Cari Berita berita lama

Loading...

Gus Dur di Kirab Pusaka

Minggu, 24 Maret 2002.
Gus Dur di Kirab PusakaSolo, 24 Maret 2002 00:00KERABAT keraton, pangeran, putra-putri raja, abdi dalem, juga para pejabat daerah dan Jakarta, berkumpul di Dalem Sasono Sewoko di Keraton Solo, Jawa Tengah, Kamis dua pekan lalu. Suasana hening. Tak ada yang boleh tertawa dan bicara keras-keras. Sebab, malam itu sedang digelar kirab pusaka keraton untuk menyambut datangnya Tahun Baru Muharam 1423 H.

Keheningan tiba-tiba pecah seiring dengan munculnya Abdurrahman "Gus Dur" Wahid, yang tak terduga. Mantan Presiden Indonesia itu digandeng A.S. Hikam, menantu raja Satriyo Hadinagoro, dan pengurus Partai Kebangkitan Bangsa Solo, Husein Syifa. Gus Dur tampak sangat njawani dengan busana Jawa lengkap yang dikenakannya: kain batik latar hitam, jas beskap hitam, lengkap dengan blangkon dan kerisnya.

Putra-putri raja pun pontang-panting memberi sambutan, sementara sebagian tamu bangkit dari duduknya, lalu mengerubungi dan menyalami "tamu tak diundang" itu. Paku Buwono (PB) XII, yang belum waktunya keluar dari Dalem Ageng, pun memutuskan menemui Gus Dur. Setelah itu masuk lagi. Pukul 00.15, PB XII keluar lagi menuju Sasono Sewoko, dan memerintahkan agar pusaka-pusaka keraton dikirabkan ke Dalem Sri Manganti.

Usai kirab, PB XII kembali menemui Gus Dur. "Gus, ada dhawuh (perintah) apa ini, kok panjenengan berkenan hadir di keraton?" tanya PB XII. "Sinuhun, maafkanlah kalau kehadiran saya begitu mendadak," jawab Gus Dur. "Sejak dulu kami ingin datang ke keraton menyaksikan kirab pusaka, tapi baru sekarang niat itu terpenuhi," ia menambahkan. Dengan anggukan kepala, PB XII berkata, "Matur nuwun, terima kasih, Gus."

Kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra, Gus Dur mengungkapkan maksud kedatangannya ke Keraton Solo: "Kami akan membuat gerakan budaya Jawa untuk perdamaian Indonesia." Gus Dur memilih Jawa, karena budaya Jawa itu disiplin dan kontinu. "Lihatlah, upacara kirab pusaka tetap disiplin dan terus dilaksanakan," katanya. Menurut A.S. Hikam, aksi ini akan diwujudkan, antara lain dengan seminar, juga pertemuan-pertemuan untuk melantunkan doa, dan akan dimulai bulan depan.
[Apa-Siapa Gatra Nomor 19 Tahun ke VIII, Beredar 25 Maret 2002]

No comments:

Post a Comment