Rabu, 26 November 2008.
Jakarta -
Rokok memang bikin ketagihan. Ketagihan yang membuat buta. Seperti buruh tanitembakau di Indonesia. Upahnya yang 47 persen dari upah minimum nasional takmenghalangi mereka menghabiskan hingga nyaris seluruh pendapatannya untuk rokok.Hal itu terungkap dalam hasil penelitian Lembaga Demografi FE UI pada pertengahan tahun 2008 yang dipaparkan dan diwakili oleh peneliti Abdillah Ahsan di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (24/11/2008).Obyek penelitian 451 buruh tani (244 buruh laki-laki dan 207 buruh perempuan), 66 petani pengelola, dan 66 buruh tani anak di Bojonegoro (Jawa Timur), Kendal (Jawa Tengah), dan Lombok Timur (NTB) dengan metode wawancara kuesioner terstruktur dan wawancara mendalam. Responden diambil dengan purposive sampling karena 3 provinsi itu memproduksi 89% produksi rokok di Indonesia."Sebanyak 68 persen buruh tani laki-laki dewasa adalah perokok, 65 persenmengonsumsi rokok yang dilinting sendiri," kata Abdillah.Pengeluaran untuk membeli ro!
kok buatan pabrik rata-rata Rp 3.545 per hari atauseperempat dari penghasilan hariannya sebagai buruh tani. Para buruh tani itu hanya mendapatkan gaji Rp 15.900 per harinya.Sedangkan buruh tani perempuan yang merokok adalah 3 persen, seluruhnya melinting sendiri. Yang membuat prihatin adalah ulah buruh tani anak berusia 10-15 tahun.Dari 66 buruh tani anak yang dijadikan sasaran penelitian, 17 persennya merokok. Penghasilan mereka, Rp 5.548 per hari."Pengeluaran rata-rata untuk rokok Rp 4.942 per hari atau hampir 90 persen dari rata-rata upah hariannya," kata dia.(nwk/mok)
No comments:
Post a Comment