Cari Berita berita lama

Republika - Semangat Spiritualitas Remaja di Belanda

Selasa, 20 Juni 2006.

Semangat Spiritualitas Remaja di Belanda












''Kebebasan'', kata itu seolah identik dengan Belanda, mengingat banyak hal yang dilegalkan di negeri ini, baik penjualan narkoba maupun pornografi dan pergaulan bebas. Di tengah kehidupan yang serba bebas tak terbatas tersebut, sekumpulan remaja merasakan pencerahan menyadari jati dirinya. Inilah sekelumit kisah alumni ESQ remaja di negeri kincir angin yang usai training membentuk Forum Silaturahim Mahasiswa (Fosma) ESQ. Kekhawatiran kerap menghinggapi perasaan orang tua yang membesarkan putra-putrinya di negeri ini. Betapa tidak, narkoba seperti mariyuana maupun ganja (cannabis) dengan sangat mudah bisa ditemui, baik di coffeeshops maupun di pesta-pesta. Karena itu, menurut data statistik, pengguna narkoba di kalanga remaja mengalami peningkatan. Dalam hal prostitusi, tak kalah bebasnya. Hubungan pasangan sejenis pun diakui keberadaannya. Karena itu kaum gay mempromosikan ibukota Belanda as the gay capital of Europe. Kabar mutakhir yang menghebohkan adalah munculnya !
partai politik baru bernama NDV yang berupaya melegalkan pedofilia dan pornografi anak-anak. Meskipun mendapat serangan sengit, kasus ini makin memperkuat citra Belanda sebagai negara serba bebas. Dengan latar belakang kultur seperti itu, sangat wajar jika para orang tua begitu was-was anak-anaknya terseret arus. Ada di antaranya yang begitu khawatir, sehingga berusaha mengembalikan dan menyekolahkannya di Indonesia. Namun banyak dari anak-anak tersebut yang tidak merasa kerasan, terutama mereka yang sudah terlanjur dilahirkan dan dibesarkan di negeri rantau tersebut. Budi Santoso, pemilik toko makanan halal di Amsterdam, mengatakan bahwa agama adalah kunci utama dalam membentengi akhlak putra-putrinya. Karena itu selain dimasukan ke sekolah Islam, anak-anaknya pun dilibatkan dalam berbagai kegiatan organisasi keagamaan. Jika salah bergaul, bisa jadi kehidupan para remaja menjadi salah arah terjebak kesenangan sesaat dan godaan dunia. Di Belanda, seorang remaja yang berus!
ia di atas 12 tahun, diberi kebebasan oleh orang tuanya untuk !
menentuk
an cara hidup yang akan dia lalui. Orang tua tidak ikut menentukan lagi. Bahkan kadang-kadang anak itu seperti asing dari orangtuanya. Sejak umur 14 tahun sudah boleh kerja part-time (holiday season) untuk mendapat uang saku sendiri. Wajar, dengan kebebasan pada usia yang belum matang sering kali salah jalan. Benteng spiritual sangat dirasakan penting oleh Mochammad Fadjar Wibowo, siswa program pertukaran pelajar AFS di Belanda. Ia merasakan betul perbedaan antara remaja Indonesia dan Belanda. Menurutnya, remaja Belanda seperti umumnya masyarakat Eropa, mereka senang pesta, having fun, minum-minum, dan lain-lain. Karena mayoritas tak beragama, kebanyakan landasan mereka bersikap adalah humanis, semua boleh asal tidak ada yang dirugikan. Bekal nilai-nilai spiritual yang didapat dari training ESQ Teens yang pernah diikutinya dirasakan amat bermanfaat. Pelatihan ini membuatnya memperoleh pengenalan diri untuk memulai mempelajari arti hidup. ''Saya jadi sadar dari mana berasal!
dan tujuannya apa. Hal ini mengarahkan diri untuk terus maju tanpa keluar dari jalur yang ditentukan. Walau hidup di tanah dan kultur berbeda, kita bisa peka untuk mengambil nilai-nilai positif dan menyaring nilai yang bertentangan. Sehingga selalu berusaha menghindar dari maksiat, pemborosan, dan berbagai godaan, serta bisa konsentrasi untuk mencapai tujuan.'' Karena itu ketika ESQ hadir di Belanda ia merasa bahagia dan terpanggil untuk terlibat sebagai ATS (Alumni Training Support). ''Di sini kering spiritualitas, sehingga ESQ akan sangat dibutuhkan, khususnya bagi para remaja yang masih dalam kondisi labil,'' ujarnya. Meski merupakan golongan minoritas, semangat para pemuda Muslim Indonesia yang tinggal di Belanda cukup tinggi. Sejak tahun 1971 di Den Haag telah didirikan suatu organisasi yang diharapkan dapat menjadi wadah pemersatu orang Islam yang berada di negeri Belanda, yang diharapkan dapat berkembang di Eropa. Menurut para pendirinya organisasi yang diberi nam!
a Persatuan Pemuda Islam se-Eropa (PPME) ini didasari oleh ras!
a tanggu
ng jawab para generasi muda terhadap agama, serta untuk memupuk persaudaraan yang dijiwai oleh semangat ukhuwah islamiyah Dengan organisasi ini mereka berharap dapat melaksanakan ajaran Islam di negeri yang jauh dari ajaran Islam ini. Kini organisasi yang sejak 14 Desember 1995 telah mendapat perpanjangan untuk kurun waktu yang tidak diatasi ini disemarakan pula oleh kegiatan para remajanya. Bahkan salah satu cabang yaitu PPME Den Haag di pimpin oleh seorang yang masih sangat muda yaitu Ahmad Aaman Sulchan yang merupakan generasi kedua dari para pendiri PPME. Saat dilangsungkan Training Eropa angkatan I, beberapa remaja merasakan semangatnya kian mengental. Hansyah, yang telah 12 tahun di Eropa, adalah salah seorang yang merasa makin bergairah untuk menyebarkan Islam di Eropa. Ia merasa dengan training ESQ ini terjawab sudah pertanyaan yang sering menggayuti hatinya yaitu: mengapa ia di lahirkan ke dunia dan mengapa ia berada di Belanda. Ia merasa terpanggil untuk berdakwah !
di tempatnya kini berada. Ekspresi semangat tampak pada seorang gadis bernama Lea. Ia kini tengah menerjemahkan buku ESQ ke dalam bahasa Belanda. ''Setelah satu hari penuh menjalani ESQ training, ketika pulang, Pak Ary menceritakan tentang buku ESQ yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan berharap dapat diterjemahkan dalam bahasa Belanda. Tiba-tiba timbul keinginan untuk membantu. Sebetulnya, sebelumnya saya tidak mengerti apa itu ESQ. Tapi saat itu ada keinginan untuk menyebarkan ESQ seluas mungkin,'' papar mahasiswi berusia 23 tahun bernama lengkap Lea Sekar Arum de Weerd. Untuk mengakomodasi gairah dan semangat para remaja ini, pada hari terakhir diresmikan Forum Silaturahim Mahasiswa the Netherlands. Yang akan menjadi wadah kiprah para remaja Belanda. Ketua yang terpilih adalah Miranda Kartika Sari Ferdinandus, tinggal di Rotterdam, alumnus ESQ Teens Angkatan 5, tahun 2003. Wakil: Aimanika, Sekretaris: Lea, Sekretaris II: Wati, penasehat: Aaman, Hansyah, dan If!
a, yang hamper semuanya adalah alumni ESQ yang baru berlangsun!
g. Para
remaja itulah yang akan menyebarkan nilai-nilai 165 di bumi Eropa di masa depan, yang gerakannya sudah dari Mei lalu. Sebagai bagian dari total action mereka, pada perayaan Hari Kemerdekaan 17 Augustus 2006, mereka akan membuka stand ESQ untuk memberikan informasi tentang training ESQ Eropa II bulan September yang akan datang. Seperti setiap tahun, acara hari Kemerdekaan merupakan momen berkumpulnya orang Indonesia yang tinggal di Belanda. Selain itu, mereka juga sedang membuat konsep website untuk FOSMA Belanda. Di hari terakhir, bertepatan dengan Hari Ibu, 14 Mei, para remaja yang komitmen menjalankan nilai-nilai spiritual ini, menyanyikan lagu Bunda sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih mereka. Sebuah sajak dibacakan Afi salah seorang Alumnus Teens makin melengkapi suasana haru para orang tua yang senantiasa tak lepas mendoakan anak-anak remajanya yang tumbuh besar di negeri asing. Kehadiran training ESQ di bumi Eropa merupakan langkah maju ESQ untuk mewujudkan !
visi Dunia Emas 2050, dunia yang dipenuhi oleh cahaya berupa nilai-nilai mulia sebagai perwujudan pengabdian pada Tuhan. Sebelumnya, ESQ sudah merambah bumi Malaysia. Para alumninya juga tersebar di Singapura dan Brunei. Maka, penyebaran nilai 165 ke tanah Eropa, seperti ke Jerman dan Prancis, dan Amerika Serikat serta belahan dunia lainnya, tinggal menunggu saatnya saja.
( ida s widayanti )

No comments:

Post a Comment