Cari Berita berita lama

Tempointeraktif.com - Megawati Belum Pastikan Maju jadi Calon Presiden

Minggu, 25 Pebruari 2007.


Megawati Belum Pastikan Maju jadi Calon Presiden
Minggu, 25 Pebruari 2007 | 10:55 WIB
TEMPO Interaktif, Surabaya: Megawati Soekarnoputri belum memastikan apakah maju sebagai calon presiden dalam pemilihan presiden 2009 mendatang. Mantan presiden itu masih mempertimbangkan banyak faktor, termasuk faktor internal di partainya."Ibu Mega tidak mau dipaksa-paksa maju pada pilpres 2009 kalau para kader PDIP tidak solid dan tidak bisa meraih 50 juta suara," kata Tjahjo Kumolo, salah seorang Ketua DPP PDIP ketika menyampaikan pemaparannya tentang stretegi PDIP menghadapi pemilu legislative dan pilpres dihadapan 350 pengurus PDIP seluruh Jawa Timur dalam Rakerdasus, Sabtu (24/2-2007).

Tjahjo Kumolo mengakui tidak ada kandidat lain di PDIP yang layak diajukan sebagai capres. "Di PDIP, ya hanya Ibu Megawati," katanya. Penyiapan capres dari PDIP sangat
penting menghadapi persaingan dengan para capres yang sudah disiapkan partai-partai lainnya.

Tjahjo membeberkan bahwa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)pasti maju untuk merebut masa jabatan kedua. Bahkan SBY sudah berancang-ancang melakukan koalisi dengan partai tertentu untuk jabatan wapres. Di antaranya dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sejumlah nama juga sudah disebut-sebut sebagai pendamping SBY sebagai wapres, di antaranya Hidayat Nurwahid, Ketua Umum DPP PAN Sutrsno Bachir, juga Kapolri, Jenderal Sutanto.

Jusuf Kallapun juga akan maju memperebutkan kursi presiden karena Golkar akan melepaskan dukungannya terhadap SBY. Yusuf Kalla, menurut Tjahjo Kumolo, malah sudah mempersiapkan sejumlah namanya yang akan digandeng sebagai calon wapres. Diantara Sri Sultan Hamengkubuwono agar ada perimbangan figure luar Jawa dan Jawa. Maka jika PDIP menjagokan Megawati, maka persiapannya harus benar-benar matang. "Saya sudah pernah jadi presiden, wakil presiden. Juga pernah maju sebagai calon presiden. Kalau saya harus maju, benar-benar harus siap. Saya tak mau dipermalukan lagi," kata Tjahjo Kumolo mengutip pernyataan Megawati.

Faktor internal yang dimaksud Tjahjo Kumolo adalah perlunya kesolidan seluruh aparatus partai. "Apakah kita mampu solid menghadapi pemilu, baik pemilu legilslatif maupun pilres?" kata Tjahjo Kumolo sembari menambahkan pertanyaan itu sering diajukan Megawati. Pertanyaan lainnya: apakah mampu melakukan peningkatan perolehan suara, apakah mampu meningkatkan citra yang baik, apakah mampu membangun network yang baik untuk bisa menambah peroleh suara. ''Jika hal-hal tersebut bisa diwujudkan, barulah Ibu Mega siap," kata Tjajo Kumolo.

Tjahjo membeberkan data, bahwa jumlah kader PDIP yang mengantongi kartu anggota hanya 11,3 juta orang. Jumlah perolehan suara dalam pemilu 2004, 18,6 juta orang. 7 juta orang diantaranya adalah anggota masyarakat yang secara ideologis memilih untuk menitipkan suaranya pada PDIP. "PDIP harus mampu meningkatkan jumlah kader yang mengantongi kartu anggota," katanya.

Menghadapi pemilu 2009 jauh lebih berat dibandingkan tahun 2004. Berbagai faktor eksternal menjadi penghalang bagi kemenangan PDIP. Tjahjo Kumolo membeberkan banyak hal, mulai dari perubahan UU Parpol maupun UU Pemilu, masalah posisi TNI dan Polri. "Apakah TNI dan Polri tetap netral atau tidak. Bahkan yang jauh lebih penting adalah
kemandirian TNI dan Polri secara kelembagaan," katanya.

Sebab, kata Tjahjo Kumolo, pada pemilu 2004, kenyataannya 96 porsen suara dari lokasi asrama TNI dan Polri memilih Partai Demokrat. Selain itu dilakukan gerakkan territorial di daerah-daerah tertentu yang menguntungkan Partai Demokrat.

Termasuk faktor eksternal adalah sejumlah faktor lain yang disebut Tjahjo Kumolo sebagai 'Faktor X'. Berbagai lembaga, seperti Kejaksaan, BPKB BPK, KPK, Bawasda, sampai petugas pajak dijadikan alat dan kekuatan politik oleh penguasa sekarang. "Jargonya penegakkan hukum meskipun kenyataannya tebang pilih," kata Tjahjo.

Selain itu peran KPU hingga KPUD juga menjadi faktor penentu, karena terbukti pada pemilu 2004 banyak suara gelap di berbagai daerah.

Tapi, kata Tjahjo Kumolo tetap melakukan berbagai strategi menghadapi pemilu 2009. Badan Pemenangan Pemilu, misalnya, April 2007 sudah terbentuk di seluruh lapisan kepengurusan dan langsung mulai bekerja. "Masih ada waktu mempersiapkan diri," katanya. Di antaranya, masih akan dilangsungkan 2 kali Rakernas pada tahun 2008, serta 1 kali Rakernas pada tahun 2009.

Kader PDIP di berbagai daerah ditugaskan membangun komunikasi dan silaturahmi dengan pesantren-pesantren.
"Itu hukumnya wajib," tegas Tjahjo Kumolo.

Jalil Hakim.

No comments:

Post a Comment