Kamis, 23 Agustus 2007.
Terseret Dua Raksasa Ekonomi
Jika perang dagang terjadi, negeri kecillah yang paling dirugikan.
Elba Damhuri Wartawan Republika Di tengah guncangan keras pasar modal global menyusul ambruknya sistem kredit hipotek berisiko tinggi di Amerika Serikat (AS), konflik yang tak kalah kerasnya juga mengguncang sejumlah negara besar dunia. Saking kuatnya perselisihan di antara mereka, beberapa negara lain pun harus ikut menanggung imbasnya, dan akhirnya mengarah pada terjadinya perang dagang di antara mereka. Jelas, sejak lama, AS begitu kesal dengan kebijakan rendahnya batas atas-bawah mata uang yuan atas dolar AS. Presiden George W Bush secara terang-terangan juga dengan mengirim delegasi pejabat tinggi bidang keuangan ke Beijing mendesak Presiden Hu Jintao menaikkan lagi nilai yuan atas dolar AS, setidaknya 10 persen, dan kalau bisa 41 persen. Cina memang merespons desakan itu, dengan hanya menaikkan yuan 2,1 persen pada Juni 2005 lalu. AS tidak puas. Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF) pun ikut-ikutan meminta Pemerintah Negeri Tirai Bambu itu agar berani l!
ebih melonggarkan nilai yuannya agar tercipta perdagangan internasional yang lebih adil, terbuka, dan tidak merugikan negara lain. Tapi Cina belum memberikan sinyal positif, sampai sekarang. Mengapa AS begitu kesal dan tampak murka atas semua itu? Secara tegas Presiden Bush mengatakan perlakuan yuan yang tidak adil atas dolar AS menyebabkan mahalnya biaya kerja industri di AS dan juga menekan ekspor barang-barang AS, khususnya ke Cina. Akibatnya, AS mengalami defisit perdagangan yang hebat dengan Cina, sementara raksasa ekonomi Asia Timur itu menikmati surplus yang luar biasa. Pada tahun 2004 lalu saja, perdagangan AS versus Cina negatif 162 miliar dolar AS. Angka itu melonjak hingga di atas 200 miliar dolar AS pada 2006 lalu. Bagi AS, ini merupakan kerugian terbesar yang dialaminya selama mengadakan perdagangan internasional dengan berbagai negara di belahan dunia manapun. Ini belum terhitung naikknya angka pengangguran, hilangnya sejumlah pekerjaan, dan tak ada pemasukan !
dari hak cipta yang merupakan salah satu elemen penting dari K!
onsesus
Washington. Yang terjadi berikutnya, munculnya ketegangan-ketegangan hubungan ekonomi antarkedua negara (sementara ketegangan politik sudah terjadi sejak lama yang puncaknya pembantaian mahasiswa di Tianamen semasa PM Li Peng). Ketegangan yang tinggi itu pun mengarah pada terjadinya perang dagang di antara mereka. Dan itu, akhirnya, benar-benar terjadi. AS mengeluarkan hambatan tarif dan nontarif terhadap sejumlah produk Cina seperti tekstil, obat-obatan, dan kosmetik. Pemerintah dan senat AS juga kompak menolak masuknya perusahaan minyak pelat merah Cina, CNOOC, membeli salah satu raksasa minyak AS bekas the gank of seven sisters, Unocal. Alasan AS, pembelian itu bisa membahayakan keamanan nasional. Sementara, separo produksi minyak dunia dikuasai perusahaan-perusahaan Paman Sam. Pemerintahan Bush masih belum puas memberikan kayu kepada Cina. Sejak awal Agustus lalu, AS memutuskan menarik 18 juta produk mainan dari Cina yang beredar di negaranya demi keamanan konsumen. Otor!
itas AS menyatakan mainan itu berbahaya bagi anak-anak dan kesehatan. Mattel Southeast Asia Pte Ltd, anak perusahaan Mattel asal AS di Asia, yang menarik sejumlah produk mainan yang pembuatannya diserahkan kepada pabrik Cina. Manajemen Mattel mengungkapkan pabrik Cina menggunakan cat timah hitam yang melanggar standar yang ada, dan kerena itu sejak 2 Agustus lalu penarikan besar-besaran pun terjadi. Mereka juga terus melakukan penyelidikan atas kasdus tersebut. Mattel sendiri memproduksi mainan terkenal seperti Barbie, Hot Wheels, Matchbox, American Girl, Tycoo, Fisher Price, Little People, Rescue Heroes, dan Power Wheels. Inggris belakangan meniru langkah AS dengan menarik sejumlah mainan buatan Cina yang ditengarai mengandung unsur timah berbahaya. Beijing bereaksi keras atas tindakan sepihak itu. Mereka pun melakukan balasan dengan melarang masuknya alat pacu jantung asal AS. Alasan Cina, kekuatan kejut alat itu tidak sesuai standar yang ditetapkan negeri itu. Di industr!
i makanan pun, Cina melakukan serangan balik dengan melarang p!
roduk ma
kanan AS membanjiri pasar mereka. Hebatnya lagi, Indonesia kena imbas langsung atas perseteruan ini. Perebutan ladang-ladang minyak dan gas dunia pun ikut menghangatkan kemesraan hubungan Cina- AS. Perusahaan-perusahaan minyak Cina seperti CNOOC dan PetroChina terus melakukan ekspansi ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Mereka tidak hanya membeli, mengakuisisi perusahaan yang sudah ada (existing oil company), tapi juga ikut tender pengeloaan wilayah kerja migas. Sejumlah perusahaan minyak Barat, termasuk di Indonesia, telah mereka beli. Cina sangat menyadari arti penting penguasaan emas hitam ini bagi upaya negeri itu menggapai mimpi menjadi negara ekonomi terbesar di dunia. Industrialisasi tanpa minyak adalah tidak mungkin bisa dicapai. Dan Cina pun menyebar ke seluruh inti wilayah kerja minyak untuk bisa mengatur ekonomi global, keamanan dunia, dan kemakmuran rakyatnya. 'Perang dagang' RI-Cina Salah satu produk makanan AS yang diboikot Cina itu ternyata diproduksi di !
Indonesia, yakni milik perusahaan Arnott's. Dengan demikian, Cina tidak saja melarang masuknya produk perikanan dari Indonesia, tapi kini melebar lebih jauh lagi ke makanan ringan siap saji. Tentu saja, Cina bukan tidak tahu bahwa produksi makanan itu dilakukan di Indonesia, dan ini semakin memanaskan hubungan ekonomi Indonesia-Cina, setelah AS-Cina. Merahnya tensi persaingan merebut sumber-sumber energi dunia pun ikut memasukkan Indonesia ke dalam konflik bilateral AS-Cina. Perusahaan-perusahaan multinasional AS yang beroperasi di Indonesia merasa khawatir atas ekspansi tersebut yang tentu saja bisa mempengaruhi penguasaan kartel mereka atas pasar minyak dunia. Pemerintah AS pun tampak tidak bisa tidur nyenyak atas perkembangan yang terjadi jika alurnya seperti itu. Jika saat ini OPEC saja masih menjadi duri dalam daging pengaturan produksi dan harga minyak mentah dunia, maka pada saatnya nanti Cina bisa menjadi ancaman yang sama, seperti Rusia tentunya. Lihat saja, Cina !
sudah memiliki ladang minyak di Asia, Afrika, dan Amerika. Mer!
eka juga
begitu intensif berinvestasi di bisnis listrik di mana dukungan dana yang mengalir seolah tak pernah henti. Nah, soal duit yang sepertinya mengalir terus bagai bah ini pun menjadi ketakutan tersendiri bagi Barat (AS). Dengan uang yang besar, Cina tidak hanya mampu mengeluarkan miliaran dolar AS untuk investasi di sektor energi dan pertambangan di Indonesia, tetapi juga mampu masuk ke sektor-sektor lain yang 'penting' yang selama ini dikuasai AS. Sebut saja, sektor keuangan dan perdagangan. Secara tegas, Pemerintah AS mengritik kebijakan perluasan pasar Cina yang terlalu mudah memberikan dana besar bagi negara-negara berkembang, termasuk yang mereka lakukan di Afrika. AS menuduh Cina ingin mengatur politik global dengan memanjakan negara-negara ketiga dan miskin dengan uang yang mereka miliki. Tidak heran jika ada kepentingan kuat untuk membuat panas hubungan dagang RI dengan Cina. Friksi perdagangan Indonesia Cina dimulai ketika Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM)!
melakukan razia terhadap sejumlah produk kosmetik dan makanan Cina. Dari pemeriksaan 39 jenis produk Cina seperti permen, manisan, dan buah kering yang diambil sampelnya dan diuji, tujuh produk dinyatakan positif mengandung formalin. Juga, 26 merek kosmetik yang beredar, termasuk produk Cina, dinyatakan mengandung bahan berbahaya yang dilarang penggunaannya oleh Departemen Kesehatan RI. Zat berbahaya yang ditemukan antara lain merkuri (Hg) atau lebih dikenal sebagai air raksa, yang penggunaannya sebagai krim pemutih bisa menyebabkan iritasi kulit. Dalam dosis tinggi, zat ini merusak saraf otak. Pemerintah RI, melalui Wapres Jusuf Kalla, secara tegas menyatakan tidak ada perang dagang antara Indonesia dan Cina. Konflik yang terjadi saat ini hanya bagian biasa yang bisa muncul kapan saja dalam dunia bisnis. Pemerintah Cina juga menganggap hal yang sama, dan akan menyelesaikan persoalan tersebut melalui komisi perdagangan yang dibentuk. Indonesia memang harus menghindari pera!
ng dagang dengan negara besar seperti Cina, mengingat fundamen!
tal ekon
omi mereka yang jauh lebih perkasa dibandingkan kita. Perang dagang, sama halnya seperti perdagangan bebas, akan lebih menguntungkan negara-negara lebih besar dan kuat secara ekonomi. Kita sendiri pun harus sangat hati-hati menanggapi friksi perdagangan yang terjadi saat ini. Apakah betul itu murni terjadi begitu saja, atau ada kekuatan lain yang menggerakkannya yang tidak suka dengan terus mesranya hubungan ekonomi Indonesia-Cina. Apa yang sudah disampaikan pemerintah merupakan cermin bagus bagaimana kita bersikap dingin saja atas konflik ini.
( )
No comments:
Post a Comment