Jumat, 24 Januari 2003.
Nilai Saham BPPN di Bank Lippo Tinggal Rp 614 MiliarJAKARTA - Nilai saham pemerintah (BPPN) di PT Bank Lippo Tbk telah mengalami penurunan secara drastis dan hanya tinggal Rp 614 miliar menyusul memburuknya kinerja dan anjloknya harga saham bank ini di Bursa Efek Jakarta.
Berdasarkan Laporan Kegiatan BPPN 2002 yang dipublikasikan baru-baru ini, Bank Lippo adalah satu-satunya bank peserta rekapitalisasi di bawah lembaga penyehatan yang nilai sahamnya menurun tajam. Padahal, nilai saham empat bank rekap lainnya (PT Bank Central Asia Tbk, Bank Danamon Tbk, PT Bank Niaga Tbk, dan PT Bank Permata Tbk) justru melonjak naik, kecuali saham PT Bank Internasional yang sedikit menurun.
Menurut data BPPN, nilai pasar saham pemerintah di Bank Lippo per 6 Januari 2003 adalah sebesar Rp 614 miliar. Padahal, tiga bulan silam (Oktober) nilai saham bank ini berdasarkan nilai buku masih tiga kali lipatnya atau sebesar Rp 1,72 triliun. Bila dibandingkan dengan dana yang telah disuntikkan pemerintah sebesar Rp 6 triliun pada Mei 1999, penurunan nilai saham itu jauh lebih besar yakni tinggal 10 persen saja, sehingga negara berpotensi rugi Rp 5,4 triliun. (lihat tabel)
Deputi Kepala BPPN bidang Restrukturisasi Perbankan, I Nyoman Sender membenarkan soal penurunan nilai saham pemerintah di Bank Lippo. Menurut dia, nilai saham pemerintah tinggal Rp 600 miliar karena harga saham Lippo di bursa anjlok. "Habis harganya di bursa turun, bagaimana?" ujar Sender, kemarin.
Namun, Sender menekankan, "Kami akan melakukan evaluasi dulu. Kami juga akan melakukan sesuatu, misalnya meminta pertanggung jawaban manajemen. Kalau perlu ya diganti."
Seorang analis bursa -- yang mengamati perkembangan harga saham Bank Lippo -- melihat ada ketidakwajaran dengan pergerakan harga saham bank ini. Menurut dia, dalam kurun waktu tiga bulan terakhir hampir semua saham bank bergerak naik. "Tetapi, mengapa harga saham Bank Lippo justru menurun drastis? Apalagi harga saham Lippo di bursa sudah paling murah," katanya balik bertanya.
Mengacu harga di bursa saham, enam bulan silam harga saham bank yang masih dikendalikan oleh Keluarga Mochtar Riady ini masih diperdagangkan di level Rp 70-an per lembar. Namun, harga sahamnya di bursa Jakarta sekarang sudah jeblok hingga tinggal Rp 25 per lembar. Karena bank ini, telah melakukan reverse stock atau penggabungan nominal saham hingga 10 kali, seolah harga saham bank ini terkesar naik hingga Rp 250 per lembar.
Kalangan analis bursa dan perbankan juga sudah mencurigai penurunan saham secara tidak wajar itu karena digerakkan oleh pihak-pihak tertentu. "Saya menduga harga saham itu sengaja digoreng agar menurun sehingga pemilik lama bisa membeli kembali dengan harga semurah-murahnya," ujar ekonom Indef Dradjad Wibowo, kemarin.
Hasil penelitian sebuah perusahaan broker asing memperkuat dugaan ada manipulasi transaksi saham Bank Lippo di bursa. Penelitian ini didasarkan atas transaksi 1 - 2 lots setiap harinya dari tanggal 4 November 2002 sampai 10 Januari 2003 atau selama 40 hari transaksi (lihat boks). "Transaksi yang bertujuan menurunkan harga saham itu selalu dilakukan broker yang sama menjelang penutupan pasar."
Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Herwidayatmo yang dimintai konfirmasinya mengaku sedang mencermati penurunan harga saham Bank Lippo yang diributkan oleh berbagai kalangan itu. "Jadi, kami tidak diam saja. Kami bekerja, meski hemat bicara karena ini menyangkut kepercayaan pada suatu bank," paparnya, kemarin.
Yang jelas, menurut dia, bila terbukti ada pelanggaran, siapapun akan dikenakan sanksi tegas. "Namun, untuk tahap awal, seharusnya yang melakukan pemantauan adalah pihak BEJ."
Namun, manajemen Bank Lippo yang dimintai konfirmasinya menegaskan bahwa soal harga saham turun adalah urusan pasar. "Kami tidak bisa ikut mencampuri pergerakan harga di pasar," ujar Presiden Direktur Bank Lippo, I Gusti Made Mantera beberapa waktu lalu. Jawaban serupa disampaikan oleh Wakil Komisaris Bank Lippo, Roy Tirtadji. heri susanto
No comments:
Post a Comment