Minggu, 19 Mei 2002.
Hendrawan Pahlawan, Indonesia Juara Piala Thomas Ke 13Guangzou, 19 Mei 2002 20:09HENDRAWAN ditakdirkan sebagai pahlawan Piala Thomas Indonesia untuk ke dua kalinya saat menaklukkan Roslin Hashim 8-7, 7-2, 7-1 yang membuat tim merah putih menaklukkan Malaysia 3-2 pada partai final yang berlangsung dramatis di Tianhe Sport Centre, Guangzhou, Minggu siang.
Kemenangan ini membuat Indonesia memecahkan rekor menjadi juara lima kali beruntun sejak 1994, sekaligus membawa tim merah putih 13 kali menjadi juara dari 22 kali kontes sejak 1948.
Sebelumnya, Indonesia pernah menjadi juara empat kali beruntun sejak tahun 1969-1979 di era Rudy Hartono dkk, sebelum akhirnya direbut Cina 1982.
Kemenangan di Tianhe Sport Centre merupakan kemenangan Indonesia ke enam kalinya dari delapan kali pertemuan dua rival klasik Asia Tenggara itu setelah 1958, 1970, 1976, 1994 dan 1998, sedangkan Malaysia menang pada tahun 1967 dan 1992.
Bermain di partai penentuan, Hendrawan memasuki lapangan dengan keyakinan penuh. Sempat unggul lebih dulu 4-2, pertandingan kemudian berlangsung ketat 4-4, 4-5, 4-6, 5-6, 6-6, 7-7 dan akhirnya pengembalian bola Roslin yang menyangkut net mengakhiri set pertama 8-7 untuk Hendrawan.
Pada set ke dua, Hendrawan yang mengandalkan penempatan bola "baseline" langsung menggebrak 5-0 dan beberapa kali kesalahan sendiri yang dibuat Roslin mengakhiri set ke dua 7-2.
Roslin melakukan banyak kesalahan pada set ke tiga. Beberapa kali pukulan yang terlalu jauh ke belakang membuat Hendrawan unggul 5-0, sebelum akhinya mampu mencuri poin menjadi 5-1.
Empat kali pindah bola terjadi pada kedudukan 5-1, tetapi pukulan ke belakang yang gagal diantisipasi Roslin mengubah skor menjadi 6-1.
Pukulan Roslin keluar membuat Hendrawan akhirnya unggul 7-1, sekaligus mengakhiri pertandingan dalam waktu 34 menit. Juara dunia 2001 itu berlari ke luar lapangan menjauhi tempat duduk rekan setimnya, tetapi dikejar rekan-rekan yang langsung memeluk dan mengaraknya berputar lapangan ditengahi sambutan meriah penonton.
Hendrawan tak kuasa menahan tangisnya saat diarak, demikian pula anggota tim Indonesia. "Saya bukan pemain terbaik dan saya bukan pahlawan, saya bisa bermain di Piala Thomas karena sokongan teman-teman," kata Hendrawan yang tidak mampu menyembunyikan keharuannya.
Dalam jumpa pers, Hendrawan mengatakan: "Sejak sebelum bermain saya sudah mengatakan diri saya sendiri. Saya harus membuat sejarah bagi diri sendiri, bagi Indonesia dan bagi Piala Thomas," kata Hendrawan yang untuk ke
tiga kalinya mengalahkan Roslin dari empat kali pertemuan mereka.
Drama Piala Thomas 2002 merupakan ulangan 1998 saat di Hongkong dalam partai final Indonesia versus Malaysia.
Saat itu kemenangan Hendrawan dari Yong Hock Kin 18-14, 10-15 dan 15-5 menjadi penentu kemenangan 3-2 tim merah putih melengkapi kemenangan dua ganda juara Olimpiade 1996 Ricky Subagdja/Rexy Mainaky dan duet juara dunia 1999 Candra Wijaya/Sigit Budiarto masing-masing mengalahkan Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock dan Chong Tan
Fok/Lee Wan Wah.
Dua tunggal pertama Haryanto Arbi dan Joko Supriyanto masing-masing dikalahkan Ong Ewe Hock dan Roslin Hashim.
Usai pertandingan, Manajer Tim Piala Thomas Christian Hadinata mengatakan kunci kemenangan Indonesia terletak pada faktor mental.
"Mental menjadi faktor penentu. Kami berada dalam tekanan berat saat tertinggal 2-1," katanya. Faktor mental, kata dia, juga menjadi penentu saat kedudukan sama 2-2. "Baik Hendrawan mapun Roslin berada dalam tekanan yang sama. Jadi faktor non teknis akan menentukan."
"Keduanya bermain sama bagus, tetapi Hendrawan bermain lepas. Tidak terlalu banyak melakukan kesalahan," katanya.
"Ini hari yang luar biasa. Sangat membanggakan karena lima kali berturut-turut kita membawa Piala Thomas," katanya.
Menanggapi Taufik Hidayat yang dirugikan hakim garis, Christian mengatakan: "Memang keputusan-keputusan kontroversial itu mengganggu Taufik.
Apalagi di poin-poin kritis, siapapun pasti emosional. Ditanya rencana masa datang, Christian mengatakan: "Kami harus mempersiapkan diri untuk ke Asian Games (Busan, Korsel, September)."
Penyelamat
Ganda Halim Haryanto/Tri Kusharyanto menjadi penyelamat tim merah putih saat menyamakan kedudukan menjadi 2-2 dengan mengalahkan ganda peringkat 15 dunia Choong Tan Fook/Lee Wan Wah 8-7, 7-8, 7-1, 7-3 dalam waktu 44
menit.
Ini merupakan pertemuan pertama ke dua pasangan. Dua set awal berlangsung ketat 8-7, 7-8, tetapi pada set ke tiga Halim/Trikus, yang baru dipasangkan tahun ini, tampil perkasa dengan kemenangan 7-1 set ke tiga setelah smesh Tri Kusharyanto menyentuh net dan masuk ke lapangan lawan.
Pada set ke empat, pertandingan berlangsung ketat pada kedudukan 0-0, 1-0, dan 1-1, sebelum akhirnya ganda Malaysia unggul 3-1. Namun, penampilan spartan Tri Kusharyanto, yang berani berjibaku dan jatuh bangun mengejar bola dari lawan, serta smesh keras Halim berhasil mengunci skor lawan dan unggul 6-3.
Smes Tri Kusharyanto yang gagal dikembalikan Lee Wan Wah mengakhiri set keempat dengan skor 7-3 untuk kemenangan Indonesia.
Lee Wan Wah yang baru pulih dari cedera lutut kanan mengakui penampilan lawannya sangat bagus. "Mereka bermain bagus. Tidak seperti penampilan sebelumnya. Luar biasa," katanya.
Ditanya tentang cederanya dan masa depan duet dengan Choong Tan Fook, Wan Wah mengatakan: "Saya belum tahu. Saya harus memeriksakan ke dokternya," katanya.
Malaysia unggul 2-1 setelah, bintang muda Indonesia Taufik Hidayat (21) gagal menjadi "kunci" kemenangan saat ditaklukkan Lee Tsuen Seng (23) 7-1, 5-7, 2-7, 7-2, 3-7 dalam waktu 48 menit.
Pemain nomor 23 dunia Taufik Hidayat tampil perkasa memenangi set pertama 7-1. Taufik lebih dulu unggul 4-0 set kedua, tetapi beberapa kali melakukan pukulan-pukulan "aksi", yang membuat Tsuen Seng menyamakan kedudukan 4-4 dan akhirnya memenangi set ke dua 7-5.
Titik balik bagi Taufik terjadi set ke tiga saat tertinggal 2-5 dari lawannya. Penjaga garis tidak cermat saat bola tanggung yang dismesh Taufik jelas masuk. Penjaga garis menutupkan ke dua tapak tangannya di depan mata menandakan tidak tahu bola masuk atau keluar dan akhirnya wasit Nahathai Sornprachum asal Thailand memutuskan bola keluar. Meski melakukan protes keras, smesh Taufik tetap dinyatakan keluar sehingga angka
bertambah bagi Tsuen Seng 6-2.
Memanfaatkan Taufik yang sudah kehilangan konsentrasi, Tsuen Seng mengakhiri set ke dua dengan 7-2. Taufik bangkit set ke empat dan menang 7-2.
Kontroversi kembali terjadi pada awal set penentuan, saat Taufik melakukan servis pada kedudukan 0-0. Servis Taufik dinyatakan tidak sampai garis, tetapi Taufik protes karena menganggap "shuttle cock" sudah menyentuh
raket Tsuen Seng sebelum jatuh ke lapangan. Protes itupun tetap ditolak wasit.
Tsuen Seng mengambil keuntungan dan dengan mudah memenangi set ke lima 7-3 disambut sorak sorai tim Malaysia, yang tidak menduga Taufik bakal kalah oleh Tsuen Seng. Teriakan "Malaysia Boleh" pun bergema di stadion
berkapasitas 8.000 tempat duduk.
Bagi Taufik, kekalahan ini merupakan kedua kalinya dari empat kali pertemuan mereka. Taufik menang di Brunei Terbuka 1998 dan Kejuaraan Asia 2000, tetapi Tsuen Seng unggul pada semifinal Swiss Terbuka 2001.
Ganda terkuat Indonesia Sigit Budiarto/Candra Wijaya membuat Indonesia menyamakan kedudukan 1-1 dari Malaysia pada partai final Piala Thomas di Tianhe Sport Centre, Guangzhou, setelah menaklukkan Chan Chon Ming/Chew Choon 7-3, 7-4, 7-2 dalam 20 menit.
Sebelumnya Indonesia tertinggal setelah Wong Choong Han (25) kembali menunjukkan kegemilangannya mengalahkan Marleve Mainaky (30) 7-5, 7-5, 7-1, yang menjadi kekalahan ke dua pemain peringkat tujuh dunia itu dalam satu
pekan atas Marleve, setelah kalah 1-7, 2-7, 7-2, 5-7 pada penyisihan grup B.
Sigit/Candra unggul dulu 5-0 dan tidak pernah terkejar hingga memenangi set pertama 7-3, pada set ke dua duet nomor tujuh dunia itu unggul sejak awal sebelum mengakhiri dengan skor 7-4.
Demikian pula set ketiga saat unggul 7-2 atas lawannya ganda nomor satu dunia, sekaligus kemenangan ke empat kalinya setelah semifinal Singapura Terbuka, Malaysia Terbuka dan Jepang Terbuka 2001.
Pada partai pertama, Marleve sempat menunjukkan janjinya dengan lebih mengambil inisiatif serangan saat unggul 5-0, tetapi Choong Hann dengan "footwork" yang bagus dan pertahanan yang kuat membalikkan keadaan mengunci skor lawannya menjadi 5-5.
Choong Hann, pemain peringkat lima dunia, berbalik mengambil inisiatif serangan mengakhiri set pertama dengan 7-5. Pada set ke dua, Marleve unggul 4-2 dan 5-3, tetapi Choong Hann kembali mendikte lawannya dan kembali mengunci skor lawan menyamakan kedudukan 5-5.
Terjadi perpindahan servis tujuh kali pada kedudukan 5-5, sebelum akhirnya penempatan bola ke belakang Choong Hann gagal diantisipasi Marleve mengubah skor menjadi 6-5. Kontrol bola yang tidak akurat oleh Marleve, membuat Choong Hann unggul 7-5.
Pada set ke tiga, Marleve yang tampak tegang tidak mampu mengatasi permainan bagus Choong Hann yang langsung unggul 6-1. "Drop shot" Marleve yang keluar mengakhiri set ke tiga menjadi 7-1 untuk Choong Hann.
Ini kekalahan ke lima kalinya bagi Marleve dari lima kali pertemuan melawan Choong Hann. Pelatih tunggal Agus Dwi Santoso usai pertandingan mengatakan, sebenarnya Marleve sudah menjalankan strategi dengan tepat untuk mengambil inisiatif serangan. "sayang di poin-poin `tua` (penentuan) dia kalah `garang`."
"Secara tidak sadar dia main `safe`, akhirnya yang sebelumnya tampil menyerang jadi agak kendor. Ini jelas terlihat di pertama dan ke dua," katanya.
Akibatnya, kata dia, Choong Hann tidak kesulitan memenangi set ke tiga. "Sudah kalah dua set meski sebelumnya unggul membuat dia tidak yakin lagi. Makanya set ke tiga kalah mudah," katanya.
Tetap Bangga
Pelatih kepala tunggal Malaysia Indra Gunawan mengatakan tetap bangga dengan penampilan para pemainnya. "Saya kira mereka telah melakukan yang terbaik. dan tim Indonesia memang lebih kuat dibanding Malaysia."
"Sebenarnya kami menargetkan mencuri di ganda ke dua, tapi nyatanya gagal," katanya. Secara khusus, ia memuji penampilan pemai-pemain muda Malaysia yang berani tampil. "Kalau tidak diturunkan sekarang, kapan lagi. Masak
ikut Piala Thomas untuk jadi penonton saja."
Menanggapi tidak diturunkannya Hafiz Hashim, yang menjadi kunci kemenangan Malaysia 3-1 dari Cina di semifinal, Indra mengatakan: "Sebenarnya kami ingin menurunkan Hafiz, tetapi karena dia cedera akhirnya
saya mau tidak mau harus menurunkan Lee Tsuen Seng."
Hafiz Hashim mengakui dirinya cedera. "Saya cedera kaki saat mengalahkan Bao Chunlai d semifinal," katanya seraya menunjuk tapak kaki kirinya.
"Dokter memastikan saya tidak bisa turun tengah malam tadi," katanya seraya mengisahkan dokter tim Ramlan Aziz memeriksanya dua kali saat siang usai latihan dan Sabtu tengah malam.
Hasil lengkap final Piala Thomas:
Indonesia vs Malaysia 3-2
- Marleve Mainaky vs Wong Choong Hann 5-7, 5-7, 1-7 (36 menit)
- Candra Wijaya/Sigit Budiarto vs Chan Chong Ming/Chew Choon Eng 7-3, 7-4, 7-2 (20)
- Taufik Hidayat vs Lee Tsuen Seng 7-1, 5-7, 2-7, 7-2, 3-7 (48)
- Halim Haryanto/Tri Kusharyanto vs Choong Tan Fook/Lee Wan Wah 8-7, 7-8, 7-1, 7-3 (44)
- Hendrawan vs M Roslin Hashim 8-7, 7-2, 7-1 (34)
[Dh, Ant]
No comments:
Post a Comment