setelah ikut, ada sesuatu yang lain, ternyata ESQ itu perlu!" tegasnya. "Meskipun pendek waktunya, tapi banyak manfaatnya," imbuhnya yang merasakan adanya pendidikan etika dan spiritual dalam jiwanya. "Jujur, ternyata bahak hal-hal yang kita lewati terlupakan. Apakah ibadah kita sudah benar? Juga soal hubungan kita dengan sesama?". Dalam tiga hari itu, ia seperti menapaktilasi sejarah hidupnya. "ESQ menjadi charger dalam kalbu saya, k!
arena terkadang hati orang kalau tidak dicharge bisa aus," tuturnya. "Baterai dalam jiwa saya seperti dicharge hingga spirit lebih powerful". Karena itu, ia mendukung sistem Kartu Alumni ESQ yang membuat para alumni bisa men-charge dirinya kapan saja dan dimana saja secara gratis. "Intinya, training ini sebagai charger. Kalau secara spiritual dan emosi kita menurun, kita bisa ikut lagi. Baterai dalam batin kita menjadi penuh kembali," tuturnya, yang terkesan dengan seluruh materi yang disampaikan. Kini, ia mencoba lebih lagi dalam berpikir positif, dan juga selalu beristighfar. Dan Semenjak training, ia selalu mengenakan pin 165 yang disematkan langsung oleh Ary Ginanjar saat penutupan training. "Bukan karena pamer. Tapi kalau melihat lencana itu, saya teringat untuk menjalankan materi yang pernah saya terima dalam training," ujarnya. (Ekky Imanjaya)
( )
No comments:
Post a Comment