Cari Berita berita lama

Republika - Petani Malaysia Kesulitan Pendanaan

Senin, 26 Pebruari 2007.

Petani Malaysia Kesulitan Pendanaan












KUALA LUMPUR -- Tak jauh berbeda dengan nasib petani di Indonesia, kalangan pertanian di Malaysia masih mengalami kesulitan, terutama dalam hal pendanaan. Meskipun demikian, perkembangan dunia pertanian di negeri jiran itu dinilai sudah sesuai arahan pemerintah. Kesulitan petani mendapatkan kredit dari lembaga keuangan itu, karena sejumlah bank mempermasalahkan kolateral atau jaminan petani yang tak memadai. Hal yang sebenarnya juga dialami petani di berbagai negara. Alasan lain yang membuat bank enggan mengucurkan kredit ke petani adalah jeleknya kinerja sektor pertanian dan minimnya informasi yang tersedia. Para petani khawatir, tanpa pendampingan dana perbankan, semua usaha mereka bakal sia-sia. ''Yang dibutuhkan sekarang adalah kepercayaan perbankan bahwa sektor pertanian benar-benar menggerakkan ekonomi tumbuh,'' kata petani jamur, Ahmad Sherwani Muhammad (28 tahun). Berusaha mendapatkan kucuran kredit perbankan, Ahmad sebenarnya sudah cukup berusaha. Ia berkali-k!
ali membawa proyek tanam jamurnya ke perbankan. Namun, berkali-kali pula perbankan menolaknya. Alasannya, proyek jamurnya masih tahap awal dan berisiko tinggi karena rawan gagal panen. ''Bagaimana kita dapat berkembang jika perbankan masih melihat sektor pertanian sebagai industri kelas dua,'' katanya. Seretnya kucuran kredit perbankan terhadap sektor pertanian itu mendapat perhatian PM Malaysia, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi. Badawi mengatakan, kini saatnya bagi bank untuk lebih berperan di sektor pertanian dan lebih banyak lagi berbuat bagi mereka. ''Berdasarkan informasi yang saya peroleh, memang ada masalah di sana,'' katanya ketika membuka Malaysia Agriculture, Horticulture and Agrotourism Show (MAHA) 2006 di Serdang, Selangor, November lalu. Badawai menjelaskan, penolakan perbankan membiayai sektor pertanian, karena sektor itu sangat bergantung pada cuaca dan rawan terhadap penyakit. Tapi, katanya, kini waktunya perbankan membantu sektor tersebut. Tak hanya dari Ba!
nk Pertanian Malaysia, bank lainnya juga harus turut memberi k!
ontribus
i. Sementara, perbankan mempunyai sudut pandang tersendiri. Seorang bankir di Kuala Lumpur mengatakan, risiko industri pertanian sangat tinggi. Selain itu, lamanya panen, merupakan alasan lainnya penolakan kalangan perbankan untuk menyetujui kredit. ''Kita harus selektif dalam mengucurkan kredit, khususnya sektor pertanian. Perbankan harus paham betul bagaimana produk dan pasarnya,'' kata bankir itu. Perlakuan itu tidak hanya diterapkan oleh bank komersial, tapi juga Bank Pertanian Malaysia. Mereka harus bertanggung jawab atas dana yang dikucurkan. Padahal, pemerintah telah memberikan sejumlah inisiatif kepada industri pertanian, agar impor produk pertanian Malaysia berkurang dari 14 miliar ringgit Malaysia (RM) per tahunnya. Sektor pertanian diharapkan menjadi mesin pendorong perekonomian ketiga, setelah sektor jasa dan manufaktur. Inisiatif pemerintah itu termasuk pembebasan atas pajak selama 10 tahun bagi perusahaan berbasis pertanian. Dana sebanyak 3,6 miliar RM digelont!
orkan pemerintah pada 2007 untuk memacu sektor ini berkembang, dalam hal produksi, teknologi, dan impelementasi bioteknologi. Sesuai rencana Malaysia Kesembilan (2006-2010), sektor pertanian ditargetkan tumbuh 7,6 persen. Dalam kurun waktu lima tahun itu, sebanyak 120 ribu pekerja baru akan terserap. Fakta Angka 3,6 Miliar RM Dana yang digelontorkan pemerintah pada 2007 untuk mengembangkan sektor pertanian.
(azlan abu bakar )

No comments:

Post a Comment