Cari Berita berita lama

KoranTempo - Rumah Tangga Penyumbang Terbesar Pencemaran Air

Kamis, 14 Oktober 2004.
Rumah Tangga Penyumbang Terbesar Pencemaran AirJAKARTA -- Limbah cair yang berasal dari rumah tangga ternyata menjadi penyumbang terbesar menurunnya kualitas air di wilayah DKI Jakarta. Dari keseluruhan jumlah air buangan di Jakarta yang mencapai 1.316.113 meter per kubik, 75 persen berasal dari limbah rumah tangga.

Kalangan industri yang selama ini kerap dituding sebagai biang pencemaran nyatanya hanya menyumbang 10 persen. Angka tersebut ternyata lebih rendah dibanding limbah yang dihasilkan perkantoran dan daerah komersial yang mencapai 15 persen.

"Selama ini kami memperkirakan industri sebagai penyumbang terbesar pencemaran di Jakarta, ternyata setelah diteliti hasilnya mengejutkan," kata Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta Daniel Abbas kemarin. Dia menjelaskan, pemantau yang dilakukan BPLHD di lima wilayah Jakarta pada 2004 menunjukkan air sungai maupun air tanah memiliki kandungan pencemar organik dan anorganik tinggi.

Dari seluruh parameter penelitian, yang meliputi tingkat kadar biologi (biological oxygen demand/BOD), kadar kimia (chemical oxygen demand/COD), bakteri coliform, fecal coli, mangan, fosfat, deterjen, dan unsur-unsur kimiawi lain, termasuk besi. Hasilnya, kata Daniel, limbah organik seperti fecal coli dan coliform yang mendominasi pencemaran di Jakarta.

Dia mengungkapkan, hasil pengetesan terhadap sampel air yang diambil dari 48 sumur di lima wilayah Jakarta menunjukkan 63 persen di antaranya mengandung bakteri coliform dan 75 persen mengandung fecal coli. Keduanya melebihi baku mutu atau batas maksimal yang ditetapkan sehingga berbahaya bagi kesehatan. Baku mutu coliform adalah 10 ribu per 100 mililiter dan fecal coli 2.000 per mililiter.

Di Jakarta Pusat misalnya, enam dari tujuh atau mencapai 86 persen sumur yang dipantau memiliki kadar bakteri coliform sangat tinggi. Di Jakarta Selatan 58 persen dari sumur yang dipantau mengandung coliform dan 67 persen tercemar fecal coli. Untuk wilayah Jakarta Barat, tujuh dari sembilan sumur tercemar coliform dan fecal coli melebihi batas normal. Di wilayah Jakarta Timur diketahui 45 persen sumur warga sudah tidak memenuhi baku mutu coliform dan 82 persen tidak memenuhi baku mutu fecal coli. Adapun di wilayah Jakarta Utara sumur yang mengandung bakteri coliform sangat tinggi, mencapai 56 persen. Demikian juga dengan kandungan fecal coli tinggi ditemukan di 67 persen sumur yang dipantau.

Sementara itu, untuk kualitas kimia air tanah di wilayah DKI Jakarta diketahui hanya 15 persen yang mengandung kadar besi tinggi, 27 persen mengandung mangan tinggi dan sekitar 29 persen sumur telah tercemar deterjen. "Pencemaran deterjen pada air tanah disebabkan oleh limbah domestik yang berasal dari sabun cuci, terutama yang berbentuk krim," dia menjelaskan.

Kondisi air sungai pun setali tiga uang. Dari 13 sungai yang melintasi Jakarta, tak satu pun yang bebas pencemaran. Hasil penelitian BPLHD DKI Jakarta pada tahun yang sama di 66 lokasi yang tersebar di 13 sungai menunjukkan seluruh lokasi tersebut tidak layak dijadikan sumber air minum. "Bahkan air itu tidak layak digunakan untuk usaha pertanian maupun perikanan," katanya. Lebih lanjut, dia mengungkapkan, bagian hulu Sungai Ciliwung yang biasa digunakan sebagai air baku air minum pun telah mengandung kadar BOD rata-rata 8,97 miligram per liter (mg/l) dan COD dengan kadar rata-rata 35,22 mg/l. Padahal, baku mutu BOD 10 mg/l dan COD 20 mg/l.

Rudi Nugroho dari Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, mengungkapkan, pencemaran badan-badan air oleh limbah cair rumah tangga, salah satunya, akibat berkembangnya permukiman di daerah penyangga. Berdasarkan penelitian, sebagian besar perumahan di kawasan pinggiran Jakarta hingga kini belum dilengkapi fasilitas limbah cair. Akibatnya, seluruh limbah cair dibuang ke saluran umum dan akhirnya mengalir ke sungai.

Rudi memaparkan, berdasarkan survei pada 1989, tiap orang rata-rata mengeluarkan beban limbah organik 40 gram BOD per hari, terdiri dari limbah toilet 13 gram per orang per hari dan limbah nontoilet, meliputi air bekas mandi, cuci, dan limbah dapur 27 gram BOD per orang per hari. "Selama ini hanya limbah toilet yang diolah melalui tangki kakus (septic tank), sedangkan sisanya langsung mengalir ke saluran-saluran air," katanya.

Padahal, dengan sistem tangki kakus dengan efisiensi pengolahan 65 persen, hanya 22,5 persen dari total beban polutan organik yang dapat dihilangkan. Adapun 77,5 persen sisanya masih terbuang keluar. Sebenarnya, menurut Daniel, upaya mengatasi pencemaran air sudah dilakukan pemerintah DKI, tetapi hasilnya tak pernah memadai.

Sementara itu, guru besar Institut Pertanian Bogor Prof. Dr. Ir Herman Haeruman berpendapat, tidak pernah tuntasnya masalah lingkungan di Jakarta, termasuk banjir, kekeringan, dan pencemaran disebabkan lebih banyak menggunakan pendekatan teknis. "Misalnya, dengan membangun saluran buangan atau banjir kanal," katanya.

Menurut dia, pendekatan lain yang perlu dilakukan adalah pemindahan manusia untuk menjauhi sumber air. "Jauhkan permukiman warga dari sungai," ujarnya. Hanya, pendekatan ini memerlukan pemikiran dan pelaksanaan yang integratif antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. "Sense of crisis harus dibangun, mungkin Jakarta perlu dideklarasikan sebagai daerah bencana lingkungan kronis," ujarnya.

Setyo S. Moersidik dari Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan Universitas Indonesia menilai, akar persoalan dari semakin tingginya pencemaran di Jakarta karena tidak adanya rencana induk (master plan) pengelolaan air, baik air bersih maupun air limbah. Dia mengimbau agar master plan yang mengintegrasikan aspek perencanaan air bersih limbah dan persampahan di DKI Jakarta segera diwujudkan. nunuy nurhayati

No comments:

Post a Comment