Cari Berita berita lama

KoranTempo - Pengepungan GAM Tidak Hanya di Cot Trieng

Senin, 25 November 2002.
Pengepungan GAM Tidak Hanya di Cot TriengBANDA ACEH-Pengepungan atas Gerakan Aceh Merdeka ternyata tak hanya terjadi di Cot Trieng, Aceh Utara, tapi juga sejumlah tempat lain di Aceh. Dalam pengepungan di Aceh Selatan, sekitar 80 rumah penduduk di Kecamatan Sawang terbakar habis, 14 Nopember lalu. "Alasannya mereka mencari GAM. Tetapi kenyataannya, kalau mereka banyak menjadi korban sasarannya jadi masyarakat," kata Panglima GAM Wilayah Aceh Selatan Tengku Abrar Muda saat dihubungi lewat telepon, kemarin.

Menurut Abrar, pengepungan terjadi di tujuh kecamatan di wilayah itu. Namun yang besar terjadi di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Sawang, Kluet Utara dan Kluet Selatan. "Aparat mengerahkan pasukan yang lebih banyak dan panser," ujarnya. Pengepungan itu membuat masyarakat di desa-desa di wilayah itu mengungsi ke tempat yang aman, ke kecamatan lain maupun ke hutan.

Menurut Wakil Panglima Komando Operasi TNI di Aceh, Brigjen TNI Bambang Darmono, pengepungan di Cot Trieng hanya sebagian kecil dari operasi TNI di Aceh. Kata dia, pengepungan TNI di Manggamat, Aceh Selatan dan Lokop, Aceh Timur juga intensif. "Tapi di Cot Trieng sudah ada tiga anggota GAM menyerah. Ada juga yang berusaha meloloskan diri, tapi mana bisa," ujarnya di Lhokseumawe, Jumat (22/11).

Di Lhokseumawe, Sabtu (23/11), Panglima Kodam Iskandar Muda merangkap Panglima Komando Operasi TNI di Aceh, Mayjen M Djali Yusuf mengatakan, jumlah pasukan yang dikerahkan di Cot Trieng 12 Kompi. "Kita juga dibantu 2 kompi pasukan Brimob. Jadi total personel yang melakukan pengepungan sebanyak 14 Kompi," katanya.

Meskipun mengerahkan banyak pasukan, Yusuf menegaskan, operasi di Cot Trieng hanya operasi biasa dari serangkaian tugas TNI di Aceh untuk melumpuhkan kelompok bersenjata GAM. Dia pun membenarkan bahwa TNI mengerahkan pasukan ke kawasan Manggamat dan Lokop untuk kegiatan pengepungan serupa.

Di Manggamat, kata Yusuf, TNI menempatkan 1 kompi. "Di lokasi itu kami mendapati mereka punya tempat latihan, kendaraan yang sudah di cat loreng dan beberapa tawanan yang sudah membayar tebusan tapi belum dilepaskan," ujarnya. Dari para tawanan ini, TNI mendapat informasi yang lengkap tentang kegiatan GAM di kawasan itu.

Namun, seorang juru runding GAM, Amni Ahmad Marzuki mengatakan bahwa yang terjadi di sejumlah tempat di Aceh selain di Cot Trieng bukanlah pengepungan. Menurut dia, GAM tidak terkepung. "GAM dalam keadaan biasa," kata dia. Ia menilai, mobilitas operasi pihak TNI/Polri itu meningkat.

Amni mengakui, operasi memang meningkat di Aceh Selatan, Aceh Timur dan Pidie. Ia memperkirakan, dalam operasi itu TNI mengerahkan dua batalion pasukan, panser dan tank. "Sehari setelah kontak senjata, lebih 10 ribu orang mengungsi," ujarnya. Kini, sebagian pengungsi telah mencoba pulang ke rumah masing-masing.

Di Aceh Timur, operasi terjadi di Keude Geurubak, kawasan Idi Cut. Operasi itu pun menyebabkan masyarakat mengungsi ke hutan. Aparat menggunakan panser-panser. Sementara di Pidie, operasi terjadi di lima desa di Kecamatan Mutiara, masing-masing Meunasah Dayah, Ulee Tutue, Dayah Kumbang, Dayah Tanoh dan Cot Kuthang. Tapi Amni membantah pihak GAM terdesak.

Juru runding GAM yang lain, Teuku Kamaruzzaman, menilai upaya ini hanya membuat iklim kontraproduktif dengan suasana perundingan 9 Desember nanti. Ia pun merujuk pernyatan Djali Yusuf bahwa TNI akan menambah lagi personilnya ke Aceh. "Ini adalah upaya-upaya yang malah akan menghancurkan upaya damai," ujar dia.

Koordinator Sentra Informasi Referendum Aceh Muhammad Nazar juga berpendapat sama. Kata dia, saat ini belum ada upaya menciptakan suasana kondusif untuk menuju ke perundingan. Ia masih melihat, walau perundingan berjalan, TNI tetap mengepung dan menggelar operasi militer. "Itu kontraproduktif sekali. Ambivalen ini namanya," ujarnya.

Menurut Yusuf, paska 9 Desember, TNI akan mengubah pola operasi dari ofensif menjadi defensif. Tapi hal itu tergantung perkembangan penandatangan perjanjian yang akan disepakati. "Jika penandatanganan perdamaian gagal lagi, itu sebagai contoh yang akan terus terjadi bila mereka terus berusaha memundurkan penandatanganan perjanjian," katanya. mustafa/zainal bakri

No comments:

Post a Comment