Cari Berita berita lama

Masih Rendah, Konsumsi Daging Ayam di Indonesia

Kamis, 18 Juli 2002.
Masih Rendah, Konsumsi Daging Ayam di IndonesiaNusa Dua, Bali, 18 Juli 2002 11:06Konsumsi daging ayam perkapita masyarakat Indonesia masih rendah, yaitu baru empat kilogram/tahun, padahal idealnya 12 sampai 14 kilogram.

Achmad Dawami, Sekjen Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia (GaPPI) mengemukakan hal tersebut, disela-sela pameran dan forum Indolivestock & Indofisheries 2002 di kawasan wisata Nusa Dua, Kabupaten Badung, Kamis.

Menurut dia, masih rendahnya konsumsi daging ayam tersebut, merupakan peluang bagi masyarakat untuk berkiprah dalam usaha peternakan ayam, baik dalam skala kecil, menengah maupun besar.

Jumlah peternak ayam, khususnya jenis boiler di Indonesia kini berkisar 80 hingga 100 ribu, mulai skala ternak 1000-an hingga yang ratusan bahkan jutaan ekor.

Sementara produksi daging ayam potong nasional kini mendekati 900 juta ekor/tahunnya, berarti untuk memenuhi konsumsi ideal perkapita bisa dinaikan tiga sampai empat kali lipat.

"Produksi sekarang digenjot lagi sampai naik tiga kali lipat sekalipun, tetap akan terserap pasar," ujarnya menegaskan.

Mengenai tenaga kerja terserap di industri ternak ini, Dawami yang juga Wakil Ketua GPPU (gabungan perusahaan pembibitan unggas), menuturkan bahwa saat ini sekitar 2,5 juta jiwa, mulai peternak, produsen pakannya hingga penjual besar sampai tingkat pengecer di pasar dan rumah tangga.

Selain potensi ternak ayam yang belum digarap optimal, peluang lain terkait yaitu industri pakan ternak yang hingga kini sekitar 40 persen bahan bakunya masih impor.

Ia menjelaskan, bahan baku yang masih harus impor dan sebenarnya bisa dipasok dari dalam negeri antara lain jagung, tepung ikan dan tepung daging serta kedelai.

"Produksi pakan ternak nasional setiap tahun sekitar 6,5 juta ton. Bahan bakunya ironisnya masih 40 persen impor, yang sebenarnya bisa dipenuhi produk dalam negeri," ungkapnya.

Untuk itu, ia berharap, agar pemerintah mengeluarkan kebijakan yang kondusif agar mendukung masyarakat mengembangkan industri pakan dan ternak secara optimal lagi, karena peluangnya masih sangat besar.

"Jangan sebaliknya, kini sedang digodok Peraturan Pemerintah tahun 2002 yang antara lain akan mengenakan pajak (PPN) 10 persen bagi produk ternak. Ini bukan mendukung dunia usaha perunggasan, tapi justru `menekan`. Kami berharap PP itu tidak jadi," ucapnya sambil tersenyum. [Tma, Ant]

No comments:

Post a Comment