Rabu, 5 Maret 2003.
Dunia akan Dilanda Krisis AirParis, 5 Maret 2003 17:22Dunia akan dilanda krisis air, dalam kurun waktu beberapa dekade mendatang, karena meningkatnya populasi penduduk, polusi dan perubahan cuaca yang menghilangkan sumber-sumber alam yang paling berharga, demikian Laporan PBB yang diterbitkan Rabu.
"Dari semua krisis sosial maupun alam yang kita alami krisis air adalah yang paling utama untuk kelangsungan kehidupan kita dan planet bumi ini," kata Dirjen UNESCO Koichiro Matsuura yang menyelenggarakan penelitian selama ini.
Menurutnya, tak akan ada bagian dari bumi yang terbebas dari krisis yang satu ini yang menyentuh setiap segi kehidupan mulai dari kesehatan anak-anak sampai kepada kemampuan suatu negara untuk dapat menjamin pengadaan pangan bagi rakyatnya.
"Penyediaan air telah menurun secara drastis pada tingkat tidak berkesinambungan," katanya.
Untuk dua puluh tahun waktu mendatang, penyediaan air rata-rata bagi semua orang akan menurun sampai sepertiga dari yang ada sekarang ini.
Laporan ini disebut sebagai kumpulan informasi yang paling lengkap dan rinci tentang persediaan air bersih dunia yang dikeluarkan oleh UNESCO koordinator konferensi internasional, Konferensi Air Negara-Negara Dunia Ketiga yang akan dijadwalkan bulan ini di Jepang.
Suram
"Masa depan sebagian besar wilayah dunia terlihat suram," lanjut laporan tersebut.
Laporan itu juga berisi perkiraan pada tahun 2050, dimana jumlah penduduk mencapai 2 miliar, tersebar di 48 negara, dan lebih dari 7 miliar di 60 negara, akan kekurangan air bersih.
Angka-angka tersebut amat tergantung pada jumlah populasi dan kebijakan pemerintah untuk menekan polusi dan limbah.
Walaupun angka kelahiran menurun secara signifikan jumlah penduduk dunia masih akan mencapai kira-kira 9,3 miliar pada 2050 dibandingkan dengan 6,1 miliar pada tahun 2001.
Polusi adalah hal terbesar dan terburuk yang menyebabkan rusaknya kelangsungan air bersih.
Setiap hari sebanyak dua ton limbah masuk kedalam sungai, danau dan sumber air lainnya.
Pada saat ini menurut laporan tersebut terdapat 12 ribu km persegi sumber air dunia yang tercemar dengan catatan bila pola hidup tetap sama dengan apa yang terjadi sekarang maka jumlah itu akan mencapai 18 ribu km persegi pada tahun 2050 hampir sembilan kali lipat jumlah yang dipakai untuk irigasi pada saat ini.
Penelitian itu juga menambahkan temuan yang didapat pada penelitian sebelumnya bahwa global warming meningkatnya suhu bumi disebabkan oleh kecerobohan manusia membakar sisa-sisa bahan bakar yang terdapat dalam lapisan bumi yang mengakibatkan kerusakan parah pada sumber air bersih.
Perubahan cuaca juga menjadi salah satu hal penyebab langkanya persediaan air bersih karenanya pola curah hujan akan berubah pula.
Wilayah bumi yang memiliki kelembaban tinggi kemungkinan akan mengalami curah hujan lebih tinggi walaupun sebenarnya wilayah tersebut mengharapkan adanya penurunan dan keadaan akan semakin memburuk didaerah tropis maupun sub-tropis.
Mutu air akan semakin menurun dengan meningkatnya polusi dan temperatur.
Laporan tersebut menganjurkan beberapa hal, antara lain, para pemimpin dunia agar memiliki niat kebijakan untuk menghadapi krisis air dan menjujung tinggi komitmen yang telah dibuat oleh masing-masing negara.
Selain itu, menggalakkan sistem penanganan limbah bagi irigasi terutama di negera miskin.
Kemudian, mendorong penanaman modal dalam penyediaan air bersih dan pembuangan limbah. Sekitar 12,6 miliar dolar AS diperlukan sebagai dana tambahan per tahunnya untuk dapat memenuhi target yang dicanangkan PBB. Biaya tersebut diperuntukkan bagi program tahun 2015 yang bertujuan mengurangi separuh jumlah orang-orang yang tidak mempunyai akses terhadap air bersih dan sistem sanitasi dasar.
Laporan tersebut berujung kepada kontroversi yang mempertanyakan perlukan penyediaan air bersih dilakukan oleh pihak swasta.
Sektor swasta haruslah dilihat sebagai katalisator yang akan membantu menyelesaikan masalah air namun pengawasan atas sumber air haruslah dilakukan oleh pihak pemerintah dan pengguna," demikian saran laporan tersebut.
Sementara itu, badan pengawas mutu air dari PBB dalam laporannya mengatakan Finlandia memiliki air yang paling baik mutunya sedangkan Belgia memiliki yang terburuk.
Kondisi air yang terburuk di Belgia dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain kualitas dan kuantitas air bersih, mata air, sistem pembuangan limbah, kesadaran akan undang-undang polusi.
Forum Air Negara-negara Dunia Ketiga akan berlangsung di Kyoto, Jepang dari 16-23 Maret mendatang. [Tma, Ant]
No comments:
Post a Comment