Cari Berita berita lama

Loading...

detikcom - Kondisi Laut di Wilayah Aceh Pasca Tsunami Diteliti

Minggu, 16 Januari 2005.
Kondisi Laut di Wilayah Aceh Pasca Tsunami Diteliti
Anton Aliabbas - detikcom

Jakarta -
Menristek/Kepala BPPT Kusmayanto Kadiman melepas Tim Operasi Bakti Teknologi NAD (Nanggroe Aceh Darussalam). Tim ini akan bertugas selama 20 hari untuk melihat peta dasar laut di wilayah pantai barat, NAD pasca gelombang tsunami.

Tim ini akan bertugas dengan berlayar menggunakan Kapal Baruna Jaya IV. Tim terdiri 70 orang, yang berasal dari LIPI, LAPAN, PLN, Bakorsurtanal, Departemen ESDM, Ikatan Ahli Geologi Indonesia, PT Medco Energy International, Ikatan Ahli Teknik Penyehatan Lingkungan Indonesia, dan Dinas Hydro Oceanograsi TNI AL.

Pelepasan tim dan Kapal Baruna Jaya IV ini dilakukan oleh Kusmayanto di Dermaga Village, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (16/1/2005). Menurut Kusmayanto, tim ini dibentuk untuk melihat peta dasar laut di wilayah barat Aceh.

"Kita mau lihat kondisinya bagaimana, hingga kita kenal benar apa yang sudah terjadi. Jadi, nanti kita akan memberi masukan teknis, kalau mau bangun bangunan nanti seperti apa. Masukan ini akan kita berikan ke Departemen Pekerjaan Umum dan Departemen Perumahan. Termasuk kita akan melihat potensi ancaman yang terjadi," kata Kusmayanto.

Sementara itu, Ketua Operasi Bakti Teknologi Ridwan Djamaluddin mengatakan, selama 20 hari, pihaknya setidaknya melakukan tigal hal. Pertama, tim akan melakukan kajian terhadap dampak kerusakan yang terjadi akibat gempa dan gelombang tsunami.

Kedua, tim akan melakukan survei bawah air, karena pantai barat adalah jalur pelayaran. "Jadi kita juga sekaligus memastikan apakah laut itu masih aman untuk dilalui atau tidak," kata dia. Dan ketiga, tim akan melihat topografi dasar laut apakah ada perubahan dengan hasil penelitian pada 1992 lalu.

"Selain itu, kami tentunya juga akan melakukan misi rehabilitasi, yakni menyediakan air bersih yang siap minum, sanitasi lingkungan seperti MCK darurat," ungkapnya.

Menurut Ridwan, pantai barat Aceh dipilih untuk diteliti, karena di daerah inilah pusat bencana gempa dan tsunami itu. "Daerah ini, seperti Meulaboh dan Calang, juga paling parah terkena bencana dan paling sedikit tersentuh bantuan," ujarnya.

Ketika ditanya apakah tim akan merintis early warning system, menurut Ridwan, hal itu masih sulit dilakukan. "Hal itu masih sulit untuk dilakukan. Kesulitannya adalah masalah teknis karena pakar-pakar instrumentasi saat ini masih mencari frekwensi yang tepat yang bisa berpacu dengan gelombang. Jadi, yang kita kumpulkan baru data," jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Kusmayanto juga menyampaikan, Ristek ini sedang merintis pembentukan pusat nasional pencegahan mitigasi dan pengelolalan bencana. "Saat ini sudah banyak pusat-pusat penanganan bencana di departemen lain. Tapi, belum terkoordinasi secara nasional. Isu ini sudah saya lempar, tinggal dibahas dalam sidang kabinet dan kita tunggu kepresnya saja," kata mantan rektor ITB ini.

(
asy
)

No comments:

Post a Comment